Menyorot Pergerakan Kantong Plastik di Pasar Borong Rappoa, Bulukumba

Menyorot Pergerakan Kantong Plastik di Pasar Borong Rappoa, Bulukumba
Pembeli yang dibungkuskan belanjaannya dengan kantong plastik-foto/Ist
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

‎‎Pembeli menerimanya dengan tangan terbuka. Seolah tidak ada persoalan yang akan muncul di  dari apa yang baru saja diterimanya. Semuanya baik-baiknya saat itu, tapi tidak di kemudian hari.

‎Bisa dibayangkan, menurut Tempo (3 Juli 2022) data dari  Making Oceans Plastic Free (2017) setiap tahun Indonesia menggunakan kantong plastik rata-rata 182,7 miliar. Bobotnya mencapai 1.278.900 ton per tahunnya.

Tidak mengherankan jika sampah kantong plastik menyumbang setidaknya 40 persen dari keseluruhan limbah plastik di Indonesia. Dari jumlah yang menggunung itu, per tahun ada 511.560 ton pertahun kantong plastik yang digunakan masyarakat Indonesia berakhir ke lautan.‎ Ngerikan?

Tidak ada yang lepas dari kantong plastik

‎‎Dari penjual pakaian, saya bergerak ke penjual barang campuran. Barang yang dipenuhi dengan plastik, mulai kemasan hingga pembungkus yang digunakan untuk mengamankan barang belanjaan para pembeli. Di sini, plastik rasanya menjadi double.

‎‎Sama seperti penjual dan pembeli pertama yang saya lihat, tidak ada rasa bersalah. Tidak ada penolakan penggunaan kantong plastik. Dari situ, saya bergerak ke penjual sayur mayur, pemandangannya tetap sama. Semua belanjaan dibungkus dengan kantong plastik yang telah disiapkan.

‎‎Rasa nyaman dan aman sepertinya menjadi alasan utama sehingga pilihan tetap jatuh pembungkus  yang memakan waktu selama 10-20 tahun untuk terurai itu.

‎‎Sebenarnya, pemandangan seperti itu bukan hal yang baru, telah berkali-kali saya lihat, setiap ke pasar Borong Rappoa yang terletak di ibu kota Kecamatan Kindang, Bulukumba. Namun, baru hari ini, Jumat 25 September 2026 saya memerhatikannya dengan penuh atensi.

‎‎Apa hanya itu yang saya temukan. Tidak. Saya mencoba membeli alat listrik. Ukurannya kecil saja, setelah saya bayar, si penjual hendak memasukkannya ke kantong plastik, tapi saya menolaknya memilih memasukkannya ke kantong jaket.

Setelah itu, saya bergerak  ke penjual ikan, kue tradisional, nasi kuning hingga penjual tembakau dan hasil yang saya temukan tetap sama, mereka menggunakan kantong plastik untuk membungkus dagangan mereka lalu diserahkan kepada pembeli.

‎‎Bisa dibayangkan, berapa kantong plastik yang beredar di pasar itu, yang hari pasarnya dua kali seminggu, yakni Selasa dan Jumat. Para penjual, tidak peduli sekecil apa pun barang yang dibeli akan membungkusnya dengan kantong plastik. Anehnya, kantong plastik itu tidak dikenakan biaya. Semuanya free alias gratis.

‎‎Beberapa pedagang atau penjual yang saya tanya, apakah dibebankan biaya untuk kantong plastik. Jawaban mereka serupa, tidak. Gratis saja. Mungkin karena harganya yang dianggap receh, sehingga tidak perlu ada beban biaya tambahan pada bahan yang bikin puyeng itu saat terbuang ke lingkungan.

‎‎Ke mana setelah sampai di rumah?

Sejak di mana kantong plastik menjadi masalah? Apakah saat diproduksi, didistribusikan atau saat pedagang menyerahkannya kepada pembeli dengan dalih barang yang dibeli lebih aman dan terlindungi di dalam kantong plastik atau justru saat kantong plastik itu sampai di rumah si pembeli?.

Rasanya, semua kesemuanya punya andil yang sama dalam permasalah kantong plastik—yang hobi jatuh cinta dalam hal mencemari lingkungan.

Namun, saya lebih tertarik menebaknya saat kantong plastik itu sampai di rumah si pembeli.

Ketika si pembeli menerimanya dari si penjual. Hati akan terasa lebih tenteram. Belanjaan aman dalam pelukan si kantong, jika itu benda cair, maka saat tumpah tidak akan mudah merembes kemana-mana—bersilaturahmi dengan belanjaan lain.

Pun jika belanjaan itu mudah rusak saat terkena air, semisal saat hujan. Maka di dalam dekapan sang kantong plastik, barang itu akan aman. Sehingga ketika sampai, orang-orang di rumah bisa menyambutnya dengan gembira.

Sebagian dari kantong plastik yang diperoleh dari pasar itu, akan digunakan kembali. Bahkan berkali-kali. Ini pengalaman di rumah saya. Ibu dengan telaten akan menyimpan kantong plastik yang digunakan membungkus belanjaan.

Namun ada catatannya, ketika kantong itu masih bagus, tidak robek atau kotor. Ketika telah tidak layak pakai akan dicampakkan begitu saja. Paling banter berakhir jadi bahan bakar api. Yang tentu sangat tidak direkomendasikan dilakukan.

Namun, bagi desa yang tidak memiliki Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPA) membakar masih selalu jadi pilihan alternatif yang dianggap paling baik. Meski itu akan menyebabkan polusi udara yang berdampak buruk bagi kesehatan, juga ancaman kebakaran.

Sederhananya, sampah yang terbuang ke lingkungan, tidak dilakukan oleh pedagang, tetapi dilakukan oleh para pembeli ketika telah sampai di rumahnya.

Sampah yang dibuang itu, sebagian tinggal di daratan, separuhnya bergerak liar hingga jadi penghuni laut. Travis P. Wagner (2017) memperkirakan masyarakat dunia membuang 5 triliun sampah kantong plastik setiap tahunnya.

Menurut studi dari Jenna R. Jambeck dkk (2015), Indonesia termasuk penyumbang terbesar kedua sampah plastik ke laut. Cina berada dipuncak.

Bagaimana dengan kantong plastik dari pasar Borong Rappoa? Sangat mungkinkan di antara sampah plastik di laut,  ada kantong plastik yang berasal dari pasar yang jauh dari laut itu.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2
Editor

Tim Redaksi

Artikel ini disusun oleh tim redaksi