Petakan Gua Prasejarah, Seberapa Pentingkah?
Klikhijau.com - Manusia selalu penasaran dengan asal-usulnya. Selalu terpacu mencari nenek moyangnya. Salah satu cara yang falid, dengan mempelajari sejarah atau bahkan kehidupan sebelum sejarah (p...
Klikhijau.com - Manusia selalu penasaran dengan asal-usulnya. Selalu terpacu mencari nenek moyangnya.
Salah satu cara yang falid, dengan mempelajari sejarah atau bahkan kehidupan sebelum sejarah (prasejarah). Masa sebelum manusia belum mengenal tulisan.
Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sulawesi Selatan (BPCB Sulsel) sebagai otoritas pengelola situs cagar budaya terus berbuat.
Kali ini BPCB Sulsel melakukan pemetaan sebaran terkini gua-gua prasejarah di kawasan karst Maros. Pada pelaksanaannya, tim juga melakukan pemasangan datum dan patok kawasan gua prasejarah.
Selama dua pekan: 30 Agustus s.d 10 September 2021, tim melakukan pengambilan data dan memetakannya.
Sebagai salah satu pelaksana amanat Undang-undang nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya, BPCB Sulsel terus eksis. Melakukan pelestarian cagar budaya.
Merekam dan memetakan posisi situs cagar budaya termasuk bagian dari pendokumentasian cagar budaya. Tahapan setelah pendaftaran situs cagar budaya.
[irp]
Saya kemudian menemui pelaksana tugas (Plt.) Kepala BPCB Sulsel. Mencari tahu lebih dekat kegiatan mendasar dan urgen ini. "Pemetaan gua prasejarah di Maros ini penting.
Dengan pemetaan ini, kita bisa mengetahui posisi gua-gua mana saja di kawasan karst Maros yang memiliki nilai sebagai situs cagar budaya," ungkap Laode Muhammad Aksa, Plt. Kepala BPCB Sulsel.
Lebih jauh Aksa menjelaskan arti penting pendokumentasian ini. Menurutnya, gua-gua prasejarah yang menjadi situs cagar budaya ini mengalami potensi ancaman besar. Ancaman terhadap eksistensinya.
"Aktivitas tambang di sekitar situs sangat berpengaruh. Getaran aktivitas tambang saja bisa menjadi ancaman. Getarannya saja mampu pengaruhi daya lekat lukisan di dinding gua prasejarah," terang Aksa.
"Ancaman jadi korban eskapator dan alat berat lain pun terus mengintai. Beberapa situs gua berada di wilayah konsesi perusahaan tambang marmer. Beruntung perusahaan marmernya sudah tak beroperasi lagi," tambahnya.
Karenanya upaya melindungi aset bangsa ini amatlah krusial. Dari gua-gua prasejarah ini kita bisa belajar asal usul. Para arkeolog mampu mengungkap penanggalan tahun dari sisa tinggalan manusia prasejarah.
[irp]
Ancaman tertambang juga menjadikan gua-gua prasejarah ini menjadi genting. Gempuran perusahaan tambang marmer dan semen di sekitar situs menjadi musuh yang patut diwaspadai.
"Jika sudah ditambang, kita bisa apa. Kita tak bisa mengembalikannya," terang Imran Ilyas, Ketua Tim Pemetaan.
"Bisa jadi tinggalan yang terdampak tambang belum kita pelajari, misalnya. Sangat disayangkan," tambahnya.
Salah satu regu perekam data gua prasejarah di wilayah karst Maros. Foto: BPCB Sulsel[/caption]
Untuk mematenkan posisi di permukaan bumi dan memudahkan pengecekan kembali. Titik-titik rekaman seperti basesite point dan datum point dibuatkan patok permanen. Patok dari semen cor bertulang besi. Basemark point sendiri menjadi acuan utama yang posisinya berada di kawasan Taman Prasejarah Leang-leang.
Selanjutnya dengan menggunakan total station, tim mencatat letak posisi lukisan atau gambar prasejarah di dinding gua. “Letak posisi lukisan tangan ini penting untuk menggambarkannya dalam peta tiga dimensi. Termasuk memetakan lekuk gua,” pungkas Amirullah, Pamong Budaya BPCB Sulsel.
“Untuk menggambarkan bentuk gua, kami menggunakan alat pemindai tiga dimensi (3D scanner). Sehingga denah gua lebih akurat. Tak lagi menggambarnya secara manual,” tambahnya.
Tim telah memiliki standar operasional pengambilan data lapangan. Tak hanya posisi gua yang direkam datanya. Mereka juga mendata gambar prasejarah. Menempelkan label untuk mengukur skala gambar prasejarah. Belum cukup sampai di sana, meraka juga mengidentifikasi bentuk gambarnya. Termasuk tingkat kerusakan gambar prasejarah.
[irp]
Langkah terakhir, para ahli terapan ilmu arkeologi ini kemudian memotret setiap gambar mahakarya manusia prasejarah ini. “Saat memotret pun ada kaidahnya. Sebisa mungkin tak menggunakan flash kamera apalagi flash ekseternal. Lukisan prasejarah ini sensitif,” ujar Iswadi, Pamong Budaya BPCB Sulsel.
Karenanya tak heran setiap tim yang beraksi memiliki lampu penerang portable untuk memudahkan pengambilan gambar cadas.
“Saya malah punya aplikasi foto untuk mendeteksi gambar hasil goresan manusia prasejarah,” tambah Iswadi. Langkah Iswadi cukup berasalan. Karena saat saya mengikuti proses perekaman data mereka, saya kerap menjumpai coretan jahil. Coretan dengan menggunakan arang atau pun benda tajam di sekitar lukisan prasejarah. Bahkan di salah satu gua saya menjumpai coretan dengan pilox. Tindakan yang kurang terpuji.
Setelah data lapangan terekam dengan baik, pekerjaan mereka belum selesai. Data-data lapangan kemudian mereka koleksi dan rapikan. Menjadi bahan pembuatan peta. Beruntung, mereka juga melibatkan akademisi bidang Sistem Informasi Geografis dari Fakultas Kehutanan, Universitas Hasanuddin, Makassar.
“Kita akan buat prototipe dalam bentuk sistem informasi ‘situs bergambar prasejarah di wilayah Karst Maros’. Termasuk di dalamnya peta tiga dimensi setiap gua prasejarah yang telah terekam. Akan begitu menarik secara visual” terang Andang Suryana Soma, Dosen Fakultas Kehutanan, Universitas Hasanuddin.
Tim perekaman dan pemetaan gua ini cukup kompleks. Petugas Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung pun turut serta. Hal ini, Mengingat sebagian posisi gua juga berada di kawasan konservasi ini. Jumlah timnya pun tak tangung-tanggung sekitar 48 orang.
[caption id="attachment_22378" align="alignnone" width="660"] Proses perekaman data lukisan prasejarah di dinding gua. Foto: BPCB Sulsel[/caption]
[irp]