Slamet Resmi Jadi Penghuni Baru Taman Nasional Gunung Ciremai

oleh -185 kali dilihat
Slamet Resmi Jadi Penghuni Baru Taman Nasional Gunung Ciremai
Macan Tutul Jawa yang bernama Slamet Ramadhan/foto-dok KLHK
Irhyl R Makkatutu

[hijau]Sifat liar Slamet mengantarnya pada kebebasan[/hijau]

Klikhijau.com – Namanya Slamet Ramadhan. Ia berjenis kelamin jantan.  Ia merupakan hasil evakuasi Tim Gugus Tugas Evakuasi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat.

Slamet berhasil dievakuasi berkat kerjasama petugas Kebun Binatang Bandung, Kepolisian setempat. Juga pemerhati satwa, JAAN dan masyarakat sekitar Desa Cimalingping, Kasomalang, Subang.

Slamet Ramadhan merupakan nama macan tutul jawa (Panthera pardus melas). Ia berhasil dievakuasi itu dilakukan bulan lalu, tanggal 1 Juni 2019.

KLIK INI:  4 Orang Utan Dilepasliarkan di Rimba Kalimantan

Slamet lalu  dititip rawat di Kebun Binatang Bandung. Kemudian dipindahkan ke Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga. Tujuannya untuk mendapatkan perawatan intensif dengan fasilitas kandang yang lebih luas.

Sembari menunggu proses pemulihan dan rehabilitasi. Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) melaksanakan serangkaian koordinasi dengan para pihak.

Di antaranya BBKSDA Jawa Barat, Balai TN Gunung Ciremai. Juga Forum Macan Tutul Jawa (Formata). Peduli Karnivor Jawa, SINTAS Indonesia, Pro Fauna dan Fakultas Kehutanan Universitas Kuningan untuk menentukan lokasi pelepasliaran.

Di balik terpilihnya TN Gunung Ciremia

Lokasi pelepasliaran yang terpilih adalah Taman Nasional Gunung Ciremai. Pertimbangannya karena jumlah populasi macan dan kelimpahan satwa mangsa sebagai penentu daya dukung habitat.

KLIK INI:  Populasi Meningkat, Konservasi Satwa Liar Prioritas di Indonesia Libatkan Masyarakat

Direktur Jendera Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, KLHK, Wiratno menyatakan, macan tersebut harus segera dilepasliarkan supaya sifat liarnya masih ada.

Akan tetapi karena lokasi pelepasliaran terbatas. Jadi, perlu dipadupadankan supaya ruang habitat satwa dan manusia  selaras dan hidup berdampingan secara harmonis.

“Identifikasi mitra di sekitar lokasi pelepasliaran terlebih dahulu perlu dilakukan. Terutama yang mempunyai informasi tentang persepsi masyarakat. Mampu mensosialisasikan pada tokoh-tokoh masyarakat sekitar. Gunanya agar bisa menerima hidup berdampingan dengan satwa tersebut.”, jelas Wiratno.

KLIK INI:  Tim WRU BBKSDA Sulsel Lepasliaran Ular Sanca Kembang

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, KLHK, Indra Exploitasia, menjelasakan, upaya percepatan tahapan pelepasliaran telah dilakukan secara paralel. Mulai dari pembentukan tim, asesmen ekologi dan sosial masyarakat. Sosialisasi formal dan informal, serta rencana monitoring pasca pelepasliaran.

“Pelepasliaran harus melibatkan mitra dari desa-desa terdekat. Upaya–upaya tersebut melibatkan multipihak dan merupakan pembelajaran yang luar biasa”, ujar Indra.

Hal senada diutarakan oleh Kepala BBKSDA Jawa Barat, Amy Nurwaty. Menurut Amy tahapan dan penanganan lanjutan telah berjalan menggembirakan. Kondisi terkini hasil observasi menunjukkan macan dalam kondisi sehat dan siap dilepasliarkan.

Kuswandono, Kepala Balai TN Gunung Ciremai menerangkan, Site Leuweung Saeutik Blok Gunung Dulang, Seksi Pengelolaan TN Wilayah I Kuningan, TN Gunung Ciremai sebagai lokasi pelepasliaran telah dinyatakan kompeten dan cocok untuk habitat baru macan.(*)

KLIK INI:  Selamatkan Cagar Alam Air Rami, Ribuan Kelapa Sawit Dimusnahkan