Dari Pontianak, GreenFaith Indonesia dan Pemuda Lintas Iman Serukan Keadilan Iklim

Klikhijau.com — Krisis iklim bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan persoalan moral dan kemanusiaan yang menuntut tanggung jawab bersama lintas agama dan generasi. Kesadaran inilah yang menggera...

Dari Pontianak, GreenFaith Indonesia dan Pemuda Lintas Iman Serukan Keadilan Iklim
Bacakan Artikel

“Kemanusiaan modern telah meninggalkan langit, meninggalkan nilai spiritual. Akar kerusakan lingkungan ada pada kedangkalan iman dan hilangnya kesadaran akan kesucian alam,” lanjutnya.

Parid juga menyinggung Dokumen Al-Mizan, panduan Islam global tentang etika lingkungan yang menolak pandangan antroposentrisme—pandangan bahwa manusia adalah pusat segalanya.

Ekoteologi: Iman yang Bertindak

Melalui sesi Diskusi dan Sharing Ekoteologi, para peserta menggali dalil, kisah, dan praktik baik dalam tradisi masing-masing agama tentang merawat alam. Mereka menemukan benang merah yang sama: bumi bukan milik manusia, melainkan titipan yang harus dijaga bersama. Dalam sesi ini, peserta dibagi ke dalam kelompok untuk berdiskusi, difasilitasi oleh Syahrul Ramadhan, Circle Manager GreenFaith Indonesia.

Kegiatan kemudian berlanjut dengan Rencana Aksi Rumah Ibadah Ramah Lingkungan (Eco-House of Worship). Setiap kelompok agama merumuskan gagasan nyata untuk diterapkan di tempat ibadah masing-masing — mulai dari pengelolaan sampah, pengurangan konsumsi listrik berbasis batu bara, hingga kampanye hidup sehat dan rendah karbon.

Kegiatan pelatihan di Pontianak diikuti 28 pemuda lintas iman yang mewakili tujuh kelompok agama dan organisasi besar di Indonesia: Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, Khonghucu, dan Islam - dari organisasi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.

Gerakan Global, Aksi Lokal

GreenFaith sendiri merupakan gerakan lintas iman global yang berdiri sejak 23 tahun lalu di New York. Kini, GreenFaith telah hadir di 11 negara dari empat benua yakni benua Afrika yang meliputi Ghana, Kenya, Tanzania, dan Uganda, dua dari benua Amerika (Brazilia, Amerika Serikat), tiga dari benua Asia 3 (Indonesia, Jepang, Korea Selatan), dan benua Eropa (Belanda, Prancis, Jerman), dengan jaringan akar rumput di lebih dari 40 negara.

Di Indonesia, GreenFaith berfokus pada pendidikan lingkungan berbasis iman, advokasi keadilan iklim, serta kampanye transisi energi yang berkeadilan. Melalui pelatihan semacam ini, GreenFaith berupaya menumbuhkan kepemimpinan muda lintas iman yang berpihak pada bumi dan sesama makhluk hidup.

“Pertemuan ini tidak akan berarti apa-apa bila berhenti di ruangan ini,” tegas Hening Parlan menutup kegiatan.

“Keadilan iklim harus dimulai dari langkah kecil: dari rumah ibadah, dari komunitas, dari diri kita masing-masing. Inilah bentuk ibadah sejati bagi bumi.”

Krisis iklim adalah panggilan moral yang menyatukan seluruh umat beriman. Pelatihan di Pontianak menjadi momentum penting bagi lahirnya jejaring pemuda lintas iman yang siap menjadi pelopor perubahan: menjadikan rumah ibadah lebih hijau, gaya hidup lebih berkelanjutan, dan iman yang tak berhenti di doa, melainkan hadir dalam tindakan nyata.

Dari Pontianak, suara moral lintas iman kini bergema: bumi adalah rumah bersama, dan menjaganya adalah bentuk tertinggi dari keadilan.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2