Tradisi yang Kontroversional; Halal Kembali Memburu Paus di Jepang

Klikhiaju.com - Puluhan potongan daging yang ditaruh di kotak styrofoam dilelang pada Kamis 4 Juli 2018. Untuk tiap satu kilogramnya, daging yang masih berwarna merah segar itu ditawarkan mulai dari 1...

Tradisi yang Kontroversional; Halal Kembali Memburu Paus di Jepang
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Selama moratorium berlangsung, Jepang berlayar jauh ke perairan Pasifik dan Antartika untuk memburu paus.

Kerinduan akan tradisi

Pada musim buru tahun 2017 dan 2018, Jepang terekam telah memburu 592 paus dari berbagai jenis.

Kerinduan akan tradisi mengalahkan komitmen di dunia internasional. Minggu, 30 Juni 2019, Jepang memutuskan untuk mundur dari keanggotan IWC demi bisa berburu paus lagi secara komersial.

Dalam surat pengunduran dirinya Jepang berdalih perburuan paus secara komersial masih bisa dilakukan dengan berkesinambungan.

Direktur Konservasi Laut International Fund for Animal Welfare, Patrick Ramage meyakini bahwa keberadaan populasi paus di perairan Jepang tak lagi mencukupi untuk kebutuhan komersial.

Kendati tradisi sudah dijalankan kembali, Jepang tetap akan menghadapi waktu yang sulit.
Konsumsi daging paus di Jepang pada kenyataannya menurun.

Pasca Perang Dunia II, tepatnya pada 1964, Jepang mengonsumsi total 154.000 ton daging paus. Namun pada 2017, warga Jepang hanya memakan total 3.000 ton daging paus.

Jika dibagi rata dengan jumlah penduduk, maka porsinya hanya setara dengan dua sendok daging per tahun.

Pemerintah Jepang juga mengeluarkan kebijakan responsif. Mengutip Financial Times Dinas Perikanan Jepang telah mengalokasikan anggaran setara $463 juta AS untuk mendukung perburuan paus untuk tahun 2019.

“Jika perburuan paus dipaksa berhenti, maka industri ini juga akan tenggelam dengan sangat cepat,” ujar Ramage, International Fund for Animal Welfare.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2