Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Kolom

Api yang Bersembunyi di Kedalaman Tanah

Oleh Ishak Andi Kunna 26 Aug 2026 23:31 7 menit baca

Klikhijau.com - Pada pukul dua lewat tujuh belas menit, pompa air masih bekerja. Suaranya berat dan berulang, seperti seekor binatang tua yang dipaksa terus bernapas. Tidak ada nyala api di sekelilingnya. Hanya asap putih yang keluar dari beberapa lubang kecil knalpot, melayang sebentar, lalu lenyap ke dalam gelap.

Tanah gambut mempunyai cara tersendiri untuk menyimpan sesuatu. Ia menyimpan air, karbon, juga menyimpan sisa tumbuhan sebagai biomassa. Tanah gambutpun menyimpan rekaman perjalanan waktu selama ratusan hingga ribuan tahun. Ketika mengering dan terbakar, ia akan menyimpan api dalam rentang waktu yang lama. Bara masuk ke dalam lapisannya, berjalan pelan mengikuti akar dan rongga tanah. Ia bergerak diam-diam tanpa perlu memperlihatkan dirinya kepada manusia.

Berbeda dengan saudaranya. Api di lahan mineral lebih mudah dipahami. Ia membakar rumput, semak belukar, serasah, ranting, dan kayu yang tampak permukaan. Lidah apinya terlihat, suara letupannya terdengar laksana tulang remuk. Tiupan angin menuntun langkah api, melaju cepat di padang savana dan cenderung melambat di kemiringan lereng. Meskipun berbahaya dengan kecepatannya, tetapi setidaknya ia tidak menyembunyikan wajahnya. Ia tidak berpura-pura.

Saya sering berhadapan dengannya. Api memiliki watak dan perilakunya sendiri. Kadang jadi kawan kadang jadi lawan. Tapi lebih sering kami berkawan dibanding bermusuhan. Itu juga berlaku bagi yang lain. Saya belum menemukan manuskrip tentang manusia yang tidak menggunakan api didalam keseharian. 

Seiring pengalaman bersamanya, di beberapa moment kami harus saling berlawanan, tepatmya medan hutan dan lahan. Pertemuan itu untuk saling meredam letupan amarah. Pikirku, ia butuh cairan bukan material bubukan apalagi padatan. Air mendinginkannya sedangkan bubukan secara perlahan menjadi amunisi tambahan untuk ia terus menyala. Tapi bukan berarti bubukan ini tidak diperlukan. Jika api masih kecil bubukan dapat menjadi alternatif untuk memutus lajunya. Sementara kami, dalam situasi itu, sangat butuh keduanya cairan dan padatan agar energi dan mental tetap terjaga. Itu hukumnya wajib.

Pada situasi kebakaran di lahan mineral, petugas memadamkan api yang sebagian besar bergerak di atas permukaan. Mata dapat mengenali kepala, sisi, dan ekor api. Pemadaman menjadi upaya mengejar sesuatu yang terlihat, kemudian memutus jalannya. Sedangkan, di lahan gambut, tanah bukan hanya tempat api berpijak. Tanah itu sendiri menjadi bahan bakar.

Santoso dan rekan-rekannya menyajikannya dalam artikel yang berjudul Laboratory study on the suppression of smouldering peat wildfires: Effects of flow rate and wetting agent. Mereka membedakan pembakaran menyala atau flaming combustion dengan pembakaran membara atau smouldering combustion. Pembakaran menyala bergerak cepat, bersuhu tinggi, dan mudah diamati. Sementara, pembakaran membara berjalan lebih lambat dan tidak selalu menghasilkan nyala, tetapi dapat bertahan dalam waktu yang panjang. Dapat disederhanakan bahwa pembakaran menyala terjadi di lahan mineral sedangkan pembakaran membara terjadi di tanah gambut. 

Penelitian tersebut dilakukan di laboratorium. Mereka menghasilkan kesimpulan bahwa pembakaran menyala dapat merambat sekitar 600 cm/jam dengan suhu mendekati 1.200°C. Pembakaran membara pada gambut bergerak sekitar 6 cm/jam dengan suhu sekitar 500°C. Di fase ini 6 centimeter per jam di lahan gambut terdengar seperti pergerakan lambat yang tidak berarti. Namun, perjalanan bara itu akan membakar akar pohon, menghasilkan kepulan asap, dan membuat sesak se-isi kota.

Untuk memadamkan gambut, petugas harus menemukan sesuatu yang sengaja disembunyikan oleh tanah. Asap dari permukaan tidak selalu menunjukkan letak kumpulan bara. Asap dapat bergerak melalui pori-pori dan keluar beberapa meter dari sumber panasnya. Karena itu, penyemprotan hanya pada titik yang berasap belum sepenuhnya sempurna. Mungkin, permukaan terlihat basah, tetapi pembakaran tetap aktif di bawahnya.

Pemeriksaan dapat dilakukan dengan membaca asap, mengukur atau merasakan suhu secara aman, serta menusukkan pipa besi penduga ke dalam tanah. Atau bisa juga dengan membongkar gambut untuk menemukan akar dan lapisan organik yang masih membara. Bagian yang terbakar dicacah, dipukul-pukul, disiram, dibalik, lalu diaduk hingga berlumpur dengan tujuan seluruh panas dilepaskan.

Pekerjaan tersebut tidak tampak dramatis. Tidak ada dinding api yang menjulang atau adegan kepahlawanan yang mudah direkam. Hanya orang-orang berlumpur, sesekali berlutut di atas arang tanah, mencari bara kecil sebelum ia kembali menjadi kebakaran besar. Barangkali pekerjaan paling penting memang sering berlangsung tanpa penonton.

Air pada kebakaran gambut tidak berhenti pada permukaan. Ia harus mencapai kedalaman tempat pembakaran berlangsung. Nosel injeksi dapat membantu mengalirkan air menuju lapisan bawah, tetapi alat itu bukan jawaban ajaib. Jika titik panas tidak ditemukan secara tepat, air dapat memilih rongga yang paling mudah dilalui dan meninggalkan bagian yang terbakar tetap kering. Ini jawaban kenapa pemadaman sistem injeksi cenderung lama, dan sulit rasanya belama-lama di tengah kepungan asap

Air, seperti manusia, cenderung memilih jalan yang paling ringan. Olehnya itu, injeksi harus disertai pemeriksaan titik panas, pembongkaran, dan pengadukan gambut. Tujuannya bukan membuat tanah terlihat basah, melainkan mengeluarkan panas yang tersimpan di dalamnya.

Ramadhan dan rekan-rekannya juga menulis artikel berjudul Experimental study of the effect of water spray on the spread of smoldering in Indonesian peat fires. Mereka menemukan bahwa penyemprotan dalam waktu singkat belum tentu menghentikan pembakaran gambut. Bara dapat kembali berkembang karena energi panas masih tertinggal di bagian dalam. Hilangnya asap dan nyala belum selalu berarti kebakaran telah berakhir. Inilah kesulitan dan tantangan sebenarnya di medan gambut. Tapi setidaknya, jika asap berkurang atau bahkan hilang maka kepanikan se-isi kota juga ikut hilang. Karena, asaplah yang membuat masyarakat, lini masa dan media mejadi ramai. Termasuk negara tetangga ikut-ikutan protes.

Kebutuhan air menjadi persoalan berikutnya. Santoso bersama kawan-kawannya kembali menemukan bahwa cairan yang secara efektif berkontribusi dalam pemadaman mencapai rata-rata kurang lebih 2,1 liter per 1 kilogram gambut. Berdasarkan ekstrapolasi laboratorium, pemadaman satu hektare kebakaran gambut dapat membutuhkan air kurang lebih satu juta liter. Jumlah sebenarnya tentu dipengaruhi oleh kedalaman api, kelembapan, porositas, ketebalan gambut, cuaca, serta air yang hilang sebagai limpasan. 

Saya pernah menghitung kebutuhan air dalam pemadaman, bukan di lahan gambut tapi di areal pemprosesan akhir. Saat itu kebakaran melahap 15 hektare TPA Jatiwaringin, Kabupaten Tanggerang. Jumlah air yang digunakan oleh Manggala Agni Kemenhut, Water Bombing BNPB, Petugas Damkar dan tim relawan lainnya berkisar 19 juta liter atau setara dengan 8 kolam renang standar olimpiade. Pemadaman berlangsung selama 13 hari, asap terkendali dan aktivitas warga terdampak kembali normal. Meskipun sesekali asap tipis kembali muncul dari bawah tumpukan sampah.

Angka itu setidaknya menjelaskan satu hal bahwa pompa saja tidak cukup. Harus ada sumber air yang mengalir secara kontinyu. Harus ada selang, bahan bakar mesin, akses, logistik, petugas dan relawan yang mampu bekerja dalam waktu lama. Pompa tanpa air hanyalah mesin yang membuat suara bising di tengah hutan. 

Hujan pun belum tentu menyelesaikan semuanya. Ini menarik, sebagaimana penelitian Lin dan rekan-rekannya dalam artikel yang berjudul Can rain suppress smoldering peat fire? Science of the Total Environment. Mereka berkesimpulan bahwa, dalam kondisi eksperimen, air dengan intensitas sekurang-kurangnya 4 mm/jam harus berlangsung sekitar 5 jam untuk menghentikan pembakaran gambut. Hujan singkat mungkin membersihkan udara dan menggelapkan permukaan tanah, namun jauh di kedalaman gambut, bara masih dapat menyimpan panas. 

Mungkin, seperti itulah cara riset bekerja, memberikan temuan-temuan sebagai sumber rujukan. Namun, hasil tersebut tetap memerlukan pengujian lapangan dan penilaian dilapangan. Ilmu pengetahuan tidak bekerja melalui keyakinan yang tergesa-gesa. Ia tumbuh dari pengujian, kesalahan, koreksi, dan pengujian kembali. Tapi setidaknya, bekerjalah dengan ilmu pengetahuan.

Dibutuhkan upaya pencegahan sedari dini. Gambut yang dijaga tetap basah merupakan benteng yang lebih kuat daripada armada yang datang setelah kebakaran meluas. Pengelolaan muka air, pembasahan kembali, perlindungan sumber air, patroli, deteksi dini, pelibatan masyarakat, dan penegakan hukum bukan pekerjaan tambahan. Semua itu merupakan inti pengendalian kebakaran.

Manusia sering lebih terpukau oleh air yang dijatuhkan dari langit daripada kanal yang perlahan mengeringkan gambut selama bertahun-tahun. Tindakan besar mudah difoto, sedangkan pencegahan bekerja dalam kesunyian dan jarang memperoleh tepuk tangan.

“Luana..api di kemiringan gunung dan hamparan savana mengajarkan kita tentang kemana angin berhembus dan bagaimana api menjalar. Sedangkan, api gambut memberikan pelajaran yang lebih sunyi. Kita sering membincangkan itu, bahwa tidak semua bahaya memperlihatkan wajahnya dan tidak semua kemenangan ditandai oleh hilangnya nyala. Ingatlah selalu, pekerjaan belum selesai..”

Parangloe, 26 Agustus 2026

Ishak Andi Kunna

Topik terkait
Hutan Tanah Gambut Air Api