Safari Malam di Rimba Pattunuang Mengamati Tarsius Fuscus
Klikhijau.com - Tarsius. Satwa mungil. Satwa imut yang menghuni hutan. Meriuhkan hutan di kala senja menyapa. Mungkin karena itulah membuatnya jarang terlihat. Ya.. Tarsius adalah binatang malam. Satw...
Klikhijau.com - Tarsius. Satwa mungil. Satwa imut yang menghuni hutan. Meriuhkan hutan di kala senja menyapa. Mungkin karena itulah membuatnya jarang terlihat. Ya.. Tarsius adalah binatang malam. Satwa yang aktif pada malam hari.
Tak banyak taksa yang aktif pada malam hari. Ular, katak, dan ngengat adalah beberapa di antaranya.
Kehadiran mereka kala malam membuat hutan terasa terus berdetak.
Akhir Mei 2021 lalu saya menjelajah hutan mencari Tarsius. Mencari Tarsius sebagai objek. Objek sasaran kamera.
Saya mengawal Eko Cahyo, fotografer satwa liar asal Balikpapan, Kalimantan Timur. Rasa penasaran akan Tarsius fuscus dan julang sulawesi mengantarkannya hingga ke Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.
Teknologi komunikasi memudahkan saya dan Eko bertemu. Sore itu kami kopi darat di bawah gerbang kupu-kupu Bantimurung.
Bersama sang pawang tarsius taman nasional, kami menerabas hutan berbatu gamping taman nasional.
Mencari kedua satwa incaran. Rangkong menjadi sasaran pertama. Pado, petugas taman nasional, bersama kami hari itu. Pado menjadi pemandu kami. Pado mengantar kami mengunjugi lokasi terakhir ia bersua dengan rangkong. Ia bersua beberapa hari sebelumnya.
[irp]
Saat tiba di lokasi, hari masih terang. Kumandan azan Ashar belum lama berlalu.
Saat tiba di spot tujuan, Pado menunjukkan pohon singgah sang burung Julang sulawesi, Aceros cassidix. Kami menunggu kedatangannya. Begitulah pehobi fotografi satwa. Kudu sabar dan tabah.
"Lebih baik menunggu dari pada mengejar," ujar Eko. Sebagai tukang foto berpengalaman, ia telah menyiapkan peralatan pertempuran lengkap. Termasuk seragam tempurnya.
Untuk alat fotografi, Eko telah menyiapkan peralatan standar: kamera plus lensa tele dan tripod. Untuk penyamaran, Eko memakau kamuflase. Baju yang serupa angkatan bersenjata. Baju yang mirip dengan warna di alam: coklat dan hijau.
Saya, Eko, dan Pado, menunggu. Terus menunggu. Hingga tak terasa sudah lebih dari sejam. Pado menyarankan untuk menyudahi. "Sepertinya tidak ada tanda-tanda alo'nya mau datang," ujar Pado, pemandu taman nasional, berpengalaman itu.
Pado juga melihat jamnya. Sudah hampir pukul 17.00 Wita. Saatnya mencari satwa incaran kedua: Tarsius.
"Tarsius sudah mau keluar dari sarang. Ayo kita menuju spot," ajak Pado.
Saya dan Eko dengan sigap mengikuti ajakan Pado.
[irp]
Pado cukup mengenal hutan di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Apalagi di wilayah Resor Pattunuang. Ia sehari-hari bertugas di sana. Belum lagi Pado adalah warga asli di kampung itu.
Kelihaiannya mengamati satwa menjadi daya tariknya. Tak hanya itu, peneliti juga begitu membutuhkan kepiawaiannya.
[caption id="attachment_21978" align="alignnone" width="620"] Sepasang julang sulawesi bertengger pada pohon yang berada di puncak menara karst. Foto: Usman[/caption]
Pado dengan penuh semangat berjalan menuju titik pengamatan kedua. Lokasi yang menjadi tempat hidup Tarsius fuscus. Habitatnya berupa hutan yang berada di batuan gamping.
"Tarsius di sini bersarang di celah-celah batu karst. Mereka biasanya mencari batu yang berlubang. Beda di tempat lain. Seperti di Tangkoko mereka bersarang di pohon beringin atau bambu," terang Pado.
Pado memimpin saat mulai menerabas hutan berbatu gamping. Saya dan Eko selalu siaga dengan kamera di tangan. Selang beberapa lama, Pado memelankan langkahnya. Pertanda lokasi habitat tarsius sudah dekat.
Tak lama kemudian, Pado, mulai menunjuk ke arah batu cadas di depannya. "Di sana tarsiusnya," Pado memberi tahu.
Eko saya persilahkan untuk mendekat. Mengikuti petunjuk Pado. "Wah.. Tarsiusnya bersembunyi di batu. Masih malu-malu keluar," Eko berbisik.
[irp]
Kami kemudian menunggu sang satwa keluar dari sarang. Setelah beberapa saat ternyata balao cangke-nya keluar di lain arah. Kami coba mengikutinya. Namun tak membuahkan hasil. Ia melompat dengan lihainya.
Batu berduri menghadang di mana-mana. Menyulitkan kami menyusulnya.
Pado kembali memberi kode untuk menyudahi pencarian.
Pado masih punya lokasi lain yang menjadi tempat beraktivitas tarsius. Kali ini lokasinya cukup jauh dari lokasi pertama. Harus berkendara lagi menuju lokasi.
Lokasinya tak jauh dari sungai. Situasi habitatnya hampir sama -- berbatu gamping.
Saat hampir tiba di lokasi pengamatan tarsius, beberapa ekor julang sulawesi melintas di atas sungai.
Eko dengan sigap membidikkan kameranya. "Sayang, enggangnya terlalu jauh. Kamera saya tak sanggup menjangkaunya," keluh Eko.
Julang sulawesi terbang berdua. Sepertinya akan kembali ke pohon tidur. Mengunjungi pohon yang berada di puncak menara karst. Begitu tinggi. Lebih dari 500 meter. Membuatnya terlihat lebih mini. Meski dengan lensa tele sekali pun.
Eko cukup senang. Bisa melihatnya secara langsung. Ia hanya kecewa tak mampu mengabadikannya.
[irp]