Tantangan Kemandirian Urban Farming Warga di Kota Makassar

Tantangan Kemandirian Urban Farming Warga di Kota Makassar
Urban farming di lahan Lapas Kelas 1A Kota Makassar, Sulawesi Selatan, - Foto: Ist
Bacakan Artikel
St. Nashwa Wahdania Azis

Mahasiswa Magang dari Prodi Sosiologi Universitas Negeri Makassar

Di sisi lain, keterbatasan pengetahuan mengenai pengendalian hama, teknik pemupukan, hingga ketergantungan pada kucuran bibit gratis membuat warga cepat patah semangat ketika hasil panen pertama tidak sesuai harapan.

Studi ilmiah memperkuat realita ini. Penelitian mengenai pemberdayaan masyarakat di RW 03 Lorong 29, Kelurahan La’latan, Kecamatan Tallo, menunjukkan bahwa pemanfaatan lahan terbatas baru bisa menopang dapur warga jika dibarengi dengan pola edukasi, pendampingan, serta evaluasi yang berkala. Tanpa itu, urban farming sulit menjadi kebiasaan sehari-hari.

Kunci Kemandirian dan Agroekologi

Untuk memutus rantai ketergantungan pada bantuan pemerintah, Nursyami menekankan pentingnya kemandirian input. Warga perlu dilatih memproduksi kebutuhan budidaya secara mandiri dengan mengoptimalkan sumber daya lokal yang ada di sekitarnya.

“Urban farming bisa bertahan kalau warganya merasakan manfaat nyata, baik untuk konsumsi dapur maupun tambahan penghasilan. Selain itu, warga harus bisa menyediakan input sendiri—seperti membibitkan tanaman sendiri dan mengolah sisa dapur menjadi kompos. Kalau terus bergantung pada bantuan luar, kegiatan otomatis berhenti saat bantuan habis,” jelasnya.

Pendekatan ini sejalan dengan prinsip agroekologi. Dengan mengolah sampah dapur menjadi pupuk, menampung air hujan, serta memanfaatkan pestisida nabati untuk pengendalian hama alami, biaya operasional dapat ditekan serendah mungkin.

Langkah ini sekaligus memberikan dampak lingkungan yang signifikan. Integrasi pengomposan dalam urban farming secara otomatis mengurangi volume sampah organik yang terbuang ke TPA Tamangapa, yang saat ini sudah tak lagi menerima sampah organik. Studi pendahuluan mengenai resiliensi pangan di Makassar juga mengonfirmasi bahwa penggunaan media tanam berbasis kompos lokal efektif menjaga produktivitas lahan sempit di perkotaan.

Mendorong Nilai Ekonomi Kelompok

Secara ekonomis, urban farming skala rumah tangga memang lebih berperan sebagai efisiensi pengeluaran harian ketimbang pencetak omzet besar. Namun, peluang komersial tetap terbuka jika dikelola secara kolektif.

“Kalau skala rumah tangga, manfaat utamanya menekan biaya dapur. Tapi kalau mau dijual, sebaiknya dikelola dalam wadah kelompok agar volume panen cukup dan kualitasnya seragam. Peluangnya lebih besar jika menggarap produk bernilai tambah, seperti penyediaan bibit, budidaya jamur, sayuran organik, atau produk olahan pangan,” tambah Nursyami.

Hasil panen kelompok ini dapat diserap oleh pasar terdekat, seperti warga sekitar, warung makan lokal, hingga masuk dalam mata rantai program pangan pemerintah.

Masa depan urban farming di Kota Makassar bergantung pada repositioning peran warga, dari sekadar penerima program menjadi pelaku utama. Kebijakan pemerintah, akademisi, dan komunitas harus hadir dalam skema kolaborasi dan pendampingan yang berkelanjutan sejak tahap perencanaan.

Ketika warga mampu mandiri secara input, memiliki kelompok penggerak yang solid, serta mendapatkan manfaat langsung bagi dapurnya, urban farming tidak lagi sebatas program musiman, melainkan bagian integral dari gaya hidup kota yang mandiri dan berkelanjutan.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2
Editor

Arman Jaya

Bergiat di isu-isu ekososial, pesisir dan pedesaan