Saatnya Meredam Suara dengan Popok Bekas

Klikhijau.com – Penggunaan popok sekali pakai (pospak) jadi persoalan tersendiri. Kehadirannya sangat membantu, seorang ibu tak harus sering mencuci celana buah hatinya. Namun di sisi lain juga men...

Saatnya Meredam Suara dengan Popok Bekas
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com – Penggunaan popok sekali pakai (pospak) jadi persoalan tersendiri. Kehadirannya sangat membantu, seorang ibu tak harus sering mencuci celana buah hatinya.

Namun di sisi lain juga mengancam lingkungan yang bisa berakibat fatal kepada manusia dan hewan. Perlu diingat limbah popok bercampur dengan kotoran manusia.

Pospak juga mengandung senyawa kimia Super Absorbent Polymer (SAP) sebanyak 42 persen yang akan berubah bentuk menjadi gel saat terkena air.

Apabila terurai dalam air, zat kimia ini dapat berbahaya bagi lingkungan. Bahkan, meskipun dihilangkan dengan cara dibakar, gel di dalam pospak tak dapat terbakar dengan baik. Karena itu pospak jadi masalah lingkungan yang harus dicarikan solusinya.

Beruntunglah, ada sosok seperti Prabang Setyono yang menyulap limbah pospak jadi bernilai ekonomi dan bisa menyelamatkan lingkungan.

Prabang yang merupaka Dosen Ilmu Lingkungan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo mengubah pospak jadi prototipe panel akustik atau peredam suara dalam ruang.

Upaya Prabang menciptakan peredam suara dari popok bekas tidak berjalan instan. Ia melakukan sebuah penelitian selama delapan bulan sejak 2018.

Ubah kebiasaan impor

Penelitian yang dilakukan dosen, yang juga menjabat Kepala Program Studi (Kaprodi) Ilmu Lingkungan UNS tersebut berawal dari keresahan.

Ada dua poin yang membuatnya resah, pertama ia melihat keberadaan limbah pospak yang sulit terurai dan jumlahnya sangat besar di Indonesia.

Dan poin kedua, sebagai bentuk ‘kritik’ pola kebiasaan impor peredam suara atau panel akustik berbahan glasswool di Indonesia yang memiliki harga cukup mahal.

Ia menganggap pola impor harus diubah, karenanya ia ingin menyediakan barang yang murah dan terjangkau bagi daya beli masyarakat.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2