Sambut Tren Wisata Alam Virtual sebagai Adaptasi di Masa Pandemi

Klikhijau.com - Wisata alam secara virtual memang lagi marak belakangan ini. Kita lihat, ada sejumlah pegiat wisata alam yang membuka ruang virtual melalui sosial media untuk mengundang pemirsanya men...

Sambut Tren Wisata Alam Virtual sebagai Adaptasi di Masa Pandemi
Bacakan Artikel

Selanjutnya, Co-founder Jagaddhita dan 'Perkumpulan' untuk Interpretasi Indonesia ('P’InterIn), Wiwien T. Wiyonoputri menyampaikan bahwa virtual tour memiliki spektrum, layaknya warna. Dari spektrum bentuk pengalaman, Virtual Tour tidak menggantikan pengalaman wisata yang sesungguhnya, namun bermanfaat bagi banyak orang dan tempat dengan keterbatasan.

"Dari spektrum karakter acara, Virtual Tour itu engaging dan interpretif, yang sangat memikat serta melibatkan pengunjungnya." tambahnya.

Founder Sebumi, Iben Yuzenho menyampaikan bahwa konservasi tidak harus dilakukan di tempat yang jauh dan pesan tersebut bisa disampaikan dengan mendorong perubahan gaya hidup.

Ekowisata sebagai bagian layanan ekosistem di kawasan konservasi bertumpu pada keseimbangan pengelolaan ekologis dan sosiologis. Aktivitas ekowisata di kawasan konservasi harus memperkuat fungsi dasar perlindungan dan pengawetan yang dimanifestasikan dalam pesan konservasi.

“Virtual Tour merupakan media alternatif penyampaian pesan konservasi yang efektif dan efisien dalam bentuk promosi dan edukasi interpretasi alam, budaya dan inisiatif keberlanjutan di destinasi ekowisata,” terangnya.

Founder Indonesia Ecotourism Network, Ary S. Suhandi menyampaikan bahwa perubahan iklim itu nyata dan sesuatu yang sangat penting untuk disikapi. Pariwisata memiliki faktor eksternal yang sangat mempengaruhi, dimana perubahan iklim menjadi faktor utama disamping faktor lain seperti bencana alam, penyakit menular, konflik sosial/politik dan terorisme.

“Pariwisata bukan hanya sebagai 'korban' pemanasan global, namun pariwisata juga ikut berkontribusi pada masalah ini. Berdasarkan data Nature Climate Change (2018) yang disadur dari Sustainable Tourism International, pariwisata bertanggung jawab atas 8% emisi karbon dunia,” jelasnya.

Ary menambahkan, Virtual Tour tidak hanya menyajikan sebuah perjalanan wisata ke destinasi yang ditawarkan, akan tetapi juga dapat menjadi sarana untuk mengedukasi peserta tentang masalah lingkungan, konservasi dan sosial.

Wisata virtual juga bisa jadi momen penggalangan dana perbaikan lingkungan. Hal ini menarik, mengingat, isu-isu perubahan iklim dan pengelolaan kawasan konservasi merupakan konten yang menarik untuk dikemas dan disampaikan ke audiens.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2