Saatnya Utamakan Peran Vegetasi untuk Cegah Longsor
Klikhijau.com - Badan Litbang dan Inovasi (BLI) KLHK akan menyongsong usia 107 tahun. Pada usia yang tersebut BLI melalui Pusat Litbang Hutan (Puslitbanghutan). Tengah mengembangkan salah satu teknik...
Klikhijau.com - Badan Litbang dan Inovasi (BLI) KLHK akan menyongsong usia 107 tahun. Pada usia yang tersebut BLI melalui Pusat Litbang Hutan (Puslitbanghutan). Tengah mengembangkan salah satu teknik untuk mengurangi kerawanan longsor melalui Soil Bioengineering. Teknik ini mengutamakan peran dari vegetasi, baik pohon, rumput, atau semak dalam penanganan pengurangan kerawanan longsor.
“Pada prinsipnya, bagaimana supaya jumlah air hujan itu sebanyak mungkin diinfiltrasikan atau diserapkan ke dalam tanah, yaitu dengan memperbanyak vegetasi. Karena sebagian besar air sudah terserap, maka air limpasan tidak terlalu banyak. Kecepatannya pun dapat diperlambat dengan bangunan sipil teknis kehutanan. Jadi, prinsip selanjutnya untuk memperlambat run off atau air limpasan. Sehingga daya ‘rusak’ air terhadap tanah berkurang,” jelas Peneliti Puslitbanghutan Prof. Chairil Anwar Siregar (CAS), Selasa, 21 Januari 2020.
Prof. CAS juga menjelaskan tingkat kelerengan tanah berpengaruh besar terhadap longsor. Oleh karena itu, keberadaan vegetasi diperlukan untuk memperlambat run off, memperkecil daya abrasi, sekaligus menjaga kestabilan lereng.
“Longsor terkait dengan kemiringan lereng (slope), dan ini hal yang paling kritis, karena pada malam hari temperature turun, molekul air membesar, partikel tanah terangkat, dan saat siang hari temperatur tanah kembali normal, dan terjadi perpindahan partikel tanah (soil creep). Jika hal ini terjadi di tanah datar, maka akan kembali ke tempat semula, tapi jika di tanah miring, dengan dukungan gravitasi, maka tanah akan meluncur. Sepanjang permukaan tanah bervegetasi bagus, perakarannya bagus, infiltrasi akan aliran bagus, namun jika di daerah miring, air limpasan (run off) yang terjadi akan cepat sekali,” tuturnya.
[irp]
Sedangkan Dr. Budi Hadi Narendra, yang juga Peneliti BLI KLHK, menyampaikan kestabilan lereng ini dipengaruhi kondisi morfologi, khususnya kemiringan lereng, kondisi batuan atau tanah penyusun lereng, dan kondisi hidrologi atau tata air pada lereng.
“Sedangkan pemicu longsor itu sendiri berasal dari peningkatan kandungan air dalam lereng karena hujan, getaran saat gempa bumi, serta peningkatan beban seperti bangunan, atau pohon yang terlalu rimbun sehingga melampaui kuat geser tanah, pemotongan kaki lereng yang mengakibatkan menurunnya gaya penyangga, dan susutnya muka air yang cepat di danau/waduk, yang dapat menurunkan gaya penahan lereng,” jelas Budi mengutip hasil penelitian Susilawati dan Veronika pada tahun 2016 lalu.