Berbasis Data Terbaru, Kemenhut Perkuat Kolaborasi Konservasi Orangutan Sumatera dan Tapanuli

Klikhijau.com – Populasi Orangutan Sumatera dan Tapanuli tetap menjadi sorotan. Kedua satwa endemik Indonesia itu boleh dikatakan berada di ambang kritis. Agar kedua satwa ini tetap lestari, maka perl...

Berbasis Data Terbaru, Kemenhut Perkuat Kolaborasi  Konservasi Orangutan Sumatera dan Tapanuli
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Populasi Orangutan Sumatera dan Tapanuli tetap menjadi sorotan. Kedua satwa endemik Indonesia itu boleh dikatakan berada di ambang kritis. Agar kedua satwa ini tetap lestari, maka perlu memperkuat kolaborasi multipihak dalam mendukung upaya konservasi keduanya.

Bisa dibayangkan, berdasarkan hasil survei populasi periode 2021–2023, populasi Orangutan Sumatera (Pongo abelii) diperkirakan mencapai 11.694 individu. Sedangkan populasi Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) diperkirakan sebanyak 716 individu.

Hasil survei tersebut disampaikan langsung oleh Kementerian Kehutanan dalam kegiatan Seminar Nasional Refleksi Satu Dekade Konservasi Orangutan Sumatera dan Orangutan Tapanuli Secara Kolaboratif yang diselenggarakan di Hotel Aryaduta Medan, Sabtu (18/7).

Dengan adanya data tersebut, maka dapat menjadi dasar ilmiah dalam penyusunan kebijakan dan langkah konservasi yang lebih efektif, adaptif, dan berkelanjutan.

Orangutan Sumatera dan Orangutan Tapanuli merupakan satwa endemik Indonesia yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan tropis.

Sebagai keystone species, keduanya berperan dalam penyebaran biji yang mendukung regenerasi hutan serta menjaga keanekaragaman hayati. Oleh karena itu, keberadaan orangutan menjadi salah satu indikator penting kesehatan ekosistem hutan Indonesia.

Hasil survei tersebut berbicara banyak, itu menunjukkan adanya tantangan serius terhadap upaya pelestarian kedua spesies tersebut. Penurunan populasi Orangutan Sumatera dibandingkan baseline tahun 2011 serta tingginya kerentanan Orangutan Tapanuli di bentang alam Batang Toru menjadi pengingat bahwa upaya konservasi harus terus diperkuat melalui pendekatan berbasis ilmu pengetahuan, perlindungan habitat, penegakan hukum, serta kolaborasi lintas sektor.

Tanggungjawab bersama

Seminar nasional yang dihadiri Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki,  pejabat Kemenhut, Pemprov Sumatera Utara, pemkaberintah kabupaten/kota, akademisi, peneliti, mitra konservasi, mitra pembangunan, sektor swasta, insan pers, serta berbagai pemangku kepentingan itu memiliki perhatian yang sama terhadap pelestarian orangutan di Indonesia.

"Konservasi orangutan merupakan tanggung jawab bersama. Keberhasilannya hanya dapat dicapai melalui kolaborasi yang kuat antara pemerintah, akademisi, mitra konservasi, dunia usaha, dan masyarakat. Data ilmiah yang dihasilkan melalui survei ini menjadi landasan penting dalam menyusun kebijakan konservasi yang tepat sasaran," ujar Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki.

Ia juga menambahkan, pemerintah terus memperkuat perlindungan habitat, meningkatkan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi, serta mendorong sinergi berbagai pihak dalam menjaga keberlangsungan populasi Orangutan Sumatera dan Orangutan Tapanuli. Upaya tersebut sejalan dengan implementasi Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) 2025–2045 yang menempatkan perlindungan spesies dan keanekaragaman hayati sebagai prioritas nasional.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2