Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Literasi Lingkungan

Benteng Senggang, Potensi Kopi Terbesar Kedua di Bulukumba

Klikhijau.com - Perkampungan Benteng Senggang berada di Kelurahan Borong Rappoa Kindang yang juga merupakan salah satu wilayah ketinggian antara 1.200 hingga 1.500 MDPL. Wilayah terluar Kabupaten Bulu...

Oleh Anjar S. Masiga 04 Sep 2024 00:21 5 menit baca
Klikhijau.com - Perkampungan Benteng Senggang berada di Kelurahan Borong Rappoa Kindang yang juga merupakan salah satu wilayah ketinggian antara 1.200 hingga 1.500 MDPL. Wilayah terluar Kabupaten Bulukumba yang berbatasan dengan Kabupaten Bantaeng dengan potensi kopinya yang perlu perhatian bersama.
***
Membincangkan kopi Bulukumba, ingatan kita mungkin akan tertuju ke Kahayya sebagai single origin yang brandnya sudah dikenal luas dan kini mulai bersaing di pasar mancanegara. Namun potensi kopi di wilayah Kecamatan Kindang sebenarnya juga besar di wilayah Borong Rappoa. Pada pertengahan Juli 2024, penulis ikut merasakan serunya panen dan menikmati seduhan kopi di tengah kebun kopi. Benteng Senggang merupakan pedalaman yang masih terisolir dan minim fasilitas. Penduduk di sana memang tidak banyak. Jalannya  rusak, hanya bisa diakses motor dengan pengendara berpengalaman. Saya sendiri memilih yang lebih aman, yakni berjalan kaki. Setelah sampai, kita  disambut gapura dari bambu bertulis Benteng Senggang. Kira-kira di perkampungan ini hanya sekitar 30 rumah, kemudian terpisah ada satu perkampungan bernama Katimbang, hanya sekitar 7 rumah, rumah paling luar berbatasan dengan hutan dihuni perempuan parubaya bernama Daeng Aceh. Sekalipun hanya sedikit rumah tetapi perkebunan kopi sejauh mata memandang. Kata masyarakat menutupi kaki Gunung Lompo Battang itu sendiri, selain dari tanaman kayu. Satu kepala keluarga petani standarnya menggarap 1 hektare kebun, tetapi ada juga yang lebih. Bisa dibayangkan luasnya lahan pertanian kopi di sana. [irp] Suasana pagi di Benteng Senggang dengan kabut dan hujan gerimis namun warga tetap beraktivitas di luar ruangan, khususnya petani sibuk di kebun kopi mereka. Jaraknya ada yang dekat, hanya di belakang atau samping rumah mereka. Menurut Nopianto dan Suharpida, pasangan suami istri yang melakukan pendampingan di sana, banyak juga petani melewati tebing-tebing untuk sampai di kebun mereka. "Sebentar kita juga akan ke kebun yang jauh untuk memetik kopi, di kampung sebelah," jelas Nopi, sapaan akrab pria kelahiran 1994 itu sambil menunjuk ke tebing sebelah. Kami diberitahu untuk siaga dengan kemungkinan pacet atau lintah kecil karena jalur yang dilalui lembab dan juga melewati sungai. Kami membawa bekal ubi jalar, serta perlengkapan memetik seperti tas samping yang terbuat dari karung. Kami ditemani warga lokal dan juga anak-anak. Kami bergegas setelah menyantap pisang goreng. Jalan menuju kebun yang kami kunjungi semakin jauh semakin terjal. Sungai yang dilalui terdapat mesin pembangkit listrik tenaga micro hidro (PLTMH) yang menyuplai listrik warga khususnya di Katimbang. Disisi kiri dan kanan jalan pohon kopi dengan buahnya yang memerah, siap dipanen. "Ini biasanya sekali dipanen karena jaraknya jauh jadi petani juga repot kalau panennya berkali-kali," kata Nopi. [irp] Setelah 1 jam berjalan kaki, kami tiba di rumah kebun milik Saenal. Ada yang mempersiapkan karung untuk hasil petikan kopi, ada yang tinggal untuk