Belajar dari Strategi Amerika Serikat Mengantisipasi Limbah Pangan

Klikhijau.com – Limbah pangan yang bersumber dari sisa-sisa makanan memang jumlahnya paling besar saat ini. Sejumlah negara termasuk Indonesia mengeluhkan besarnya limbah pangan yang bisa mencapai di...

Belajar dari Strategi Amerika Serikat Mengantisipasi Limbah Pangan
Bacakan Artikel

Selain itu, upaya ini juga dapat menghindari 6 juta ton CO2 emisi ekuivalen, dan mengakselerasi  kesuburan tanah dan keuntungan bagi perkebunan dan peternakan (dalam hal ini yang dibahas kondisi di Amerika Serikat).



  • Memperluas donasi pangan dan insentif



Fakta menunjukkan bahwa tidak sampah 10 persen dari kondisi suprlus pangan yang bisa didonasikan. Mengapa? Kebanyakan, kelebihan pangan hanya akan terbuang sia-sia.

Faktanya, di Amerika Serikat, satu dari 10 keluarga mengalami kekurangan pangan untuk bisa memberi makan anggota keluarga selama 2019 (bahkan ini terjadi sebelum pandemi).

Bagaimana? Kondisi di lapangan memperlihatkan, donor pangan hanya memperoleh bonus keringanan pajak saat mereka berdonasi pada organisasi amal.

Rencana kebijakan merekomendasikan untuk menambah opsi keringanan pajak pada mereka yang memberikan donasinya di luar organisasi seperti supermarket sosial yang menjual bahan makanan dengan potongan harga yang tinggi.

Solusi lain, memperluas program pandemi yang menciptakan rantai pasok baru antara petani dan konsumen.

Lalu, bagaimana dampaknya? Dipastikan skema ini dapat menekan angka kelaparan dan menaikkan taraf kesejahteraan petani.



  • Mengatur ulang label kadaluarsa makanan



Fakta di Amerika menunjukkan bahwa ada sekitar 85 persen warganya yang membuang makanan masih layak konsumsi akibat label kadaluarsa.

Merespons hal ini, Asosiasi Industri Pangan (di Amerika), lembaga perdagangan pangan, menginginkan agar pelabelan kadaluarsa pada makanan diatur ulang. Caranya dengan penggunaan dua label.

Label pertama adalah “best by” ini merujuk pada kondisi makanan yang relatif masih aman dikonsumsi meski cita rasa atau kandungan gizinya telah berkurang.

Label kedua adalah “use by”, di mana saat makanan melewati tanggal ini, berarti pangan harus benar-benar dibuang karena alasan keamanan bagi kesehatan.

Dengan skema kebijakan ini akan menyelamatkan lebih dari setengah juta ton pangan. Hal itu berarti dapat menghemat sebesar USD 2 miliar (lebih dari Rp 29 triliun) per tahun.

Kabarnya, rencana strategis ini sedang dalam proses pengajuan ke pihak Administratif Kongres di Amerika. Bila ini berhasil diterapkan, tentu bisa berdampak serius bagi pemulihan lingkungan.

Namun, yang terpenting adalah negara-negara dengan problem sampah organik semisal Indonesia juga dapat meniru skema kebijakan ini.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2