Banjir Melanda Kalimantan, Greenpeace Indonesia Menyorot Deforestasi yang Masif

Klikhijau.com – Greenpeace Indonesia menyorot banjir yang menerjang Kalimantan Selatan sebagai satu fakta yang erat kaitannya dengan deforestasi yang kian masif. Alih fungsi lahan terjadi juga tela...

Banjir Melanda Kalimantan, Greenpeace Indonesia Menyorot Deforestasi yang Masif
Bacakan Artikel

Khusus untuk Kalimantan, besaran paling luas yakni 12,8 juta hektar hutan yang dilepas untuk izin usaha. Angka itu terdiri dari 5,2 juta hektar untuk Hak Pengusahaan Hutan (HPH), 756 ribu untuk Hak Tanaman Industri (HTI), 642 ribu untuk perkebunan kelapa sawit dan 1,5 juta untuk tambang.

Juga ada 4,6 juta lahan hutan yang masih tumpang tindih antara izin untuk HPH, HTI, perkebunan kepala sawit dan tambang. Data ini belum termasuk area yang dikuasai oleh perhutani.

Guru besar dari Fakultas Kehutanan, Universitas Hasanuddin, Profesor Ngakan Putu Oka juga mengatakan, banjir terjadi karena penyebab yang kompleks, tetapi masalah tutupan lahan bisa saja jadi pemicu utamanya.

“Saya belum pernah melihat ada aliran permukaan di lantai hutan, kecuali di lantai hutan bekas kebakaran. Yang saya maksud ini tidak termasuk hutan dataran rendah luapan banjir (floodplain forest) yang biasanya ada di sekitar rawa-rawa pinggir sungai. Makanya saya selalu katakan, jika ada banjir bandang yang mendadak coba diperiksa di bagian hulu apakah tidak terjadi pembakaran lahan secara besar-besaran,” kata Oka.

Dampaknya

Kini, deforestasi yang masif juga berkontribusi terhadap terjadinya krisis iklim yang memicu adanya curah hujan ekstrem di musim penghujan. Curah hujan tinggi tentu akan berpotensi banjir besar, terlebih bila daya tampung air bermasalah.

Dampak dari deforestasi yang meluas tak hanya di Kalimantan, kini telah dirasakan dampaknya dalam skala nasional. Pada tahun 2000 tutupan hutan mencapai 106,4 juta hektar.

Lalu menurun menjadi 93 juta hektar di tahun 2009, 88,5 juta hektar tahun 2013 dan 82,8 juta hektar tahun 2017.

"Krisis iklim sudah terjadi. Itu ramalan IPCC (Intergovermental Panel on Climate Change) yang memproyeksi apa yang terjadi 50 tahun ke depan sudah di depan mata. Curah hujan semakin tinggi, itu faktor perubahan iklim," kata Arie.

Sejauh ini faktor pemicu krisis iklim ada beberapa faktor seperti pengelolaan sumber daya fosil, namun masalah penebangan hujan akan memperluas dampak perubahan iklim.

"Perubahan iklim di masa depan dapat memperluas daerah rawan banjir, khususnya pada skenario periode curah hujan berulang 5-10 tahun dan meningkatkan frekuensi banjir besar untuk periode ulang sekali dalam 10-25 tahun," tulis studi tersebut.

Sebelumnya, banjir terjadi di sejumlah daerah di Kalimantan Selatan. Ada 10 kabupaten/kota yang terdampak pada Minggu (17/1). Jumlah pengungsi mencapai 112.709 jiwa lantaran 27.111 rumah terendam banjir.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2