Polusi Plastik Mengubah Proses Seluruh Sistem Bumi
Klikhijau.com - Polusi plastik masih setia jadi masalah serius bagi planet ini. Masalah yang ditimbulkan pun semakin meluas. Terbaru, sebuah analisis ilmiah mengungkapkan, plastik mengubah proses sel...
Klikhijau.com - Polusi plastik masih setia jadi masalah serius bagi planet ini. Masalah yang ditimbulkan pun semakin meluas. Terbaru, sebuah analisis ilmiah mengungkapkan, plastik mengubah proses seluruh sistem Bumi.
Tidak hanya itu, plastik juga memperburuk perubahan iklim, merampas keanekaragaman hayati, pengasaman laut, penggunaan air tawar dan daratan.
Plastik telah merasuk ke seluruh dunia. Tidak ada tempat yang selamat. Pada tahun 2022 lalu ditemukan setidaknya 506 juta ton plastik diproduksi di seluruh dunia.
Sayangnya dari sekian banyak itu, hanya 9% yang didaur ulang secara global. Sisanya dibakar, ditimbun, atau dibuang di tempat yang dapat mencemari lingkungan.
[irp]
Karenanya jangan heran jika plastik, khususnya turunannya yakni mikroplastik kini ada di mana-mana, dari puncak Gunung Everest hingga Palung Mariana yang merupakan titik terdalam di bumi.
Bukan hanya itu, mikroplastik bahkan ditemukan telah menghuni organ penting manusia, misalnya otak.
Karena itu, para penulis mengatakan plastik tidak boleh diperlakukan sebagai masalah limbah saja, tetapi sebagai produk yang membahayakan ekosistem dan kesehatan manusia.
Para penulis memberikan peringatan mereka beberapa hari sebelum pembicaraan terakhir dimulai di Korea Selatan untuk menyetujui perjanjian global yang mengikat secara hukum untuk mengurangi polusi plastik.
Perlu diingat bahwa Perjanjian Plastik Global diinisiasi pada tahun 2022. Negosiasi terakhir untuk menyetujui perjanjian ini akan diselenggarakan pada 25 November hingga 1 Desember 2024 di Busan, Korea Selatan
[irp]
Kemajuan menuju perjanjian tentang polusi plastik telah terhambat oleh pertikaian mengenai perlunya memasukkan pemotongan industri produksi plastik senilai $712 miliar dalam perjanjian tersebut.
Pada pembicaraan terakhir di bulan April, negara-negara maju dituduh tunduk pada tekanan dari pelobi bahan bakar fosil dan industri untuk menghindari pengurangan produksi.
Pertemuan di Korea Selatan, yang dimulai pada tanggal 25 November, menandai kesempatan langka bagi negara-negara untuk mencapai kesepakatan guna mengatasi krisis polusi plastik global.
Studi baru tentang polusi plastik meneliti bukti-bukti yang semakin banyak tentang dampak plastik terhadap lingkungan, kesehatan, dan kesejahteraan manusia.
Para penulis mendesak para delegasi di pembicaraan PBB untuk berhenti memandang polusi plastik hanya sebagai masalah limbah, dan sebagai gantinya menangani aliran material melalui seluruh jalur kehidupan plastik, dari ekstraksi bahan baku, produksi dan penggunaan, hingga pelepasannya ke lingkungan dan nasibnya, serta dampaknya terhadap sistem Bumi.
[irp]
“Penting untuk mempertimbangkan siklus hidup penuh plastik, mulai dari ekstraksi bahan bakar fosil dan produksi polimer plastik primer,” kata penulis utama artikel tersebut, Patricia Villarrubia-Gómez, di Stockholm Resilience Centre.