Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Bercocok Cinta di Gelombang

tibalah daun itu pada kuncupnya. tebarkan hijau. tandai waktu kita berjalan terus ke rawa-rawa benamkan kaki dalam lumpur kita berkejaran ke laut, membaurkan asin keringat kita terus saja berjalan...

Oleh Irhyl 01 Sep 2019 03:43 2 menit baca
tibalah daun itu pada kuncupnya. tebarkan hijau. tandai waktu kita berjalan terus ke rawa-rawa benamkan kaki dalam lumpur kita berkejaran ke laut, membaurkan asin keringat kita terus saja berjalan kadang tanpa alas kaki tanpa payung dalam hujan ….senyummu bulan sabit….. ….langkahmu pohon-pohon berakar serabut-kokoh.. ….matamu hijau teduh…. kini kau berjalan cukup jauh ke belantara-sendiri memupuk mimpi tentang sebuah lembah dengan bebungaan doa-doa aku tahu kau akan sampai lalu bercocok cinta di ladang waktu ……daun-daun menyentuh jidatmu-khusyuk …...air mengalir basuh kakimu…. ……gerimis turun sapu peluhmu… kau musim dalam musim langkahmu semakin jauh menuju gelombang kau tak juga membuang sauh kau penakluk gelombang di napasmu ada gemuruh pinisi pada lakumu ada tarian padduppa pada tuturmu ada sinrilik pakasalamak teruslah berjalan kita akan bertemu pada gelombang yang pasang ketika terik mengangkasa mengundang burung-burung berkicau daun-daun melambai ……hidup mesti terus bergerak ke depan… kini-sekarang kau kembali tiba pada daun yang menguncup di matamu …………….hijau penuh nostalgia…. sebuah tanda, usia tak pernah berhenti berjalan mendekat lalu menjauh benamkan kita dalam rawa-rawa ajari kita berjalan di gelombang ……..terus saja berjalan, karena berhenti berarti menyerah pada maut….. usiamu lalu usiamu kini usiamu nanti sebuah kisah yang terus bergerak dalam bumi, dalam alam yang terus kadokan kehidupan
Penulis lahir di Desa Kindang, Bulukumba
 
Topik terkait
#puisi #ekologi sastra #puisi lingkungan #sastra ekologis #sastra lingkungan #idris makkatutu