Burung Bisa “Menganggur” sebagai Penjaga Kestabilan Ekosistem karena Ulah Manusia

Klikhijau.com - Banyak tumbuhan yang seolah menumbuhkan dirinya sendiri. Tidak ada yang menanamnya. Namun, bisa tumbuh dengan subur. Pun pada tempat yang kadang tidak terduga. Hal tersebut bisa saj...

Burung Bisa “Menganggur” sebagai Penjaga Kestabilan Ekosistem karena Ulah Manusia
Bacakan Artikel

Ekosistem alami biasanya memiliki beberapa spesies yang menjalankan masing-masing tugas ini. Hal itu merupakan sebuah pengaturan yang dikenal sebagai redundansi fungsional. Ketika satu spesies menurun, spesies lain dapat menggantikannya. Hal ini bertindak sebagai asuransi bagi ekosistem.

Tim peneliti menggunakan simulasi kepunahan berbasis komputer untuk memahami apa yang terjadi ketika sistem cadangan ini menghilang.

Thomas Weeks adalah mahasiswa Ph.D. di Departemen Ilmu Hayati di Imperial College London dan penulis utama laporan tersebut mengatakan, penurunan keanekaragaman burung setelah perubahan penggunaan lahan sudah diketahui secara luas, tetapi hingga saat ini, secara umum diperkirakan bahwa cukup banyak jenis burung yang bertahan hidup sehingga ekosistem yang terdegradasi tersebut dapat terus berfungsi sebagaimana mestinya.

“Analisis kami menantang gagasan tersebut dengan menunjukkan bahwa manusia memodifikasi lanskap dengan cara yang cenderung menghilangkan semua kelonggaran dalam sistem, yang berarti bahwa guncangan lingkungan apa pun di masa mendatang berpotensi menyebabkan runtuhnya layanan penting yang disediakan oleh satwa liar,”  kata Weeks

Penulis lainnya, Profesor David Edwards mengatakan bahwa beragam spesies burung memainkan peran kunci dalam mendukung ekosistem yang kita andalkan, namun kita justru merusak kualitas habitat dan potensi spesies untuk menjalankan peran pentingnya.

“Sudah saatnya kita melakukan lebih banyak upaya untuk melindungi masa depan keanekaragaman hayati," ujarnya.

Studi ini juga menyoroti isu sensitif. Sekalipun jumlah total spesies tetap cukup tinggi, hilangnya redundansi fungsional membuat ekosistem menjadi rapuh.

Pola ini muncul di hutan tropis, padang rumput, dan bahkan wilayah kutub. Ketika banyak spesies tidak lagi berbagi tugas utama, satu guncangan tak terduga dapat memicu keruntuhan yang cepat.

Tim ini memanfaatkan informasi detail tentang setiap spesies burung. Mereka meneliti pola makan, ukuran tubuh, bentuk paruh, dan bentuk sayap untuk memahami bagaimana setiap spesies berkontribusi terhadap fungsi ekologis.

Desain penelitian ini memungkinkan para peneliti untuk menyelidiki peran mana yang hilang terlebih dahulu ketika terjadi pergeseran penggunaan lahan.

Mereka menemukan bahwa habitat yang berubah menjadi lebih sederhana, didominasi oleh burung-burung yang menempati relung serupa. Setelah ini terjadi, ekosistem kehilangan kedalaman dan fleksibilitasnya.

"Dengan semakin cepatnya perubahan tata guna lahan di seluruh dunia, studi kami menyoroti urgensi pengelolaan dan pelestarian keanekaragaman hayati untuk memastikan ekosistem di masa depan terus berfungsi dengan cara yang mendukung kehidupan manusia dan stabilitas ekonomi," pungkas Profesor Joseph Tobias, seorang ahli di bidang Keanekaragaman Hayati dan Ekosistem.

.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2