Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Inspirasi hijau

Tidak Mengejar Jumlah Produksi, Pakar Pertanian sebut Agroekologi di Salassae Bukti Pertanian Perlu Keseimbangan Ekosistem

Oleh Nur Adriani 07 Oct 2026 21:16 6 menit baca

Klikhijau.com - Sistem pertanian nasional masih berfokus pada kejar target produksi tanpa memedulikan dampak lingkungan, petani Desa Salassae di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel) justru menawarkan jawaban yang membuat kita berhenti sejenak memahami cara mereka bertani. Mereka mengembangkan pertanian alami sebagai langkah nyata mewujudkan sistem pangan berkelanjutan dan bebas bahan kimia sintetis.

Melalui Komunitas Swabina Pedesaan Salassae (KSPS), petani membangun ruang belajar bersama untuk menerapkan pertanian alami dan mengembangkan kemandirian masyarakat desa.

Secara ilmiah, kami menemukan banyak penelitian menyebutkan Desa Salassae merupakan salah satu lumbung padi kabupaten Bulukumba, yang memiliki potensi sawah seluas sekitar 100 Ha. Sebagian besar penduduk desa ini adalah petani.

Persawahan di Desa Salassae diairi oleh irigasi Non Teknis, sehingga sawah hanya mampu berproduksi dua kali dalam setahun. Berbeda dengan sawah di tempat lain yang dipaksa secara terus menerus untuk bisa tiga kali panen setahun, menjadikan tanah tak sempat bernapas. Mengapa tanah perlu jeda, untuk bernapas, sepertinya kita perlu mengingat hal ini sebagai sesuatu yang sangat penting dalam kebelangsungan tanah pertanian, Dalam ilmu pertanian, istilah "tanah bernapas" bukan sebatas kiasan, melainkan fenomena ilmiah yang dikenal sebagai respirasi tanah.

Proses biologis ini terjadi saat tanah menyerap oksigen dari atmosfer dan melepaskan karbon dioksida ke udara. Respirasi tanah menjadi indikator utama bahwa tanah berada dalam kondisi hidup, subur, serta memiliki aktivitas biologis yang sehat. Dalam ilmu pertanian, istilah "tanah bernapas" bukan kiasan atau jargon belaka, melainkan fenomena ilmiah yang dikenal sebagai respirasi tanah.

Proses biologis ini terjadi saat tanah menyerap oksigen dari atmosfer dan melepaskan karbon dioksida ke udara. Respirasi tanah menjadi indikator utama bahwa tanah berada dalam kondisi hidup, subur, serta memiliki aktivitas biologis yang sehat.

Jalan panjang pertanian organik Salassae

Praktik pertanian organik di sana sudah berkembang sejak tahun 2011. Penelitian Hasmidar yang diterbitkan dalam Jurnal Agrimansion pada 2024 mencatat kalau desa ini menjadi salah satu perintis usaha tani padi organik di Sulawesi Selatan. Pengembangannya tidak hanya berkaitan dengan teknik budidaya, tetapi juga dengan penguatan kelompok petani, peningkatan mutu produk, dan pemasaran hasil pertanian.

Pertanian organik di desa Salassae menjadi salah satu contoh inovasi lokal yang dapat dikaji melalui pendekatan agroekologi. Agroekologi adalah pendekatan pertanian yang memperhatikan hubungan antara tanaman, tanah, air, lingkungan, dan kehidupan sosial masyarakat.

Inovasi agroekologi

Dalam penerapannya, prinsip agroekologi dapat diwujudkan melalui penggunaan bahan organik untuk menyuburkan tanah, memanfaakan sumber daya di sekitar petani, pengelolaan hama secara lebih ramah lingkungan, dan pemeliharan kesuburan lahan.  Praktik tersebut bertujuan mengurangi ketergantungan pada bahan kimia sintesis sekaligus menjaga keberlanjutan produksi pangan.

Menurut Batara (2025), petani di Desa Salassae, Bulukkumba, mulai beralih ke pertanian alami sejak 2011 dengan memanfaatkan mikroba dan pupuk organik buatan sendiri. Setelah beralih ke pertanian organik dan dengan eksperimen yang dilakukan berkali-kali tanpa menyerah, para petani Salassae jadi lebih memahami kebutuhan nutrisi tanamannya.

Sebelum beralih ke pertanian organik, sawah seluas 30 are hanya mampu menghasilkan sekitar 5 karung padi. Setelah beralih ke pertanian organik, hasil panen yang diperoleh menjadi lebih banyak, dapat mencapai 7,5 karung. Selain itu, disebutka juga biaya produksi bisa lebih terjangkau.

Ketika menggunakan bahan kimia sintetis pada sawah seluas 1 hektare, biaya produksinya bisa mencapai Rp 4 juta rupiah. Sedangkan dengan bahan organik biayanya hanya Rp 300 ribu untuk membeli kompos dan gula merah sebagai campuran ekstrak buah yang digunakan untuk menutrisi tanaman. Batang padi yang ditanam secara organik oleh petani Salassae juga tumbuh lebih besar dan kokoh, serta akarnya lebih panjang dibanding yang menggunakan bahan kimia sintetis.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa inovasi pertanian tidak selalu dimulai dari teknologi modern. Perubahan juga dapat tumbuh dari inisiatif masyarakat, proses belajar bersama, dan keberanian petani untuk mencoba cara mengelola lahan yang berbeda.

