Berkenalan dengan Akasia, Pohon Kenangan yang Kembali Diidamkan

Klikhijau.com – Akasia (Acacia mangium Willd), pohon kenangan ini hanya saya jumpai di masa kecil di kampung saat masih duduk di Sekolah Dasar di tahun 90-an. Bila tak salah ingat, ada tiga pohon akas...

Berkenalan dengan Akasia, Pohon Kenangan yang Kembali Diidamkan
Bacakan Artikel

Sampai dengan tahun 2005, diperkirakan ada sekitar 1.300 spesies mangium di seluruh dunia. Sekitar 960 dari mereka adalah flora asli Australia, sisanya tersebar di daerah tropis ke daerah hangat dan beriklim sedang seperti di Eropa, Afrika, Asia Selatan dan Afrika Selatan.

Di Indonesia, pohon ini disebut juga mangga hutan, tongke hutan (Seram), nak (Maluku), laj (Aru), dan jerri (Irian Jaya) (Turnbull 1986). Nama lokal di negara lain: black wattle, brown salwood, hickory wattle, mangium, sabah salwood (Australia, Inggris); mangium, kayu SAFODA (Malaysia); arr (Papua Nugini); maber (Filipina); zamorano (Spanyol); dan kra thin tepa, krathinthepha (Thailand) (Hall dkk. 1980, Turnbull 1986).

Bagaimana akasia beradaptasi?

Pohon mangium pada umumnya besar dan bisa mencapai ketinggian 30 m, dengan batang bebas cabang lurus yang bisa mencapai lebih dari setengah total tinggi pohon.

Jenis mangium tumbuh secara alami di hutan tropis lembap di Australia bagian timur laut, Papua Nugini dan Kepulauan Maluku kawasan timur Indonesia (National Research Council 1983).

Mangium dapat beradaptasi dengan baik pada berbagai jenis tanah dan kondisi lingkungan. Mangium dapat tumbuh cepat di lokasi dengan level nutrisi tanah yang rendah, bahkan pada tanah-tanah asam dan terdegradasi (National Research Council 1983).

Jenis ini tumbuh baik pada tanah laterit, yaitu tanah dengan kandungan oksida besi dan aluminium yang tinggi (Otsamo 2002).

Meskipun demikian, jenis ini tidak toleran terhadap naungan dan lingkungan salin (asin). Di bawah naungan, mangium akan tumbuh kerdil dan kurus (National Research Council 1983).

Jenis ini merupakan jenis pionir yang dapat meregenerasi secara alami di lokasi yang sudah terganggu. Gunn dan Midgley (1991) melaporkan bahwa mangium tumbuh secara melimpah di hutan-hutan pasca terjadinya gangguan, di sepanjang jalan dan bekas-bekas peladangan berpindah di Indonesia dan Papua Nugini.

Jenis mangium biasanya ditemukan di daerah dataran rendah beriklim tropis yang dicirikan oleh periode kering yang pendek selama 4 bulan (Eldoma dan Awang 1999). Jenis ini dapat tumbuh pada ketinggian di atas permukaan laut sampai ketinggian 480 m. Meskipun demikian, mangium dapat tumbuh

Karakteristik dan manfaatnya

Karakteristik Kayu Kayu gubal mangium tipis dan berwarna terang. Kayu terasnya berwarna agak coklat, keras, kuat, dan tahan lama pada ruangan yang berventilasi baik, meskipun tidak tahan apabila kontak dengan tanah (National Research Council 1983).

Serat kayunya lurus hingga bertautan dangkal; teksturnya agak halus sampai halus dan seragam. Kerapatan kayunya bervariasi dari 450 sampai 690 kg/m3 dengan kadar air 15%.

Tingkat penyusutan cukup rendah sampai moderat sebesar 1,4–6,4% (Abdul-Kader dan Sahri 1993). Berat jenis kayu dari tegakan hutan tanaman umumnya berkisar antara 0,4 dan 0,45 sedangkan yang dari tegakan alam sekitar 0,6 (National Research Council 1983).

Kegunaan Kayu mangium dapat digunakan untuk pulp, kertas, papan partikel, krat, kepingan-kepingan kayu serta sebagai bahan baku meubel. Selain itu juga berpotensi untuk kayu gergajian, molding, mebel dan vinir.

Kayunya juga dapat digunakan untuk kayu bakar dan arang. Daunnya dapat digunakan sebagai pakan ternak. Cabang dan daun-daun kering yang berjatuhan dapat digunakan untuk bahan bakar.

Penggunaan nonkayu meliputi bahan perekat dan produksi madu. Serbuk gergajinya dapat digunakan sebagai substrat berkualitas bagus untuk produksi jamur yang dapat dimakan (Lemmens dkk. 1995).

Pohon mangium juga dapat digunakan sebagai pohon penaung, ornamen, penyaring, pembatas dan penahan angin, serta dapat ditanam pada sistem wanatani dan pengendali erosi (National Research Council 1983).

Jenis ini banyak dipilih oleh petani untuk tujuan peningkatan kesuburan tanah ladang atau padang rumput. Pohon mangium mampu berkompetisi dengan gulma yang agresif, seperti alang-alang (Imperata cylindrica); jenis ini juga mengatur nitrogen udara dan menghasilkan banyak serasah, yang dapat meningkatkan aktivitas biologis tanah dan merehabilitasi sifat-sifat fisika dan kimia tanah (Otsamo dkk. 1995).

Pohon ini juga dapat digunakan sebagai penahan api karena pohon berdiameter 7 cm atau lebih biasanya tahan terhadap api (National Research Council 1983).

Itulah perkenalan singkat mengenai akasia (Acacia mangium Willd), pohon kenangan yang kini dirindukan kembali. Semoga bermanfaat!

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2