Transformasi Pengelolaan Sampah di Indonesia, Saatnya Mengakhiri Open Dumping

Transformasi Pengelolaan Sampah di Indonesia, Saatnya Mengakhiri Open Dumping
TPA Antang, Makassar-foto/Klikhijau
Bacakan Artikel
Reihan Zainal

Mahasiswa Magang dari Prodi Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Melihat hal tersebut menimbulkan pertanyaan bagi saya, “Lantas bagaimana kondisi atmosfer kita ke depannya jika solusi tidak ditemukan?”

Setelah melihat kedua fakta mencengangkan di atas, apakah sudah cukup? Ataukah hanya itu dampak buruk dari open dumping? Nyatanya tidak, dampak buruk dari open dumping ini juga merambat pada kasus kesehatan.

 Gesekan atau lapukan dari tumpukan sampah plastik akan menghasilkan mikroplastik yang berterbangan di udara, terbawa oleh aliran air, bahkan mungkin hinggap di makanan kita. Sehingga jangan heran jika kasus kanker, tumor, dan keracunan akan terus bertambah setiap tahunnya.

Belum lagi jika tumpukan sampah akibat open dumping tersebut mengalami kebakaran. Asap yang dihasilkan akan rentan mencemari udara, serta zat berbahaya yang dibawa oleh asapnya akan mengakibatkan gangguan pernapasan bagi masyarakat yang berada di sekitar tempat pembuangan sampah akhir.

Ekosistem yang rusak juga memungkinkan terjadi imbas dari open dumping. Bau busuk yang mengganggu serta kualitas lingkungan yang menurun menjadi alasan utama mengapa open dumping akan mengganggu ekosistem di sekitarnya. Bayangkan saja, di tempat yang seharusnya menjadi tempat tinggal hewan seperti capung, kupu-kupu, dan burung berganti menjadi tempat hidup bagi nyamuk dan lalat, hewan yang menjadi simbol bahwa keadaan lingkungan di sekitarnya sedang tidak baik-baik saja.

Dan yang terakhir adalah bagaimana isu ini merambat ke ranah sosial. Bagaimana tidak? Kasus overload akibat open dumping yang gagal ditangani pemerintah setempat akan memicu konflik antara masyarakat dengan sektor pemerintahan.

Masyarakat yang merasa terganggu pasti akan menuntut dengan dalih hak kesehatan. Namun  di sisi lain, pemerintah, entah karena sistemnya yang bobrok dan korup ataukah memang ketidakmampuan mereka dalam mengatasi permasalahan yang kian tak dapat dikendalikan imbas dari mekanisme open dumping yang telah berjalan di beberapa tahun terakhir.

Setelah melihat beberapa dampak buruk dari open dumping di atas, mungkin banyak dari kita akan memikirkan sebuah solusi. Jika ditanya solusi, pastinya dengan mudah kita akan mengatakan “stop aktivitas open dumping”. Namun,  apakah mengatakan akan semudah mengimplementasikan?

Bagi saya, solusi yang paling efektif untuk saat ini adalah merekonstruksi ulang cara pandang masyarakat terkait aktivitas di TPA, menyadarkan hingga ke lapisan masyarakat terkecil untuk sadar akan masalah besar yang ada di tengah-tengah kita saat ini. Banyak dari kita yang mungkin tidak tahu apa imbas dari adanya open dumping yang terus dilakukan. Pemerintah juga diharapkan dapat menghadirkan regulasi yang efektif akan persoalan tersebut.

 

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2
Editor

Tim Redaksi

Artikel ini disusun oleh tim redaksi