Saga, Tanaman Liar dengan Segudang Manfaat untuk Kesehatan
Klikhijau.com – Saga, tanaman ini menyandang nama latin Abrus precatorius. Ia termasuk tanaman yang mudah beradaptasi pada medan yang rendah dan tinggi. Ia bisa bisa tumbuh baik pada ketinggian 300...
Klikhijau.com – Saga, tanaman ini menyandang nama latin Abrus precatorius. Ia termasuk tanaman yang mudah beradaptasi pada medan yang rendah dan tinggi.
Ia bisa bisa tumbuh baik pada ketinggian 300 sampai 1000 meter dari permukaan laut (mdl). Tanaman ini juga mudah dikembangbiakkan, dan bisa jadi harapan kesembuhan dari berbagai penyakit.
Jika kamu pernah melihat buah petai, buah tanaman ini menyerupai buah petai. Hanya saja bijinya lebih kecil. Dan jika buahnya telah matang, bijinya akan berwarna merah.
Pada bijinya yang kecil-kecil itu, kamu bisa menemukan banyak kandungan yang bermanfaat bagi kesehatan.
Biji saga banyak dimanfaatkan dalam pengobatan Ayurveda sebagai obat infeksi mata dan kontrasepsi pria yang potensial.
Pengobatan ayurveda sendiri merupakan pengobatan tradisional yang bersal dari India. Pengobatan ini telah digunakan sekitar 3.000 tahun lampau.
[irp]
Sedangkan di Indonesia, biji tanaman ini banyak dikonsumsi sebagai camilan ringan. Dan masih sangat sedikit yang mengetahui potensinya sebagai antifertilitas.
Biji saga mengandung flavonol glukosida, proksimat dan protein yang kaya akan asam amino esensial . Bijinya juga kaya akan senyawa abrin yang dapat menyebabkan apoptosis terhadap kultur sel leukemia (Juniarti dkk, 2009)
Namun, menurut Misrahanum, dkk (2017) biji saga memiliki sifat beracun, karena itu penggunaannya harus ekstra hati-hati. Selain biji dan daunnya, batang dan akarnya pun bisa digunakan sebagai bahan baku obat.
Tanaman ini bukanlah tanaman yang menjulang tinggi. Ia tumbuh merambat—banyak ditemukan tumbuh liar saja di hutan atau di ladang atau bahkan disemak belukar.
Sebagai tanaman obat, saga telah banyak digunakan dalam pengobatan tradisional di banyak negara. Ia diyakini ampuh mengobati epilepsi, sariawan, dan demam.
[irp]
Ferny Indrayati, dkk (2016) mengungkapkan jika tanaman ini mengandung flavonoid, bagian antena dari saga mengandung isoflavanquinone dan abruquinone B. Bagian ini aktif sebagai antitubercular. Sedangkan antiplasmodial dan abruquinone G (2) aktif sebagai antiviral dan punya sifat toksisitas .
Eri Widianto, dkk (2020) menemukan jika saga memiliki khasiat pengencer dahak (mukolitik). Itu karena daunnya memiliki efektivitas sebagai obat batuk.
Kandungan daunnya ini bekerja memacu sekresi mukosa dan trakea. Bukan hanya itu, Eri Widianto juga menemukan jika saga mempunyai indikasi untuk pencegahan dan penyembuhan sariawan, sakit tenggorkan, dan radang amandel.
Maka tidak heran, jika tanaman ini menjadi salah satu tumbuhan yang dapat digunakan sebagai antibakteri.
Apalagi ekstrak daun saga memiliki aktivitas antibakteri terhadap Streptococcus pyogenes yang merupakan bakteri penyebab radang tenggorokan.
Selain berfungsi sebagai tanaman obat, saga juga bisa manfaat secara ekologis, skala rumah tangga hingga kebutuhan industri.
[irp]