Pilah Sampah, Antara Desakan Regulasi, Tanggungjawab Moral, dan Keteladanan

Pilah Sampah, Antara Desakan Regulasi, Tanggungjawab Moral, dan Keteladanan
Penampakan sampah di Kota Makassar - Foto: KlikHijau
Bacakan Artikel
Nur Suhra Wardyah

Jurnalis, Pewarta ANTARA, Members SIEJ Simpul Sulsel

Nur Suhra Wardyah

Artikel terbaru dari Nur Suhra Wardyah (lihat semua)

Belum ada artikel terbaru lain dari penulis ini.

Klikhijau.com -- Terik matahari menghujam hangat, menghantam setiap inci kulit yang berusaha ditutupi dengan sarung tangan dan masker oleh hampir setiap pengendara roda dua di Kota Anging Mammiri, Makassar.

Penampakan itu pun dilakoni seorang perempuan yang berjibaku menelusuri jalan menuju wilayah yang tak asing baginya. Kendati angin ikut menerpa, panas matahari jelang pukul 12.00 Wita itu sungguh menyengat bagi perempuan berhijab bernama Siti Indriyati Idris (32).

Dia merupakan seorang Penyuluh Persampahan yang mendapat amanah dari Pemerintah Kota Makassar untuk mengedukasi masyarakat terkait persampahan, hingga kemudian sadar dan mampu menjalankan program pemerintah, yakni memilah sampah dari rumah.

Tugas itu terdengar sederhana dengan intensi meningkatkan kesadaran masyarakat. Namun, kalimat "tak semudah membalikkan telapak tangan" sepertinya layak disematkan pada tugas dan fungsi kehadiran penyuluh persampahan Kota Makassar, lantaran tugas yang diembannya begitu berat.

Siang itu, perempuan yang kerap disapa Indri harus tiba di satu wilayah dampingannya, di Kelurahan Katimbang, Kecamatan Biringkanaya, untuk menemui warga.

Laju motornya kian kencang tatkala suara masjid mulai terdengar. Panas matahari pun tak lagi menjadi soal. Yang terpenting, dia harus segera tiba di lokasi dan menepati janji bertemu warga untuk bertukar informasi terkait persampahan.

Pertemuan itu bukan yang pertama. Pertemuan tersebut menjadi salah satu dari rangkaian pertemuan yang dilakukan dengan lokasi berpindah-pindah. Tujuannya agar tingkat kesadaran masyarakat terkait bijak mengelola sampah dapat terus tumbuh dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Disadari perempuan berusia 32 tahun itu, mengubah perilaku masyarakat terhadap aktivitas membuang sampah tanpa memilah sangatlah tak mudah. Kebiasaan tersebut sudah terlampau membudaya dan mengakar sehingga membutuhkan tenaga ekstra untuk mengubahnya menjadi kebiasaan yang lebih bijak demi keberlangsungan hidup manusia dalam jangka panjang.

"Mengubah perilaku masyarakat tidak bisa hanya dengan menyampaikan informasi sekali atau dua kali, tetapi harus terus-menerus diingatkan," kata dia.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2

Penulis, Editor in Chief Klikhijau