Cerita Terbaru Inovasi Daun Kelor dari Siswi SMK di Banjarnegara
Klikhijau.com - Inovasi daun kelor terus menggeliat. Sehingga ungkapan, "Dunia ini tak selebar daun kelor," yang sering kita dengar bisa saja meredup. Sebab banyak daun lebih kecil dari tanaman berna...
Klikhijau.com - Inovasi daun kelor terus menggeliat. Sehingga ungkapan, "Dunia ini tak selebar daun kelor," yang sering kita dengar bisa saja meredup. Sebab banyak daun lebih kecil dari tanaman bernama latin Moringa oleifer itu.
Kelor yang masuk dalam suku Moringaceae menurut berbagai penelitian memiliki segudang khasiat bagi kesehatan. Meski ada beberapa daerah di Indonesia yang pantang memakan daun kelor.
Namun, ada pula daerah yang menjadikan kelor sebagai sesuatu yang harus dikonsumsi, semisal di Nusa Tenggara Timur (NTT), Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskoda menjadikan mengonsumsi kelor sebagai salah satu syarat pernikahan.
“Jadi kalau ada yang mau menikah. Para perempuannya harus makan kelor. Kalau mereka tidak makan kelor maka mereka tidak dapat restu dari pihak gereja,” ungkap Viktor.
[irp]
Di Desa Baturappe, salah satu desa di dataran tinggi Kabupaten Gowa, mengolah daun kelor menjadi berbagai jenis olahan makanan, mulai dari bakso hingga puding kelor. Bahkan di desa tersebut sudah dibuka kebun kelor.
Dan kabar terbaru mengenai kelor datang dari siswi Jurusan Farmasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) HKTI 1 Klampok Purwareja, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.
Para siswi itu mengolah daun kelor menjadi minuman dan makanan ringan. Mereka melakukan inovasi membuat kelor tidak hanya menjadi candaan "tak selebar daun kelor".
Daun kelor di tangan siswi tersebut dilebarkan menjadi teh tarik, cokelat dan aneka kue kering. Daun kelor yang kaya antioksidan diyakini baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
Karena mengonsumsi daun kelor bisa meningkatkan daya tahan tubuh, maka diyakni bisa pula menjadi penangkal virus corona yang kini membuat dunia panik untuk mengatasinya.