Cerita Pengolahan Pangan Berbahan Mangrove di Raja Ampat

Klikhijau.com - Pengolahan Mangrove sebagai sumber pangan lokal bukanlah hal baru bagi masyarakat pesisir di Raja Ampat. Pada webinar yang digelar KlikHijau, Jum’at (2/5/2025) bertajuk “Perhutanan Sos...

Cerita Pengolahan Pangan Berbahan Mangrove di Raja Ampat
Bacakan Artikel

[irp]

Dari pemetaan partisipatif ini, bisa ditemukan bahwa ternyata pengelolaan sumber daya wilayah pesisir, ekosistem Mangrove lebih banyak dilakukan oleh kelompok perempuan. Bahkan sampai 80-90% yang mengelola pemanfaatan Mangrove adalah perempuan. Ini membantah anggapan umum bahwa laki-laki lah yang lebih dominan dalam pemanfaatan sumber daya pesisir.

“Kondisi ini membuka ruang diskusi baru. Bagaimana memperkuat posisi perempuan dalam rantai ekonomi lokal berbasis pengelolaan Mangrove. Ketika bicara pengelolaan sumber daya alam dan kampanye lingkungan, tentu harus diiringi dengan upaya membangun kekuatan ekonomi bagi perempuan. “Karena itu kami mendorong pengolahan produk Mangrove sebagai pangan lokal,” jelas Stevanus.

Mangrove mungkin baru menjadi topik hangat di banyak tempat di Indonesia akhir-akhir ini, khususnya dalam wacana pengembangan produk makanan dari Mangrove.

“Namun, bagi masyarakat Papua khususnya suku Biak yang tinggal di wilayah pesisir, pengelolaan Mangrove bukanlah hal baru. pengelolaan mangrove atau pemanfaatan mangrove sudah mereka lakukan sejak abad-14. Artinya bagi orang Papua, Mangrove sudah mereka konsumsi di abad-14,” ungkapnya.

Mangrove, bersama sagu dan sorgum (gandum Papua), menjadi bekal utama dalam pelayaran masyarakat Papua di masa lampau. Salah satu jenis Mangrove yang dikonsumsi adalah Bruguiera gymnorrhiza, yang dalam bahasa lokal disebut Aiwon. Diolah dengan teknik sederhana melalui perebusan, perendaman, dan pengeringan, tapi secara ketahanan pangan, itu bisa bertahan sampai 10-15 tahun.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: