Antang dan Orkestra Kemacetan di Pinggiran Kota Makassar

Klikhijau.com - Antang di pagi hari, laju kendaraan bergerak seperti seorang Lelaki: selalu waspada, tapi sesekali perilaku jantan tampil menonjolkan dirinya. Belum lagi parade klakson saling bersa...

Antang dan Orkestra Kemacetan di Pinggiran Kota Makassar
Bacakan Artikel
Wahdyuddin Yunus

Pendiri Jurnal Warung Kopi yang aktif sebagai pemerhati lingkungan sekaligus pegiat seni

Balang Tonjong hingga saat ini masih teramati, dengan tujuan area pemancingan meski mengalami pendangkalan dari waktu ke waktu.

Jika saja area ini dilakukan normalisasi, maka laju debit air ketika musim hujan tiba, Balang Tonjong bisa dipenuhi air yang cukup dalam. Sebagaimana tercipta kedalaman dalam memaknai Antang.

Dan kedalamamnya itu orang Makassar menyebutnya "Lantang atau Dalam". Dari cikal bakal nama Lantang kemudian diabadikan menjadi penamaan Kampung Antang, dalam rentang waktu kemudian menjadi nama kelurahan Antang.

Jejak Makam Lo’mo Riantang menjadi penanda lain dari nama Antang. Nama Kelurahan Antang diambil dari nama seorang Tokoh Agama Islam (ulama) yang di gelar Lo'mo. Tempat tinggal beliau dikenal dengan nama"Pammantanganna Lo'mo ka yang di singkat Lo'mo ka Riantang".

Dari tempat tersebut juga didapati Makam atau Pekuburan Lo'mo Riantang yang dijadikan situs atau tempat yang bersejarah. Dari rangkaian sejarah di atas, maka masyarakat setempat mengenal nama Kampung Antang yang sekarang ini di sebut Kelurahan Antang.

Kini wilayah Antang perlahan mulai disesaki sejumlah masalah. Dari pengelolaan sampah, banjir yang menjadi langganan, hingga kemacetan, menjadi potret keseharian bagi warga Antang. Sejak akhir tahun 2019, saya bersama keluarga menetap di wilayah ini.

Setiap hari dalam rutinitas antar jemput anak sekolah, mau tidak mau saya harus melalui jalan ini. Jalan Antang Raya. Drama kemacetan adalah drama kesempitan ruang  bagi laju kendaraan telah menjadi menu harian.

Drama kemacetan dalam 3 fase waktu

Derap laju dan lalu kendaraan yang menyemut di sini dapat dibagi dalam 3 fase waktu. Pertama, pukul 7 pagi hingga pukul 10. Jelang pukul 10, lajur arah kota padat. Sementara lajur ke arah perumnas perlahan mulai lengang.

Kedua, antara pukul 11.00 hingga pukul 14.00 kembali laju kendaraan merayap. Kondisi siang hari, mobilitas anak pulang dari sekolah ditambah truk-truk pengangkut batu dan pasir menambah sesak jalan.

Ketiga, waktu pukul 16.00 sampai pukul 19.00 wita. Waktu ini menjadi biang kemacetan saat pulang dari kerja di kantor. Pemandangan truk-truk kembali mewarnai jalan. Ditambah keberadaan truk pengangkut sampah menuju TPAS Tamangapa, untuk aktivitas pembongkaran.

Meski beberapa kendaraan kerap  memutuskan balik arah, demi menghindari kemacetan dan kesempitan waktu. Namun jelajah kesempitan ruang dengan nanar mengungkap apa yang hilang oleh waktu.

Potret kemacetan juga terganbar di depan pasar Antang. Setiap melewati jalan ini, saya harus mengatur ritme tekanan gas dan menginjak rem. Meski kadang tersendat oleh kubangan yang rusak. Seringkali menjadi kubangan air saat hujan.

Jalanan yang sempit dan volume kendaraan yang padat menjadi antrean panjang. Ditambah kemacetan terjadi akibat Jalan Antang Raya rusak parah di beberapa titik. Sesuatu yang khas dan sulit dihindarkan saat menemui jalan ini.

Orang-orang hanya bisa mengadu pada angin untuk selalu membalun saat pikiran membeku. Ia bisa saja menghela nafas panjang, saat melalui makam yang ditemui sepanjang Jalan Antang Raya.

Perlintasan jalan sepanjang satu kilometer sewaktu-waktu menjadi jebakan antrean kendaraan yang mengular sekitar 700 meter.  Drama yang tercipta seolah mengeja aksara dan tenung hidup. Ada nasib dipertaruhkan, yang diam-diam menjelma dalam secangkir kopi pagi untuk penguasa.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2