Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Ragam

Plastik Berwarna Cerah Terurai Lebih Cepat Menjadi Mikroplastik, Temuan Studi

Klikhijau.com – Sampah plastik telah menjadi musuh bebuyutan seluruh dunia. Keberadaannya tak diinginkan—harus diberantas. Karena sangat meresahkan dan merugikan, baik terhadap lingkungan maupun keseh...

Oleh Tim Redaksi 29 May 2024 08:57 3 menit baca
Klikhijau.com – Sampah plastik telah menjadi musuh bebuyutan seluruh dunia. Keberadaannya tak diinginkan—harus diberantas. Karena sangat meresahkan dan merugikan, baik terhadap lingkungan maupun kesehatan. Jenis sampah plastik, tidak hanya bandel untuk terurai, tapi saat terurai akan menjelma menjadi mikroplastik. Ancaman kesehatan mikroplastik memang masih diperbincangkan. Namun, karena ukurannya kecil, maka mikroplastik mudah berpetualang ke mana-mana, bahkan hingga ke testis manusia yang kemungkinan besar ada hubungannya dengan penurunan jumlah sperma pada pria. Saat ini, warna plastik beraneka ragam, mulai hijau, merah hingga biru. Plastik berwarna memiliki daya tarik bagi konsumen untuk membelinya. [irp] Sayangnya, menurut menurut studi yang dipimpin oleh Universitas Leicester para penelitian menemukan plastik berwarna merah, biru, dan hijau terurai menjadi partikel mikroplastik lebih cepat dibandingkan warna biasa. Dilansir dari The Guardian bahwa menurut studi itu, plastik berwarna merah, biru, dan hijau menjadi “sangat rapuh dan terfragmentasi”, sedangkan sampel hitam, putih, dan perak “sebagian besar tidak terpengaruh” selama periode tiga tahun. Adam Herriott, spesialis senior plastik di badan amal anti-sampah Wrap, mengatakan plastik berwarna secara tradisional digunakan untuk membuat produk menonjol di toko-toko, namun organisasi tersebut sudah menyarankan produsen untuk menghindari pigmen sehingga plastik dapat didaur ulang dengan lebih mudah. [irp]
Tergantung dari warnanya
Para ilmuwan dari Inggris dan Universitas Cape Town di Afrika Selatan menggunakan studi pelengkap untuk menunjukkan bahwa plastik dengan komposisi yang sama terdegradasi pada tingkat yang berbeda-beda tergantung warnanya. Para peneliti Inggris memasang tutup botol berbagai warna di atap gedung universitas agar terkena sinar matahari dan cuaca selama tiga tahun. Sedangkan penelitian di Afrika Selatan menggunakan barang-barang plastik yang ditemukan di pantai terpencil. [irp] “Sungguh menakjubkan bahwa sampel yang disimpan di atap gedung di Leicester dan sampel yang dikumpulkan di pantai berangin di ujung selatan benua Afrika menunjukkan hasil yang serupa,” kata Dr Sarah Key, yang memimpin proyek tersebut. “Apa yang ditunjukkan oleh eksperimen adalah bahwa bahkan dalam lingkungan yang relatif dingin dan berawan hanya dalam waktu tiga tahun, perbedaan besar dapat terlihat dalam pembentukan mikroplastik,” lanjutnya. Sementara itu,  Profesor Sarah Gabbott, juga dari Universitas Leicester, yang ikut menulis penelitian tersebut mengatakan, dirinya sering bertanya-tanya mengapa mikroplastik di pasir pantai sering kali tampak seperti warna pelangi. [irp] “Saya berasumsi bahwa mata saya tertipu dan saya hanya melihat mikroplastik yang lebih berwarna karena lebih mudah dikenali. Ternyata kemungkinan besar terdapat lebih banyak mikroplastik berwarna cerah di lingkungan karena benda-benda plastik yang berpigmen merah, hijau, dan biru lebih rentan terfragmentasi menjadi jutaan partikel mikroplastik kecil namun berwarna,” katanya dikutip dari The Guardian. Studi lapangan yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Pollution jadi bukti pertama mengenai dampak plastik berwarna. Hal ini menunjukkan bahwa pengecer dan produsen harus lebih mempertimbangkan warna plastik yang berumur pendek. Karena itu, para pengecer didesak untuk berhenti membuat produk sehari-hari seperti botol minuman, furnitur luar ruangan, dan mainan dari plastik berwarna cerah setelah para peneliti menemukan bahwa plastik tersebut terurai menjadi mikroplastik lebih cepat daripada warna biasa. [irp]
Topik terkait
#ancaman kesehatan #polusi plastik #dampak plastik #sampah plasik #plastik berwarna cerah