Alarm untuk Warga Makassar, Kapasitas TPA Antang Hanya Sampai 2020!

Klikhijau.com – Kapasitas Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa Antang di Kota Makassar sudah semakin memprihatinkan. Diprediksi hanya mampu menampung sampah hingga akhir tahun 2020. Untuk diketa...

Alarm untuk Warga Makassar, Kapasitas TPA Antang Hanya Sampai 2020!
Bacakan Artikel

Andi Iskandar menuturkan "Seperti kita lihat ketinggian gunung sampahnya sudah hampir 30 meter dari dasar yang sudah dikeruk sampai ke atas. Jadi akan dilakukan pembebasan lahan untuk penampungan sampah-sampah baru," tuturnya.

Perlu kebijakan strategis

Pemerhati lingkungan dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) Dr.Ir. Suriyanti Haji Salama, M.Pd., mengatakan, TPA Antang sejatinya sudah sangat tidak layak lagi dengan besaran volume sampah yang masuk setiap harinya.

Suriyanti menganjurkan agar pemerintah mengambil langkah-langkah strategis untuk bagaimana volume sampah itu dikurangi. Lalu, yang terpenting adalah bagaimana pengelolaan sampah di TPA.

"Kita bisa mencontoh dari negara-negara yang berhasil mengelola sampahnya kemudian kita implementasikan di sini sesuai dengan kondisi masyarakat kita," katanya.

Suriyanti Haji Salama mencontohkan Curitiba adalah salah satu kota di negara berkembang, Brazil bagian selatan yang berhasil menyelesaikan persoalan sampah.

"Bila dilihat dari penerapan cara pemerintahnya memberdayakan masyarakatnya, kota Curitiba ini sangat menginspirasi. Namun memang perlu waktu dan kesabaran dalam mensosialisasikan ke masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan tetap bersih dan sehat,” ucapnya.

Surianti menyarankan perlunya suatu treatment mengenai penegakan denda untuk yang buang sampah sembarangan supaya ada efek jera.

“Di sisi lain, juga perlu reward untuk masyarakat yang telah banyak berkontribusi untuk penanganan sampah,” terang dosen Fakultas Pertanian UMI ini.

Pelajaran dari Brazil

Dilansir dari sim.ciptakarya.pu.go.id, pengelolaan sampah dilakukan secara ekonomis dan berwawasan lingkungan yang diberi tajuk “Garbage that is not garbage”.

Tidak seperti pada umumnya, Kota Curitiba menyediakan 5 tempat sampah yang berbeda untuk pemilahan sampah yakni, sampah kertas, sampah plastik, sampah metal, sampah yang mengandung air, dan sampah organik.

Inovasi yang dilakukan oleh Curitiba yakni mendaur ulang 70% sampah kota dan 90% penduduk berpartisipasi dalam program tersebut.

Pihak pemerintahnya melakukan kampanye pemilahan sampah yang dibantu oleh Institute for Social Integration. Tujuannya adalah memelihara kebersihan kota dan mengurangi pengangguran karena melihatkan 16.000 pengumpul sampah independen yang dibayar setelah mengumpulkan sampah dari 25 area yang sulit diakses truk pengangkut sampah.

Program ini ditujukan bagi masyarakat berpendapatan rendah dengan mengumpulkan, memilah dan menukar sampah rumah tangga dengan barang kebutuhan sehari-hari.

Menariknya, program pendidikan pengelolaan dan perlindungan lingkungan hidup secara gratis pada masyarakat umum.

Selain itu juga ada program memelihara kebun sayur di bekas tempat penampungan sampah. Program ini tidak berbasis pada mekanisme modal-insentif tetapi pada partisipasi publik.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2