memasak ubi. Kami hanya memetik ceri merah untuk mendukung peningkatan kualiras kopi. Dijelaskan ada beberapa varietas kopi yang sedang diidentifikasi seperti typica, lini s, kartika. Ini semua masuk dalam jenis arabica termasuk yello cattura yang konon adalah varietas arabica tertua. Secara umum petani hanya mengenal dua jenis yakni kopi bodo' (kopi pendek) untuk arabika dan kopi mere (kopi tinggi) untuk robusta. "Beberapa varietas kita coba kembangkan, jadi ada yang kita bikin indukan untuk memperbanyak," ungkapnya. Usai memetik, dilanjutkan dengan fun cupping bersama barista Litten Coffee, Erick menggunakan roastbean hasil panen sebelumnya.  Menikmati seduhan kopi di tempatnya dengan air dari mata air pegunungan langsung memang sensasinya berbeda. Rasanya, aromanya, dan suasananya sulit untuk dideskripsikan. Semua menyeruput jatah kopi tanpa sisa. Meskipun perkebunan kopi di sini luas tetapi belum menjamin kesejahteraan ekonomi mereka.  Harganya lesu, pembelian oleh tengkulak sangat rendah padahal kopi adalah sumber penghasilan utama bagi masyarakat. Selain karena ulah tengkulak, diakui Nopi, tantangannya karena masyarakat kurang mendapatkan edukasi dalam menjaga kualitas kopi. [irp] "Petani perlu didampingi, kalua kualitasnya pelan-pelan baik maka ekonomi petani bisa lebih baik. Sayang karena ini kebunnya luas dan mungkin ini penghasil kopi terbesar ke dua di Bulukumba," katanya.
Kondisi ekonomi masih mengkhawatirkan
Sekalipun memiliki kebun yang luas, namun sebagian besar petani terlilit utang direntenir membuat kondisinya ekonomi mereka makin tercekik. Misalnya peminjaman 1 juta, itu dibayar dengan kopi 7 kaleng, hitungannya mencapai 150 liter hanya untuk bunga utang. Ada juga yang meminjam sampai 25 juta dengan bayaran perpanen 600 kaleng. Jika tidak mampu membayar maka tanah yang jadi jaminan bisa melayang. "Kondisi ini seperti bola salju, makin lama makin besar. Ini yang menyiksa juga tapi masyarakat tidak punya banyak pilihan karena akses jalan tidak bagus sehingga sulit memasarkan dengan layak hasil pertaniannya,"sesalnya. [irp] Harga kopi sebelumnya hanya dikisaran 3,5 ribu per liter dalam bentuk ceri.  Pelan-pelan dengan pendampingan yang dilakukan Nopi mendorong naiknya harga kopi kini standarnya 5 ribu per liter dan kadang diharga 6 ribu hingga 6,5 ribu per liter. Kopi Benteng Senggang, ini tanaman penaungnya mendominasi alpukat, ada kayu manis, dan ada juga tanaman kayu yang menjulang tinggi dengan pohonnya yang dipenuhi buah bulat sejenis pohon loa.  Satu hectare kebun bisa ditumbuhi 500 pohon kopi, dengan perkiraan satu pohon bisa panen sampai 4 liter ceri. "Tanaman alpukat ini yang sebelumnya sulit karena akses jalan, sekarang kita bantu pemasaran. Dari Harga 5 ribu per kilogram sekarang sudah 10 ribu sampai 15 ribu per kilogramnya," lanjutnya. Potensi selain kopi ada madu hutan, rotan dan akar gantung. Hanya saja semua memang belum diolah secara optimal jadi harganya masih murah. Beberapa hasil kerajinan tangan dari rotan maupun akar gantung ini memang perlu pelatihan lebih sehingga hasilnya lebih rapi dan makin bervariatif. Melalui diskusi kopi itu, Nopi berharap akan banyak komunitas atau lembaga yang bisa berkolaborasi dalam membantu mendorong peningkatan SDM dan perekonomian masyarakat di sana. [irp]
Topik terkait
#kopi #bulukumba #potensi alam #petani kopi #harga kopi #benteng senggang #penghasil kopi