Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Ragam

Produksi Tinggi dan Daur Ulang Rendah, Ancaman Plastik Semakin Mencekik

Klikhijau.com – Planet vs Plastik jadi tema yang dipilih pada peringatan Hari Bumi (Earth Day) tahun ini. Hari Bumi sendiri diperingati setiap tanggal 22 April di tahun berjalan. Hari Bumi pertama...

Oleh Tim Redaksi 01 May 2024 23:55 4 menit baca
Klikhijau.com – Planet vs Plastik jadi tema yang dipilih pada peringatan Hari Bumi (Earth Day) tahun ini. Hari Bumi sendiri diperingati setiap tanggal 22 April di tahun berjalan. Hari Bumi pertama kali diperingati pada tahun 1970. Tahun ini telah memasuki peringatan ke 54. Setiap tahun, temanya akan berbeda-beda. Tahun ini, temanya memasukkan plastik sebagai titik fokus. Pilihan itu bukan tanpa alasan. Plastik saat ini semakin mencekik dan telah menjadi ancaman sangat serius bagi planet ini. Di mana-mana dengan sangat mudah kita akan menemukan plastik, baik yang belum menjadi sampah maupun yang telah menjadi sampah. Jenisnya sangat beragam. Semua jenis itu membawa petaki bagi bumi. [irp] Menurut United Nations Environment Programme (UNEP) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) setiap menit ada sejuta botol plastik yang dibeli. Lima triliun kantong plastik digunakan setiap tahun. Mirisnya, produksi plastik dominan dirancang untuk sekali pakai saja. Lebih miris lagi, produksi sampah plastik yang menggunung, tidak disertai dengan daur ulang yang memadai. Pada 22 Februari 2022 lalu misalnya, Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) melaporkan kurang dari 10 persen sampah plastik yang berhasil didaur ulang di seluruh dunia. Di Indonesia menurut laporan lembaga Sustainable Waste Indonesia tahun 2023,  tingkat daur ulang ( recycle rate ) baru menyentuh angka 7%. Satu-satunya jenis plastik yang tingkat daur ulangnya cukup tinggi hanya  jenis plastik jenis PET. Jenis ini lazim digunakan untuk kemasan AMDK botol dan galon). Tingkat daur ulang untuk jenis ini mencapai 75 persen. Menurut laporan Lawrence Berkeley National Laboratory di Amerika Serikat bulan lalu, produksi plastik secara global menyumbang sekitar lima persen emisi bahan bakar fosil. Jumlah itu bisa meningkat hingga 20 persen pada akhir abad ini jika tidak dikendalikan. [irp] Sampah plastik yang tidak didaur ulang itu menjelma jadi petaka bagi planet ini. Karena itu, butuh perlawanan untuk mengendalikannya. Saat ini, kampanye secara global mulai bermunculan. Kampanye itu menuntut penghapusan plastik sekali pakai (PSP). Karena dampak negatifnya sangat signifkan, keberadaannya mencemari lautan, darat dan memenuhi tempat pembuangan sampah (TPS) selama berpuluh-puluh tahun. Phaedra Pezzullo, lektor kepala di University of Colorado Boulder, menekankan pentingnya mengangkat tema plastik untuk memperingati Hari Bumi, karena plastik telah menjadi masalah global. Ia menjelaskan, sebanyak 400 juta ton sampah plastik yang dihasilkan oleh manusia. Jumlah yang sangat fantastik. Angka tersebut meningkat hingga 19.000% dalam satu abad terakhir. “Kita semua diperkirakan mengonsumsi plastik seukuran satu kartu kredit setiap minggunya, dan (para peneliti) telah mendeteksi adanya plastik atau mikroplastik di paru-paru dan plasenta manusia di setiap sudut bumi. Jadi kita semua menjadi semakin ‘seperti plastik’, meskipun kita tidak tahu apa artinya itu,” ujarnya dinukil dari VOA. [irp] Sebuah studi yang dipelopori World Wildlife Fund (WWF) International pada tahun 2019 menyebut bahwa polusi plastik begitu mencemari lingkungan sehingga manusia berpotensi menelan lima gram plastik per minggu, atau setara dengan berat satu kartu kredit plastik. “Setiap daerah perlu mendiskusikan solusi apa yang tepat di sana. Dan tentu saja, secara global, kita juga membutuhkan jawaban. Kita butuh solusi diplomatik internasional,” tambahnya.
Mendapat tantangan
Komite Negosiasi Antarpemerintah Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tanggal 23-20 April lalu mengadakan sesi keempat untuk mengembangkan perjanjian internasional yang mengikat secara hukum mengenai polusi plastik di Ottawa, Kanada. Sayangnya, banyak  negara yang berbeda pendapat mengenai isi perjanjian penting tersebut. di antara negara yang berbeda pendapat adalah Arab Saudi dan Tiongkok, yang menentang pembatasan dan larangan produksi. [irp] Padahal pada tahun 2022, negara-negara sepakat untuk mencapai kesepakatan yang mengikat secara hukum pada bulan Desember 2024 yang menangani seluruh siklus hidup plastik. Namun, ketika pembicaraan dimulai, terdapat penolakan dari beberapa pemerintah dan kepentingan petrokimia sebagai tanggapan terhadap seruan pelarangan atau pembatasan produksi beberapa bahan kimia berbahan bakar fosil. “Proses ini tidak diragukan lagi merupakan proses yang dipercepat dan ambisius, karena kita tidak punya waktu puluhan tahun untuk bertindak,” kata Inger Andersen , direktur eksekutif Program Lingkungan PBB, dikutip dari Reuters. Menurut  Judith Enck, mantan pengelola regional Environmental Protection Agency yang kini menjadi ketua lembaga advokasi Beyond Plastics di AS bahwa memusnahkan plastik adalah sebuah tugas berat, tetapi langkah-langkah kecil yang kita lakukan bisa memberi perubahan besar. [irp]
Topik terkait
#hari bumi #ancaman plastik #daur ulang plastik #produksi plastik