Polusi Plastik Mengubah Proses Seluruh Sistem Bumi

Klikhijau.com - Polusi plastik masih setia jadi masalah serius bagi planet ini. Masalah yang ditimbulkan pun semakin meluas. Terbaru, sebuah analisis ilmiah mengungkapkan, plastik  mengubah proses sel...

Polusi Plastik Mengubah Proses Seluruh Sistem Bumi
Bacakan Artikel

Pada pembicaraan terakhir di bulan April, negara-negara maju dituduh tunduk pada tekanan dari pelobi bahan bakar fosil dan industri untuk menghindari pengurangan produksi.

Pertemuan di Korea Selatan, yang dimulai pada tanggal 25 November, menandai kesempatan langka bagi negara-negara untuk mencapai kesepakatan guna mengatasi krisis polusi plastik global.

Studi baru tentang polusi plastik meneliti bukti-bukti yang semakin banyak tentang dampak plastik terhadap lingkungan, kesehatan, dan kesejahteraan manusia.

Para penulis mendesak para delegasi di pembicaraan PBB untuk berhenti memandang polusi plastik hanya sebagai masalah limbah, dan sebagai gantinya menangani aliran material melalui seluruh jalur kehidupan plastik, dari ekstraksi bahan baku, produksi dan penggunaan, hingga pelepasannya ke lingkungan dan nasibnya, serta dampaknya terhadap sistem Bumi.

“Penting untuk mempertimbangkan siklus hidup penuh plastik, mulai dari ekstraksi bahan bakar fosil dan produksi polimer plastik primer,” kata penulis utama artikel tersebut, Patricia Villarrubia-Gómez, di Stockholm Resilience Centre.

Polusi plastik ubah proses seluruh sistem Bumi

Tim peneliti menunjukkan bahwa polusi plastik mengubah proses seluruh sistem Bumi, dan memengaruhi semua masalah lingkungan global yang mendesak, termasuk perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, pengasaman laut, dan penggunaan air tawar dan daratan.

“Plastik dianggap sebagai produk inert yang melindungi produk favorit kita, atau yang memudahkan hidup kita dan dapat “dengan mudah dibersihkan” setelah menjadi limbah,” kata Villarrubia-Gómez.

Gomes menambahkan bahwa  hal tersebut jauh dari kenyataan. Plastik terbuat dari gabungan ribuan bahan kimia. Banyak di antaranya, seperti pengganggu endokrin dan bahan kimia yang tidak dapat digunakan lagi, menimbulkan racun dan membahayakan ekosistem serta kesehatan manusia. Kita harus melihat plastik sebagai gabungan bahan kimia yang kita gunakan sehari-hari.”

Sifat inert merupakan sifat tidak bereaksinya sebuah kemasan terhadap produk yang dibungkusnya.

Pembicaraan perjanjian plastik telah menarik banyak pelobi dari industri dan bahan bakar fosil. Pada pembicaraan terakhir di Ottawa, Kanada, 196 pelobi mendaftar , naik dari 143 yang mendaftar pada diskusi sebelumnya di Nairobi.

Sebagian besar plastik sekali pakai (98%) terbuat dari bahan bakar fosil, dan tujuh perusahaan penghasil plastik teratas adalah perusahaan bahan bakar fosil, menurut data tahun 2021 .

Ketua perundingan perjanjian PBB mengatakan bahwa seluruh siklus hidup plastik harus dimasukkan dalam mandat tersebut.

"Yang jelas, kita tidak dapat mengelola jumlah plastik yang kita produksi," kata Luis Vayas Valdivieso, yang juga merupakan duta besar Ekuador untuk Inggris.

Ia menambahkan bahwa hanya 10% dari plastik tersebut yang didaur ulang, sesuatu perlu dilakukan, dan itulah mengapa negosiasi ini sangat penting. Kita perlu memiliki pendekatan siklus hidup secara menyeluruh.

Prof Bethanie Carney Almroth, dari Universitas Gothenburg, salah satu penulis laporan tersebut, mengatakan bahwa kita sekarang menemukan plastik di wilayah paling terpencil di planet ini dan di tempat yang paling intim, di dalam tubuh manusia. Dan kita tahu bahwa plastik adalah bahan yang kompleks, yang dilepaskan ke lingkungan selama siklus hidup plastik, yang mengakibatkan kerusakan pada banyak sistem.

“Solusi yang ingin kami kembangkan harus mempertimbangkan kompleksitas ini, dengan memperhatikan aspek keselamatan dan keberlanjutan secara menyeluruh untuk melindungi manusia dan planet ini,”tegasnya.

Dari The Guardian

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2