Antang dan Orkestra Kemacetan di Pinggiran Kota Makassar

Klikhijau.com - Antang di pagi hari, laju kendaraan bergerak seperti seorang Lelaki: selalu waspada, tapi sesekali perilaku jantan tampil menonjolkan dirinya. Belum lagi parade klakson saling bersa...

Antang dan Orkestra Kemacetan di Pinggiran Kota Makassar
Bacakan Artikel
Wahdyuddin Yunus

Pendiri Jurnal Warung Kopi yang aktif sebagai pemerhati lingkungan sekaligus pegiat seni

Klikhijau.com - Antang di pagi hari, laju kendaraan bergerak seperti seorang Lelaki: selalu waspada, tapi sesekali perilaku jantan tampil menonjolkan dirinya.

Belum lagi parade klakson saling bersahutan dan menyebar acak. Pagi yang seharusnya penuh optimisme bisa saja membuyarkan rencana yang disematkan sejak tadi malam.

Demi menanti jadwal pulang anak sekolah, saya menepi dan singgah di salah satu warkop dalam deretan ruko jalan antang raya pagi itu. Setelah memesan secangkir kopi, saya berkesempatan ngobrol ringan dengan seorang juru parkir yang setia di tempat tersebut.

Nama Antang dan jejak kenangan yang menyertainya

“Dulu Antang belum ramai seperti sekarang ini, boscu,” ucap Daeng Jafar. “Kalo dulu orang takut-takut lewat sini. Kalo jam 10 malam, tidak adami yang berani lewat,” urainya.

Menurutnya, beberapa  lokasi menjadi area pekuburan dan areanya lebih banyak hutan dan dipenuhi semak belukar, menjadi alasan 'keangkeran wilayah ini.  Belum lagi wilayah pemukiman bagi penduduk yang menetap di sini masih terbilang minim.

Cerita ini sejalan dengan apa yang dituliskan Daeng Ipul lewat blognya DaengGassing.com saat mulai menetap tahun 1982 di sini. “EROKNA TONG ANTU NYAWANU AMMANTANG ANRINNI,” menjadi kisah pengingat memorinya, saat salah seorang keluarga berkunjung ke rumah kami di malam hari.

Dalam bahasa Makassar, kalimat itu kira-kira berarti: kenapa kalian sampai hati tinggal di tempat seperti ini. Kenangan itu dituliskan lewat “Antang dan Kenangan yang Menggenang”.

Kurang lebih sejak tahun 90-an, beberapa lokasi pemukiman mulai dibangun. Termasuk Kawasan pemukiman yang bernama Perumnas Antang. Di atas lahan dulunya ditumbuhi nipah-nipah menjadi kawasan area pemukiman Aspol, bersebelahan dengan Bukit Baruga yang dulunya menjadi lokasi pemotongan hewan di daerah Antang.

Lebih jauh saya coba menelusuhi asal nama Antang. Dalam beberapa artikel diartikan sebagai tempat tinggal atau yang dalam. Asal muasal Antang yang dulunya bernama Kampung Antang, didapati sungai atau semacam danau yang dikenal dengan nama "Balang Tonjong" dan juga terdapat persawahan.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2