Rumah Peradaban

Lelaki berkaca mines itu dengan tinggi badan sekitar 160 cm selalu bermimpi untuk kembali ke kampung halamannya. Diusianya yang sudah berkepala lima (58 tahun), ia ingin menikmati masa tuanya di kampu...

Rumah Peradaban
Bacakan Artikel

Lelaki itu pun berharap, jika istri dan anak satu-satunya itu setiap bulannya paling tidak mereka berlibur seminggu di kampung halamannya. Karena usahanya di kota sudah mapan. Lelaki itu memiliki usaha percetakan, rumah makan, apotik dan lain-lain. Semua usahanya itu dikendalikan oleh orang-orang kepercayaannya. Karena itu. keluarganya memiliki waktu yang cukup untuk menikmati hidup segar dan nyaman di kampung.

***

DUA tahun kemudian lelaki berkaca mines itu benar-benar menjadi kenyataan. Di atas tanah almarhum ayahnya yang luasnya 30 x 40 meter itu dibangunlah rumah peradaban, yang merupakan rumah panggung terasri di desa itu. Isinya ratusan judul buku-buku, barang antik, lukisan dan benda-benda bersejarah lainnya. Disekitar rumah panggung itu, juga tumbuh tanaman dan pohon yang menyejukkan.

Pokoknya, rumah panggung itu menjadi pusat peradaban baru di desa itu. Warga desa mulai dari anak-anak kecil, remaja hingga orang tua, ketika mereka pulang dari pasar, atau pulang dari berkebun, mereka menghabiskan waktunya membaca buku-buku di rumah peradaban, yang memang disiapkan secara gratis oleh lelaki berkaca mines itu.

Lelaki berkaca mines itu, kini sungguh-sungguh menikmati sisa hidupnya bersama keluarganya di desa yang dicintainya.[]


Biodata Penulis:

Muhammad Amir Jaya, lahir di Tanaberu (Selayar). Aktif menulis cerpen, esei, puisi dan opini diberbagai media massa. Kumpulan cerpennya yang terbaru Janda Perawan yang Dilempar Keluar Jendela. Dapat dihubungi melalui email: m.amirjaya@gmail.com atau HP 0852 5571 3450.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2