Hasil Riset WALHI Sulsel Temukan Perempuan Punya Strategi Bertahan Hidup Hadapi Krisis Iklim

Klikhijau.com - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Selatan (Sulsel) menggelar peluncuran dan diseminasi riset berjudul 'Identifikasi Pelanggaran HAM & Strategi Bertahan Hidup 'Surv...

Hasil Riset WALHI Sulsel Temukan Perempuan Punya Strategi Bertahan Hidup Hadapi Krisis Iklim
Bacakan Artikel

"Kajian ini penting karena secara teoritis, pergerakan pasir di laut akan selalu mencari keseimbangan. Jadi bisa saja apa yang terjadi di Kodingareng dan Galesong sehubungan dengan adanya abrasi mungkin dipengaruhi oleh adanya lubang yang besar akibat dari aktivitas penambangan pasir laut. Namun, sekali lagi memang ini butuh pendekatan oseanografi fisika untuk melihatnya," terang Kepala Pusat Studi Perubahan Iklim LPPM UNHAS.

Lingkungan berubah karena penambangan pasir

Berbeda dengan dua penanggap sebelumnya, Aflina Mustafainah dari Yayasan Pemerhati Masalah Perempuan (YPMP) justru menegaskan bahwa sebenarnya tidak dibutuhkan hal yang bersifat teknis untuk membicarakan soal HAM, sebab yang lebih diutamakan ialah fokus pada pengetahuan dan hak warga apa yang kemudian dilanggar.

"Saya kira WALHI Sulawesi Selatan sudah mencoba dengan berani untuk menegaskan ada indikasi pelanggaran HAM baik secara Omission maupun Commission pada kasus ini. Selain itu, perubahan iklim yang diperparah dengan penambangan pasir laut tentu saja akan sangat berdampak terhadap perempuan utamanya mengenai kesehatan reproduksi dan pengetahuan lokal perempuan. Nah, dalam konteks ini seharusnya pemerintah hadir dalam melindungi dan menghormati warganya," tutupnya.

Tanggapan terakhir dalam sesi ini yakni dari perwakilan perempuan Pulau Kodingareng dan Pesisir Galesong. Ibu Sita, salah seorang perempuan Pulau Kodingareng, menanggapi hasil riset ini dengan mengatakan bahwa apa yang dituliskan dalam laporan ini adalah sesuatu yang benar-benar kami alami.

"Bahkan sekarang kondisi kami di pulau sudah banyak anak-anak yang terpaksa harus putus sekolah dan banyak yang merantau. Kalau untuk abrasi, belakang rumah saya sekarang sudah tidak bisa di tempati satu rumah karena abrasi satu tahun yang lalu. Sampai saat ini pemerintah belum membeirkan solusi apapun kepada kami," keluhnya.

Sama halnya dengan Ibu Sita, Ibu Herlina juga mengungkapkan hal yang serupa di mana menurutnya saat ini  sudah banyak tetangga mereka yang harus pindah karena rumahnya rusak dan terancam abrasi.

"Sejak ada tambang pasir laut, lingkungan kami itu berubah. Kami sudah banyak pengalaman karena kami sejak kecil tinggal di sana, makanya kami bisa melihat dengan jelas perubahan itu. Galesong sekarang semakin hari semakin parah abrasinya," pungkas salah seorang perwakilan Perempuan Pesisir Galesong ini.

Rekomendasi WALHI

WALHI Sulsel pada publikasi hasil riset tersebut mengeluarkan beberapa rekomendasi:

Pertama, menghentikan aktivitas reklamasi dan tambang pasir laut yang telah terbukti menyengsarakan masyarakat baik secara ekonomi maupun sosial, dan juga memperparah kondisi iklim saat ini.

Kedua, merevisi RTRW Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2022-2041 yang masih melegalisasi zona tambang pasir laut dan reklamasi di Sulawesi Selatan.

Ketiga, segera mencabut PP No. 26 Tahun 2023 tentang Pengelolaan Hasil Sedimentasi di Laut karena akan mempercepat, memperluas dan melanggengkan kerusakan di pesisir, laut, dan pulau-pulau kecil.

Keempat, membentuk kelompok kerja perlindungan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil dalam memitigasi dampak krisis iklim yang saat ini tengah dirasakan oleh masyarakat.

Kelima, segera menyusun skema penyelamatan terhadap desa-desa dan pulau-pulau kecil yang saat ini terancam abrasi, banjir rob, dan perubahan iklim.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2