Politik Ekstraktif: Menelisik Oligarki di Kabinet Prabowo-Gibran
Klikhijau.com - Di bawah langit politik yang baru, Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka membawa narasi keberlanjutan yang beresonansi dengan visi lama, sekaligus membent...
Klikhijau.com - Di bawah langit politik yang baru, Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka membawa narasi keberlanjutan yang beresonansi dengan visi lama, sekaligus membentang cakrawala baru.
Janji memperluas hilirisasi ke 28 komoditas menjadi mantra yang dielukan sejak hari pertama. Hilirisasi, kata mereka, bukan sekadar jalan menuju industrialisasi, melainkan pilar transisi energi yang konon akan memantapkan posisi Indonesia di kancah global.
[irp]
Dalam napas itu, batubara tak lagi sekadar bahan bakar, melainkan fondasi untuk baterai kendaraan listrik. Mineral kritis dipoles menjadi inti teknologi masa depan, sementara produk agro dan maritim diproyeksikan mengangkat marwah negeri kepulauan ini.
Namun, seperti semua mimpi besar, keuntungan selalu punya alamat tertentu. Agenda ini, meski dikemas sebagai cita bersama, tak bisa dipisahkan dari bayang-bayang kepentingan segelintir elite.
Hilirisasi timah, misalnya, membawa kisah lama tentang kedekatan politik dan ekonomi. Adik Presiden, Hashim Djojohadikusumo, yang telah lama berdiri di panggung sumber daya alam, nampak akan merasakan manisnya program ini.
Dukungan setia yang ia berikan kepada pasangan Prabowo-Gibran tak hanya berbalas dalam politik, tetapi juga dalam lajur bisnis yang berkelindan erat dengan keputusan strategis pemerintah.
Keberlanjutan itu, pada akhirnya, bukan sekadar urusan program, tetapi juga bagaimana janji itu diterjemahkan. Akankah ia menjadi penopang kesejahteraan bersama, atau sekadar jalan berliku yang menyisakan jejak hanya bagi para pemain besar? Waktu, sebagaimana selalu, akan menjadi saksi dari niat dan kebijakan mereka.
Menelisik Oligarki di Kabinet Prabowo-Gibran
Susunan kabinet Prabowo-Gibran mengundang sorotan tajam karena melibatkan banyak figur yang terafiliasi dengan bisnis, terutama sektor ekstraktif. Menurut Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), 34 dari 48 menteri memiliki hubungan langsung atau tidak langsung dengan dunia bisnis, dengan 15 di antaranya terkait sektor ekstraktif seperti batubara, mineral, dan migas.
Nama-nama seperti Airlangga Hartarto, Bahlil Lahadalia, hingga Sjafrie Sjamsoeddin mencerminkan kedekatan kabinet dengan elite bisnis.
[irp]
Kedekatan ini tidak hanya tercermin dalam kabinet, tetapi juga dalam komposisi pendukung Prabowo-Gibran di Tim Kampanye Nasional (TKN).
Tokoh-tokoh seperti Boy Thohir, Aburizal Bakrie, hingga Luhut Binsar Pandjaitan merupakan penguasa sektor energi yang memanfaatkan transisi energi untuk memperluas bisnis mereka.
Dalam lawatan Prabowo ke Cina, berbagai kesepakatan strategis menunjukkan bagaimana sektor bisnis ini diuntungkan, seperti rencana Bakrie Group bekerja sama dengan perusahaan energi Cina untuk mengembangkan pembangkit energi terbarukan dan mengolah nikel untuk kendaraan listrik.