Klikhijau.com – Aksi kreatif yang menyulap eceng gondok (Eichornia crassipes) menjadi kerajinan berharga memang mulai menggeliat di mana-mana. Di Makassar, seorang perempuan bernama Rahmawati (25) men...
Klikhijau.com – Aksi kreatif yang menyulap
eceng gondok (Eichornia crassipes) menjadi kerajinan berharga memang mulai menggeliat di mana-mana. Di Makassar, seorang perempuan bernama Rahmawati (25) menghasilkan aneka karya mentereng berbahan eceng gondok.
Semua bermula dari keprihatinan atas pertumbuhan
eceng gondok yang massif dan merajai kanal-kanal di Kota Makassar. Rahmawati misalnya, rumahnya persis bersinggungan dengan kanal di bilangan Batua Raya. Di sanalah
Eichornia crassipes seperti raja air yang membuat aliran air di kanal seolah berhenti.
Ide membuat kerajinan tangan dilakukan pertama kali oleh Rahmawati dari tahun 2016. Ia terinspirasi dari pengrajin di Yogyakarta yang lebih dulu telah menghasilkan karya-karya menarik dari gulma perairan ini.
“Saya melihat kreativitas yang sudah ada. Jadi, saya juga merasa tertantang bagaimana memanfaatkan tanaman hama yang tidak berguna menjadi sesuatu yang bernilai jual tinggi,” tutur Rahmawati.
[irp]
Aneka kerajinan tangan
Pada tahun 2016, ia pun mengikuti pelatihan membuat kreasi dari eceng gondok di salah satu hotel di Makassar yang diadakan suatu komunitas. “Mentornya kebetulan dari Yogyakarta yang sudah berpengalaman. Di situ saya belajar banyak sampai bisa,” katanya.
Setelah pelatihan, Rahmawati terus mengembangkan dirinya. Tidaklah sulit dan tanpa kendala berarti, sebab bahan baku utamanya ia dapatkan secara cuma-cuma.
“Modalnya tidak banyak, karena hanya memerlukan eceng gondok yang gratis dan peralatan yang dibutuhkan seperti gunting dan mall kayu,” kisah Rahmawati.
Dari tangan terampilnya ia berhasil membuat aneka kerajinan seperti tas, topi, lapisan kursi, dan berbagai macam lainnya yang tentunya berbahan dasar eceng Gondok.
[caption id="attachment_17912" align="alignnone" width="480"]
Karya kerajinan andalan Rahmawati berbahan eceng gondok - Foto/Ist[/caption]
Rahma berkisah, sebelum diolah atau dibentuk, eceng gindok terlebih dahulu dikeringkan selama empat hari hingga satu minggu. Bila sudah mengering optimal, lalu dibasahi kembali untuk memudahkan dirajut.
[irp]
Demi mengembangkan skillnya, Rahmawati kembali mengikuti pelatihan pada tahun 2019. Tahun ini, ia pun masih berencana ikut pelatihan untuk memperluas pengetahuan dan kecakapannya.
Sejauh ini, Rahmawati mengaku hanya berlima yang mampu mengaplikasikan ilmu yang didapat dari pelatihan. Di wilayah tempat tinggalnya sendiri, ia melihat antusias warga masih kurang menggeluti kerajinan eceng gondok.
Potensi ekonominya besar
Padahal, potensi ekonomi dari hasil kerajinan tangan berbahan tanaman gulma ini sangatlah lumayan. Buah tangan Rahmawati misalnya dijual paling murah Rp 5000 untuk gantungan kunci dan Rp 800 ribu untuk produk kursi jamur dan tikar bulat.
Peminat hasil karyanya memang masih terbatas yakni dari Dekranasda. Namun, Rahmawati optimis kreativitas yang dilakukannya punya prospek pasar yang baik ke depannya.
“Saya berencana membuat komunitas agar produk yang kami hasilkan dapat dibuat lebih banyak lagi agar bisa memenuhi pesanan,” katanya.
[irp]
Untuk pengembangan kreativitasnya, Rahmawati juga rajin melihat karya-karya komunitas lain di Facebook dan Instagram. Ia berharap, karya-karyanya dapat diterima ke depannya sebagai sebuah karya kreatif yang ramah lingkungan.
“Harapan saya, karya kami bisa dikenal, diberi semangat. Diberi peluang untuk dapat dipasarkan ke luar kota Makassar agar kami bisa semakin berkembang,” tuturnya.
Ketua RT 9, RW 7 Kelurahan Batua, Kecamatan Manggala Makassar, Mustafa mengatakan, masyarakat di lingkungannya memang belum sepenuhnya paham cara pengelolaan eceng gondok. Ia menuturkan, betapa gulma ini hanya menjadi pemandangan sehari-hari yang secara berkala dibersihkan oleh pemerintah bila sudah terlalu banyak.
"Bila sudah dekat musim penghujan akan ada alat berat di sini untuk mengangkat semua eceng gondok," tuturnya.
Mustafa mengaku senang bila ada penawaran pelatihan untuk membantu masyarakatnya memanfaatkan eceng Gondok.
"Daripada hanya menjadi gulma, tentu sangat baik bila dijadikan sesuatu yang bermanfaat. Khususnya ibu-ibu yang ada di wilayah saya ini, jadi bisa punya kegiatan lain mengisi waktu dan ada tambahan penghasilan," pungkasnya.
[irp]