Alimun dan Kisah Tentang Air Nira dari Mallawa
Klikhijau.com – Kenal air nira? Pertengahan September 2020 lalu saya bertandang ke Desa Bentenge, Mallawa, Maros, Sulawesi Selatan. Menikmati keasrian desa dengan kehangatan warganya. Di sana saya ber...
Klikhijau.com – Kenal air nira? Pertengahan September 2020 lalu saya bertandang ke Desa Bentenge, Mallawa, Maros, Sulawesi Selatan. Menikmati keasrian desa dengan kehangatan warganya. Di sana saya berjumpa dengan air nira dan kisah-kisah di baliknya.
Pada suatu kesempatan saya menemui Alimun (52). Seorang Bapak berprofesi sebagai petani. Mengolah tanah, memanfaatkan bentala subur anugrah Ilahi.
Saya coba telusuri pedalamannya. Bercengkrama di pagi buta. Menemaninya menyerup kopi. Kopi yang ia hasilkan dari peluhnya sendiri.
Ia terlihat santai pagi itu. Padahal sebenarnya ia sudah bekerja sedari awal pagi. Pagi sekali, sekitar pukul enam ia sudah menyusuri jalan desa berbeton. Berbekal wadah dari bambu betung dan jirigen ia berjalan perlahan. Menebus kabut yang membumbung.
[irp]
Air nira Alimun di Mallawa - Foto/Taufiq Ismail[/caption]
Sejurus kemudian Alimun meniti tangga bambu yang unik. Tangga dengan sebatang bambu kokoh. Anak-anak tangga hanya ditusukkan dengan rapi dengan jarak yang sama. Anak tangga berupa kayu sebilah seukuran tiga jengkal. Perlahan namun pasti Alimun memijaki anak tangga hingga puncak.
Tiba di puncak ia menarik tali rotan. Wadah bambu yang memanjang itu pun perlahan berangsek menuju puncak. Sistemnya seperti katrol. Prinsipnya seperti menimba air di sumur yang dalam.
[irp]
Saya terus mendongak mengamati tingkahnya memanen. Alimun lalu membuka wadah bambu yang terpasang. Wadah yang telah berisi nira. Ia hendak menukarnya dengan dengan wadah serupa yang kosong.
Wadah bambu yang berisi beberapa liter tuak manis itu, ia kait di ujung rotan. Perlahan kemudian ia ulur turun. Sedepak demi sedepak. Tak butuh waktu lama, wadah yang ia rakit sendiri tiba di pangkal batang enau. Semuanya ia lakukan sendiri.
Kini gilaran memasang wadah baru. Sebelum memasangnya nampak ia buat perlakuan pada pangkal bunga aren yang sudah terpotong. Pangkal batang bunga aren yang menjadi menetesnya nira. Ia mengirisnya beberapa kali. Sebelum akhirnya memasang wadah baru kemudian mengikatnya dengan tali rotan.
Alimun lalu turun melenggang tanpa beban di pundak. Hanya parang bersarung di pinggangnya. Ia begitu lihai menuruni anak tangga. Enau yang tak pendek. Setidaknya setinggi tiang listrik. Tujuh sampai delapan meter tingginya.
Begitu tiba di pangkal enau ia tersenyum. Tak ada raut lelah di wajahnya. Ia kemudian memikul wadah bambu yang terisi penuh. Berjalan perlahan. Jalan menurun ke rumahnya, membuatnya berjalan lebih perlahan. Perlahan karena harus menopang berat nira yang dipikulnya.
[irp]
Saya berjalan beriringan. Sesekali ia mengajak saya berbincang ringan. "Saya punya dua pangkal tangkai yang mengalirkan nira di pohon tadi. Jadi tiap pagi dan sore saya panen niranya," terangnya dengan sedikit tergopoh-gopoh.
Hingga pada akhirnya kami tiba di rumah panggung miliknya. Alimun memikul nira hingga ke bagian belakang rumah. Istri Alimun sudah menanti rupanya.
Sang istri telah menyiapkan wajan. Termasuk tunggu dengan api yang membara. Begitu sang suami tiba, dengan cekatan ia menaikkan wajan besi.
Tanpa dikomando Alimun kemudian menuangkan nira dari wadah bambu. Menuangnya hingga tandas. "Saya mau buat niranya menjadi gula merah," terangnya kepada saya.
Wadahnya penuh. Alimun menerangkan bahwa wadah bambu buatannya berisi sekitar tujuh liter. Semuanya ia buat jadi gula. Dari tujuh liter itu hanya akan menghasilkan empat batok gula merah.
[irp]
"Berapa harga gula merahnya Pak," tanya saya. "Satu gula merah sebesar batok kelapa yang kecil sebesar lima ribu rupiah," jawabnya.
Jadi dari tujuh liter hasil panen pagi itu, Alimun hanya bisa peroleh tambahan penghasilan Rp.20 000. Itu pun tak langsung ada yang beli. Saat hari pasar tiba keluarga ini menjualnya di pasar.
Meski tak seberapa nira memberinya sedikit suntikan penghasilan. Hitung-hitung memanfaatkan waktu senggang. Begitulah kehidupan di desa, ada saja yang bisa mereka kerja. Memanfaatkan tanaman yang tumbuh subur di tanah mereka. Mereka sepertinya enggan berpangku tangan.
Kami pun akhirnya bersantai. Menikmati pagi itu dengan nuansa pagi yang tak biasa bagi saya. Udara masih begitu sejuknya. Gepulan kabut tipis masih berselimut. Nyanyian burung beragam jenis berdendang. Khas nuansa pagi yang selalu saya rindukan. Hidup di desa sembari menikmati hasil bumi. Semuanya berasa nikmat.
[irp]