Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Berita Lingkungan

Tekanan Kota Tak Hentikan Perjuangan Masyarakat Pesisir Lantebung atas Ruang Mangrove dan Hak Kelola

Oleh Arman Jaya 13 Sep 2026 02:13 4 menit baca

Klikhihau.com - Sejumlah pemuda di kawasan pesisir Makassar memilih menanam mangrove ketimbang hanya membicarakan ancaman perubahan iklim. Melalui Hutan Merdeka VII yang digelar Ikatan Keluarga Lantebung (IKAL) pada 12-13 September 2026 di Ekowisata Mangrove Lantebung, mereka menempatkan akar mangrove sebagai benteng hidup menghadapi abrasi, kenaikan permukaan air laut, dan cuaca ekstrem yang semakin terasa.

Kegiatan yang mengusung tema “Mangrove Adalah Senjata Alami Melawan Perubahan Iklim”. Bibit itu dipilih menjadi simbol komitmen pribadi, bisa ditanam dan menanti harapan ia tumbuh subur.

Rangkaian acara dirancang padat. Ada camp, tari tradisional, pakarena pepe, diskusi, pameran foto, panggung merdeka, games, penanaman mangrove, dan aksi bersih. Tari tradisional dan pakarena pepe mengingatkan bahwa menjaga alam sekaligus menjaga warisan budaya. Pameran foto dan diskusi membuka ruang melihat dampak kerusakan mangrove serta harapan yang bisa dibangun bersama.

Ketua Panitia Hutan Merdeka VII, Muh. Ismail, menyambut dan dan mengapresiasi para tamu yang hadir dari berbagai komunitas serta masyarakat Lantebung yang terus konsisten mendukung kegiatan para pemuda.

“Kita terus mendorong rasa kepemilikan atas mangrove yang ada di pesisir Lantebung, agar kita semua menjaga dan merawatnya,” tegas Ismail.

Dua narasumber utama mengisi sesi diskusi. Nur Syarif Ramadhan, Ketua Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan, membawa perspektif inklusivitas. Kehadirannya menegaskan aksi lingkungan tidak boleh meninggalkan siapa pun, termasuk kelompok difabel.

“Kami juga turut terdampak soal iklim, namun kami masih kurang mendapatkan akses informasi agenda kegiatan seperti ini, kami juga perlu dan bisa terlibat dalam berbagai kegiatan lingkungan,” tegas Syarif, menegaskan

Fatimah Al Batuul, Field Staff Blue Forests, berbagi pengalaman lapangan tentang rehabilitasi mangrove. Moderator Magfirah Ramadhani memandu diskusi agar tetap fokus dan interaktif.

Yayasan Konservasi Laut (YKL) Indonesia dan Blue Forests hadir sebagai mitra. Kolaborasi itu menunjukkan Hutan Merdeka VII tidak berdiri sendiri. Masalah perubahan iklim dan kerusakan ekosistem pesisir membutuhkan kerja sama lintas organisasi, komunitas, dan generasi.

Lantebung sudah lama dikenal sebagai kawasan mangrove. Ekowisata Mangrove Lantebung menawarkan keindahan sekaligus edukasi. Namun keindahan itu rentan. Abrasi, sampah, dan tekanan pembangunan terus mengancam. Penanaman dan aksi bersih dalam Hutan Merdeka VII menjadi langkah konkret menjaga kawasan tetap hidup. Setiap bibit yang ditanam hari ini diharapkan tumbuh menjadi pohon yang kelak melindungi pantai, menyerap karbon, dan menyediakan habitat bagi ikan, burung, serta biota lainnya.

Bagi generasi muda Lantebung, perubahan iklim bukan isu jauh. Dampaknya sudah terasa di rumah sendiri, banjir rob yang semakin sering, suhu yang semakin panas, dan hasil tangkapan nelayan yang mulai berkurang. Dengan menanam mangrove, mereka memilih menjadi bagian dari solusi.

Direktur YKL Indonesia Nirwan Dessibali menekankan bahwa tantangan terbesar adalah memastikan masyarakat pesisir tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi tetap menjadi subjek yang punya hak menentukan masa depan wilayahnya sendiri. 

“Hari ini tekanan terhadap wilayah pesisir semakin besar, baik karena pembangunan, perubahan iklim, maupun kebijakan yang sering kali berubah. Di sisi lain, masyarakat sudah memiliki pengetahuan dan praktik pengelolaan yang berlangsung turun-temurun, tetapi belum selalu diakui atau masuk dalam proses pengambilan keputusan,” katanya.

Menurut Nirwan, ke depan perlu memperkuat posisi masyarakat dari tingkat lokal. Bukan hanya melalui advokasi kebijakan, tetapi juga dengan memperkuat kelembagaan masyarakat, mendokumentasikan wilayah dan praktik kelola mereka, membangun data, serta membuka ruang dialog yang lebih setara dengan pemerintah dan pihak lainnya. 

“Masyarakat harus dilihat sebagai pengelola dan pemilik pengetahuan, bukan sekadar penerima manfaat. Kalau hak kelola mereka semakin kuat dan diakui, maka mereka juga akan punya posisi tawar yang lebih baik untuk menjaga ekosistem sekaligus mempertahankan sumber penghidupannya,” ujarnya.

Khusus di Kota Makassar, tantangan terbesar adalah mempertahankan ruang mangrove di tengah tekanan perkembangan kota. Mangrove sering berada di kawasan yang dianggap strategis untuk pembangunan, sehingga kepentingan ekologis, ekonomi, dan pembangunan bertemu di ruang yang sama. 

“Menurut saya, pendekatannya tidak bisa hanya dengan menanam mangrove. Kita harus bicara tentang siapa yang mengelola, siapa yang menjaga, bagaimana masyarakat mendapatkan manfaat, dan bagaimana ruang mangrove dilindungi dalam perencanaan kota,” tegas Nirwan.

Pengalaman di Lantebung, kata dia, menunjukkan bahwa ketika masyarakat dilibatkan dan memiliki rasa kepemilikan terhadap kawasan, upaya rehabilitasi bisa lebih berkelanjutan. Yang penting bukan hanya menambah luasan mangrove, tetapi memastikan ada tata kelola yang jelas, keterlibatan masyarakat, dan perlindungan ruang mangrove dalam pembangunan Kota Makassar.

Kegiatan yang diikuti dari puluhan komunitas dan ratusan peserta ini menjadi ruang membangun kebersamaan. Camp dan games menciptakan suasana akrab. Panggung Merdeka memberi kesempatan anak muda mengekspresikan ide dan kepedulian terhadap lingkungan. Aksi bersih mengajak semua orang tidak hanya menanam, tetapi juga menjaga kebersihan kawasan yang sudah ada.

Di tengah dunia yang penuh janji tentang lingkungan, kegiatan ini memilih jalan sederhana, datang, tanam, rawat. Akar mangrove yang kuat menahan ombak. Daun yang rimbun menyejukkan iklim. Tangan-tangan muda yang menanam hari ini ikut menentukan apakah napas bumi masih tersedia untuk esok hari.

Topik terkait
Hutan Merdeka Lantebung Pesisir Mangrove Ruang Hidup Inklusif