Slamet Resmi Jadi Penghuni Baru Taman Nasional Gunung Ciremai

[hijau]Sifat liar Slamet mengantarnya pada kebebasan[/hijau] Klikhijau.com – Namanya Slamet Ramadhan. Ia berjenis kelamin jantan.  Ia merupakan hasil evakuasi Tim Gugus Tugas Evakuasi Balai Besar K...

Slamet Resmi Jadi Penghuni Baru Taman Nasional Gunung Ciremai
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

[hijau]Sifat liar Slamet mengantarnya pada kebebasan[/hijau]

Klikhijau.com – Namanya Slamet Ramadhan. Ia berjenis kelamin jantan.  Ia merupakan hasil evakuasi Tim Gugus Tugas Evakuasi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat.

Slamet berhasil dievakuasi berkat kerjasama petugas Kebun Binatang Bandung, Kepolisian setempat. Juga pemerhati satwa, JAAN dan masyarakat sekitar Desa Cimalingping, Kasomalang, Subang.

Slamet Ramadhan merupakan nama macan tutul jawa (Panthera pardus melas). Ia berhasil dievakuasi itu dilakukan bulan lalu, tanggal 1 Juni 2019.

Slamet lalu  dititip rawat di Kebun Binatang Bandung. Kemudian dipindahkan ke Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga. Tujuannya untuk mendapatkan perawatan intensif dengan fasilitas kandang yang lebih luas.

Sembari menunggu proses pemulihan dan rehabilitasi. Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) melaksanakan serangkaian koordinasi dengan para pihak.

Di antaranya BBKSDA Jawa Barat, Balai TN Gunung Ciremai. Juga Forum Macan Tutul Jawa (Formata). Peduli Karnivor Jawa, SINTAS Indonesia, Pro Fauna dan Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan untuk menentukan lokasi pelepasliaran.

Di balik terpilihnya TN Gunung Ciremia

Lokasi pelepasliaran yang terpilih adalah Taman Nasional Gunung Ciremai. Pertimbangannya karena jumlah populasi macan dan kelimpahan satwa mangsa sebagai penentu daya dukung habitat.

Direktur Jendera Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, KLHK, Wiratno menyatakan, macan tersebut harus segera dilepasliarkan supaya sifat liarnya masih ada.

Akan tetapi karena lokasi pelepasliaran terbatas. Jadi, perlu dipadupadankan supaya ruang habitat satwa dan manusia  selaras dan hidup berdampingan secara harmonis.

“Identifikasi mitra di sekitar lokasi pelepasliaran terlebih dahulu perlu dilakukan. Terutama yang mempunyai informasi tentang persepsi masyarakat. Mampu mensosialisasikan pada tokoh-tokoh masyarakat sekitar. Gunanya agar bisa menerima hidup berdampingan dengan satwa tersebut.”, jelas Wiratno.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2