Hal tersebut juga dijelaskan oleh Dr. Suardi Bakri, Pakar Pertanian Universitas Islam Makassar (UIM) pada kamis (01/09/2026) saat ditemui ruang kerjanya, menurutnya agroekologi merupakan praktik pertanian yang memperhatikan keseimbangan lingkungan. Ia menilai praktik pertanian di Desa Salassae, Kabupaten Bulukumba, sebagai salah satu contoh praktik yang menarik untuk dikaji.

Menurutnya, penerapan saat ini cenderung mengejar peningkatan produksi dalam waktu singkat. Padahal, keberlanjutan pertanian juga perlu diperhatikan agar lahan teap mampu menghasilkan pangan dalam jangka panjang.

Komunitas petani, partisipasi masyarakat

Keberadaan KSPS menjadi bagian penting dalam pengembangan pertanian organik di desa tersebut. Komunitas ini berfungsi sebagai ruang belajar bagi petani untuk mengenal dan menerapkan sistem pertanian organik. Tak jarang ia dikunjungi oleh para komunitas petani dari luar daerah.

Penelitian Ansar dan Dirawan (2023) menemukan bahwa petani di desa Salassae ini sudah mengenal dan mencoba pertanian organik. Tetapi, penerapannya masih dipengaruhi oleh akses pasar dan dukungan penyuluhan. Penelitian tersebut juga menekankan pentingnya penguatan komunitas petani agar dapat mendukung proses pembelajaran dan pendampingan secara mandiri.

Partisipasi masyarakat menjadi penting karena petani merupakan aktor yang berhadapan langsung dengan kondisi lahan dan perubahan lingkungan. Melalui kelompok tani, petani bisa berbagi pengalaman, membicarakan kendala produksi, serta mempelajari teknik pertanian yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Keterlibatan masyarakat juga dapat membantu menjaga keberlanjutan inovasi. Ketika pengetahuan tidak hanya dimiliki oleh satu atau  dua orang, tetapi dibagikan melalui komunitas, peluang untuk mengembangkan praktik pertanian yang lebih luas menjadi terbuka.

Kearifan lokal dalam pengelolaan pertanian

Selain partisipasi masyarakat, Kearifan lokal merupakan aspek yang penting dalam pengembangan agroekologi. Pengetahuan petani tentang kondisi tanah, musim tanam, sumber air, dan karakteristik tanaman bisa menjadi dasar dalam menentukan cara pengelolaan lahan.

Di Desa Salassae, hubungan antara pengetahuan lokal dan pertanian alami perlu dilihat melalui pengalaman petani secara turun temurun dalam menjalankan kegiatan budidaya. Hal ini dapat mencakup cara mereka memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar desa, mempertahankan kebiasaan pertanian yang sesuai dengan kondisi alam, juga menyesuaikan praktik budidaya dengan perubahan musim.

Kearifan lokal dalam praktik agroekologi di Desa Salassae, Kabupaten Bulukumba, terlihat dari pentingnya pengetahuan lokal petani dalam menghadapi perubahan iklim.

Masyarakat memanfaatkan pengelaman dan pengetahuan dalam membaca tanda-tanda alam serta menjaga solidaritas antarmasyarakat. Pengetahuan lokal tersebut mejadi modal penting dalam membangun sistem pertanian dan kehidupan masyarakat yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim (BaKTI, 2025)

Menurut Dr. Suardi, penerapan agroekologi tidak cukup dinilai hanya dengan dari penggunaan pupuk organik. Kondisi lingkungan juga perlu di perhatikan, seperti kualitas air, udara, kandungan hara tanah, serta keberadaan flora dan fauna.

Hal ini menunjukkan bahwa pertanian yang ramah lingkungan harus memperhatikan seluruh ekosistem di sekitar lahan, termasuk kemungkinan pencemaran dari wilayah lain.

Daya dukung Peraturan Daerah pertanian organik

Salah satu tantangan penerapan agroekologi adalah proses peralihan dari pertanian konvensional yang mengejar hasil cepat. Dr. Ir. Suardi Bakr, mengungkapkan tantagan penggunaan bahan organik membutuhkan waktu untuk memperbaiki kondisi tanah. Petani juga menghadapi tuntutan peningkatan produksi pangan, terutama padi.

Karena itu, pemeritah daerah perlu mendukung petani melalui penyuluhan, pendampingan, dan kebijakan yang mendorong pertanian berkelanjutan. Pergiliran tanaman, misalnya padi dan palawija, juga dapat dipertimbangkan sesuai kondisi lahan.

Pengembangan pertanian organik di Sulawesi Selatan juga didukung oleh kebijakan pemerintah. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menetapkan peraturan Daerah Nomor 4 tahun 2022 tentang pengembangan pertanian organik. Peraturan ini menjadi landasan bagi pengembangan  pertanian organik, termasuk pengelolaan lahan, sarana produksi, sertifikasi, pemasaran, pembinaan, dan pengawasan.

Dengan adanya dukungan ini, inovasi yang berkembang dari masyarakat dapat dihubungkan dengan program pemerintah daerah. Hubungan ini penting supaya pengembangan pertanian organik tidak hanya berlangsung melalui inisiatif kelompok tertentu saja, tapi juga memperoleh dukungan berkelanjutan.

Dengan pertanian alami di Desa Salassae, kabupaten Bulukumba, menjadi bukti bahwa agroekologi dapat dikembangkan melalui pemanfaatan bahan organik, pengetahuan lokal, dan partisipasi masyarakat.  Dukungan komunitas petani dalam mendorong pertanian yang tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi menjaga keseimbangan ekosistem dan keberlajutan lingkungan.

 

Topik terkait
Agroekologi Pertanian Salassae Bulukumba Perda Organik Komunitas