Rumput Laut dari Tangan Ibu-ibu Pulau Sembilan
Klikhijau.com - Rumput Laut menjadi komoditas ekspor utama untuk sektor kelautan dan perikanan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini disebabkan tingginya permintaan dalam dan luar negeri un...
Klikhijau.com - Rumput Laut menjadi komoditas ekspor utama untuk sektor kelautan dan perikanan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini disebabkan tingginya permintaan dalam dan luar negeri untuk bahan baku khas pesisir laut ini.
Melimpahnya permintaan bahan baku rumput laut disebabkan banyaknya jenis komoditas industri yang menggunakan rumput laut sebagai bahan baku utamanya.
Pada 2019 lalu, Indonesia merajai pasar perdagangan global untuk komoditas rumput laut. Data dari FAO (Food and Agriculture Organization) mencatat, Indonesia menguasai sebesar 80% perdagangan global rumput laut untuk jenis Eucheuma cottoni.
Sementara itu, menurut pemaparan Kadis Kelautan dan Perikanan Sulsel, Sulkaf S Latief dikutip dari Bisnis.com menjelaskan bahwa Sulawesi Selatan menyumbang 30% dari total perdagangan rumput laut nasional.
Banyaknya ketersediaan rumput laut tak bisa dilepaskan dari usaha budidaya rumput laut yang biasanya dilakukan masyarakat pesisir. Di Sinjai, tepatnya Pulau Buhung Pitue, salah satu pulau dari 9 pulau di kecamatan Pulau Sembilan menjadi salah satu daerah penghasil rumput laut terbesar di Kabupaten Sinjai.
Melalui tangan puluhan ibu-ibu istri nelayan yang begitu lihai mengikat bibit rumput laut di sela-sela tali kapal, agar-agar kemasan yang berbahan rumput laut dihidangkan di meja keluarga di daerah lain.
[irp]
Dari sudut pinggiran pulau Buhung Pitue, terlihat puluhan ibu-ibu duduk melingkar, mengitari bibit rumput laut yang siap diikat. Aktivitas ini dilakukan mereka setiap harinya, dimulai sejak pagi hari hingga menjelang sore. Kegiatan mengikat rumput laut sebenarnya terlihat cukup sederhana.
Para ibu ini hanya perlu mengikat bibit rumput laut dengan cara memasukan batang bibit ke dalam lingkaran tali kapal sembari mengencangkan ikatannya. Karena alasan ini juga, sebagian besar ibu-ibu ini memilih bekerja sebagai pengikat bibit rumput laut, “karena pekerjaannya cukup mudah,“ ujar salah satu dari mereka.
Alasan lainnya menurut penuturan mereka, karena para ibu ini tak memiliki pekerjaan lain, terutama di rumah-rumah mereka. Sebab para suami mereka tengah berjuang di tengah laut lepas. Sebagian besar lelaki dewasa di pulau ini bekerja sebagai nelayan penangkap ikan tongkol atau disebut pa’tongkolo.
Aktivitas ini memakan waktu yang cukup lama. Para nelayan yang didominasi oleh sawi (pekerja kapal) akan mengabdikan dirinya di kapal milik punggawa sampai selesainya masa kerja. Salah seorang pria renta yang dulunya juga seorang sawi menjelaskan, “biasanya paling cepat 17 hari, kalau yang lama bisa 9 bulan di laut,” jelasnya.
Selain pekerjaan yang tak terlalu sulit, upah yang diterima para ibu ini dirasa cukup untuk dipakai makan sehari-harinya. Dalam pekerjaan mengikat rumput laut ini, upah dibayarkan dengan hitungan perkilonya.
[irp]
Setiap 1 kilo rumput laut yang mereka ikat akan diberi upah Rp. 3.500. Untuk satu harinya, sebagian besar ibu-ibu ini mampu mengikat 10 kilo rumput laut atau ditukar dengan upah Rp. 35.000. Upah mereka akan dibayar sekaligus jika telah mencapai nominal beberapa juta rupiah.
Salah seorang ibu menjelaskan, “uang ini untuk dipakai makan sehari-hari bersama anakku. Apalagi suamiku belum pulang selama beberapa bulan, jadi nelayan pattongkolo’ (penangkap ikan tongkol),” tuturnya.