Petani di Desa Penyangga TN Kelimutu Kembangkan Pupuk Organik dari Gulma Hutan
Klikhijau.com – Petani di desa penyangga Taman Nasional (TN) Kelimutu yang terletak di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur mengembangkan pupuk organik berbahan gulma hutan. Keberadaan tumbuhan gulm...
Klikhijau.com – Petani di desa penyangga Taman Nasional (TN) Kelimutu yang terletak di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur mengembangkan pupuk organik berbahan gulma hutan.
Keberadaan tumbuhan gulma hutan (Invasive Alien Species) atau invasif asing Kirinyuh (Austroeupatorium inulifolium) sangat mengganggu ekosistem TN Kelimutu. Diantaranya dapat mengubah bentang alam di sana.
Tumbuhan yang sulit diberantas ini bahkan telah menyerang lebih dari 300 ha dari 5.000 ha luas kawasan taman nasional.
Salah satu strategi pemberantasan jenis invasif asing ini adalah dengan memanfaatkan tanaman invasif Kirinyuh sebagai bahan baku pengembangan pupuk cair organik yang akan bermanfaat bagi petani di kawasan TN Kelimutu.
Seperti dikeketahui, TN Kelimutu dikelilingi oleh 24 desa penyangga, dimana sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani yang sangat membutuhkan pupuk untuk meningkatkan hasil pertanian mereka.
[irp]
"Dengan strategi ini diharapkan dapat meningkatkan frekuensi dan intensitas pemberantasan jenis tanaman invasif ini, karena dilakukan pihak Balai bersama-sama dengan bantuan masyarakat sekitar yang merasakan manfaatnya," ujar Kepala Balai TN Kelimutu, Persada A. Sitepu,(15 Mei 2020).
Balai TN Kelimutu mengajak beberapa orang ahli pertanian dari Universitas Nusa Cendana untuk mengembangkan pupuk cair organik berbahan baku Kirinyuh.
Pengembangan pupuk cair organik ini telah dilakukan sejak tahun 2018 melalui percontohan dengan beberapa petani di sekitar kawasan. Uji coba dan pendampingan penggunaan pupuk organik dilakukan pada Kelompok Tani Rimbawan yang berada di desa Nduaria Kecamatan Kelimutu.
Hasil pertanian memuaskan dengan pupuk organik berbahan gulma hutan di desa penyangga TN Kelimutu - Fot0/Ist[/caption]
“Kacang panjang hasil panen berpola pertanian organik ini memiliki rasa yang lebih manis dibandingkan dengan kacang panjang yang dipupuk menggunakan pupuk kimia," cerita Louyz.
Keberadaan pupuk organik ini sangat membantu para petani di sekitar kawasan TN Kelimutu, dimana dengan harga Rp 50.000,- /1 jerigen 5 liter, masyarakat dapat menghasilkan produk organik sebanyak 1.000 tanaman Sawi Putih pada kebun seluas 10 are dengan harga jual yang lebih tinggi.
Misalnya, sayur sawi biasa (dengan pupuk kimia) dihargai Rp 5.000/kg, sedangkan sayur sawi organik seharga Rp 8.000/kg; bawang merah organik dihargai Rp 30.000/kg, sedangkan bawang merah biasa Rp 15.000-20.000/kg.
"Selain dapat mempercepat pemberantasan tanaman invasif Kirinyuh, penggunaan pupuk organik tersebut juga dapat memperbaiki kualitas dan kuantitas bahan organik dalam tanah. Produk pertanian organik yang dihasilkan juga akan lebih sehat bagi tubuh dan yang juga tidak kalah penting produk-produk sehat organik dapat menjadi unsur penunjang daya tarik wisata di TN Kelimutu," pungkas Kepala Balai Kelimutu, Persada A. Sitepu.
[irp]