Polusi Udara di Sejumlah Kota Indonesia Memburuk Sepanjang Tahun 2021
Klikhijau.com - Berdasarkan hasil pengamatan satelit di tujuh lokasi yang terdiri dari lima kota besar dan dua lokasi PLTU di Indonesia, polusi udara khususnya NO2 (nitrogen dioksida) kembali memburuk...
Klikhijau.com - Berdasarkan hasil pengamatan satelit di tujuh lokasi yang terdiri dari lima kota besar dan dua lokasi PLTU di Indonesia, polusi udara khususnya NO
Dalam laporan terbaru Greenpeace Indonesia, sejumlah temuan menarik didapatkan dari analisa pengamatan satelit, yakni:
[irp]
2
(nitrogen dioksida) kembali memburuk sepanjang April-Juni 2021.
Hal ini bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, di saat berlaku kebijakan pembatasan sosial secara ketat di banyak wilayah untuk merespons situasi pandemi Covid-19.
“Seiring dengan pelonggaran mobilitas warga selama April-Juni tahun ini, polusi NO2
kembali bergerak naik di lima kota besar. Catatan penting lainnya, pengamatan kami di dua lokasi PLTU di Banten, tingkat polusinya rata-rata terus meningkat selama beberapa tahun terakhir. Ini ancaman ganda, baik dari transportasi dan pembangkit listrik batu bara, bagi masyarakat sekitar khususnya kelompok rentan,” ujar Bondan Andriyanu, Jurukampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia.
Kabut asap polusi udara menyelimuti kota Jakarta. Kualitas udara semakin memburuk karena polusi tinggi dari aktivitas kendaraan dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap Batu bara di sekeliling Jakarta.
- Jumlah kolom atmosfer NO2lebih rendah pada periode April-Juni 2020 dibandingkan tahun sebelumnya di lima (5) kota besar di Indonesia yang diteliti: Jakarta -35%, Bandung -20%, Surabaya -11%, Medan -26%, Semarang -24%.
- Sepanjang April-Juni 2021, jumlah NO2terukur lebih tinggi di semua lokasi ini dibandingkan periode yang sama di tahun 2020: Jakarta +54%, Bandung +34%, Surabaya +20%, Medan +9%, Semarang +31%, PLTU Cilegon PTIP +31% dan PLTU Suralaya +39%.
- Sementara itu, kadar NO2di sekitar PLTU Cilegon PTIP (PT Indorama Petrochemicals) lebih tinggi 9% pada periode April-Juni 2020 dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Kadar NO2di sekitar PLTU Suralaya lebih rendah 12% pada April-Juni 2020 dibandingkan periode sama tahun 2019, tetapi tetap di atas level tahun 2018.
2
merupakan faktor risiko utama untuk kondisi kesehatan yang buruk, termasuk kematian dini. Untuk mencegah dampak buruk bagi kesehatan manusia berlanjut di masa depan, Indonesia harus menghentikan penggunaan bahan bakar fosil sesegera mungkin dan mendukung pengembangan transportasi publik massal berorientasi emisi rendah hingga nol emisi,” ucap Aidan Farrow, peneliti dari Greenpeace International Science Unit.
*Sumber: greenpeace.org
[irp]