Pesta Plastik di Pesta
Klikhijau.com - “Adakah pesta tanpa plastik?” pertanyaan itu datang begitu saja saat saya sedang mengunyah makanan. Di depan saya tersaji air gelas kemasan (mineral). Beberapa yang telah habis atau berkurang isinya tersungkur di tanah. Berserakan.
Itu bukan pengalaman pertama, tapi berulang-ulang. Setiap saya menghadiri pesta. Apa pun jenis pestanya (kegiatan), perkemahan, sunatan, pernikahan, bahkan pada kegiatan membersihkan pinggir jalan.
Rasa haus memang kadang tak mengenal waktu dan tempat, dan air gelas kemasan selalu dianggap jawaban paling cepat untuk mengusir rasa haus itu. Ia anti ribet, pun mudah dibawa—tak perlu pula membawa gelas tambahan untuk minum. Namanya juga air gelas kemasan, kemasannya berfungsi sebagai gelas.
Setelah airnya diseruput, baik menggunakan pipet maupun tidak, habis atau juga tidak. Tak perlu repot mencucinya atau membawanya pulang. Buang saja, tempatnya bebas—ke arah mana pun kita menghadap wajah.
Pun saat membuangnya, kita akan merasakan kemerdekaan—seolah bumi adalah milik pribadi, tak ada yang menegur apalagi melarang.
Air gelas kemasan itu pula yang membuat gelas kaca menjadi penghuni abadi lemari.
Tak ada lagi adegan gelas kaca berjejer
Saya tak ingat pasti sejak kapan, termasuk di kampung saya orang-orang memilih menggunakan air gelas kemasan setiap ada pesta atau acara.
Dulu, sewaktu saya kecil, membayangkan saja ada air gelas berkemasan plastik rasanya mustahil. Apalagi menemukannya dengan muda seperti sekarang, yang rasanya lebih mudah menemukannya daripada upil sendiri.
Dulu, ketika ada pesta, pesta apa pun itu. Akan ada meja khusus yang dipenuhi gelas kaca—tingginya hampir sejengkal. Berwarna agak kecokelatan. Saking seringnya nongkrong gelas itu di pesta, saya terkadang ingin menamainya gelas pesta.
Di dekat meja yang berisi gelas itu, ada ember tutup (ember yang dilengkapi penutup). Isinya adalah air minum yang telah dijerang di atas tungku berbahan kayu bakar. Air minum yang dijerang menggunakan kayu bakar, memiliki aroma yang khas. Rasanya lebih enak.
Saat itu, bukan hanya air gelas kemasan yang belum menemukan jalannya ke kampung, juga gas elpiji. Jadi, semua masakan, termasuk air bersandar pada kayu bakar.
Karenanya, tak mengherankan jika jauh hari sebelum pesta, masyarakat akan bergotong royong mengambil kayu bakar. Pun dapur dadakan dari batang pisang akan tersedia. Begitu juga gelas, yang punya pesta akan bergerilya ke rumah tetangga meminjamnya.
Saat hari pesta, bagian yang bertugas mencuci peralatan makan akan sangat sibuk, bukan hanya mencuci piring, tetapi juga mencuci gelas. Pun demikian dengan yang bertugas mengeringkan peralatan makan itu (melap) akan sulit menemukan cela untuk bersantai.
Namun, waktu datang melahap dan mengubah banyak hal. Termasuk cara menyiapkan air minum saat ada pesta. Sejak air minum dalam gelas kemasan hadir—pola konsumsi juga ikut berubah.
Awalnya tak hadir di semua pesta. Lalu dengan segala daya tariknya yang instan, maka orang-orang beralih kepadanya. Meninggalkan gelas dan dapur dadakan dari batang pisang.
Tak ada lagi panci besar yang berisi air minum yang menghuni dapur berbahan kayu bakar itu. Tak ada lagi gelas cokelat yang berjejer di meja, hilang sudah ember tutup yang berisi air telah mendidih. Semuanya berganti dengan air gelas kemasan.
Sepi sudah bunyi gelas yang bersentuhan di tempat pencucian, kain lap menganggur. Tak ada lagi yang sibuk memisahkan gelas yang dipinjam dari si A atau si B.
Dengan air gelas instan itu semuanya menjadi lebih mudah. Setelah meminum airnya, kemasannya kita bisa membuangnya dengan sangat santai ke tanah. Kita dengan nyaman mengotori lingkungan.
Banyak merek lokal bermunculan
Menghentikan peredarannya rasanya akan mustahil. Masyarakat telah sangat jatuh cinta kepadanya, dan kita semua tahu, hal paling sulit diatur di dunia ini adalah rasa cinta.
Para pengusaha melihat rasa cinta yang besar itu sebagai peluang. Mereka menghadirkan industrinya—memproduksi sebanyak-banyaknya. Sehingga bagi yang butuh, bagi yang akan menggelar hajatan, tak perlu lagi mendatangkannya dari jauh. sebab di daerahnya sendiri telah ada yang memproduksi.
Permintaan yang nyaris tanpa jeda itu, membuat yang punya modal berlomba-lomba memproduksi. Jadinya, merek-merek lokal bermunculan.
Suatu waktu, ketika saya ikut membersihkan pantai bersama Ecoton, gelas air kemasan yang menghuni pantai dominan dikuasai oleh merek lokal yang beroperasi di Kabupaten Bulukumba.
Apakah merek dari Bulukumba menyeberang ke kabupaten lain, mungkin iya. Namun, saat Senin, 12 Oktober 2026, saat mengantar pengantin ke Kabupaten Bone, tepatnya di Desa Walenreng, Kecamatan Cina, air gelas kemasan yang digunakan, rasa-rasanya adalah air kemasan yang diproduksi sendiri di daerah tersebut.
Ada dua merek air gelas yang digunakan pada pesta itu. Pesta yang melahirkan pertanyaan pada awal tulisan ini, “Adakah Pesta tanpa Plastik.”
Kenapa pada sebuah pesta pernikahan, merek air gelas kemasan yang digunakan bisa dua hingga tiga merek. Penyebabnya bisa karena stok penjual merek tertentu habis dan yang paling mencengangkan, banyak keluarga atau teman yang menyumbang air gelas kemasan kepada yang punya hajatan.
Jadi, bisa dibayangkan jika dalam satu pesta ada sepuluh orang yang menyumbang air gelas kemasan. Maka merek yang digunakan bisa sangat berbeda-beda.
Namun, merek boleh saja berbeda, tapi dampaknya pada lingkungan dan kesehatan akan tetap sama. Dampak itu bisa disingkat dengan empat huruf saja—NGERI.
Beban jangka panjang lingkungan
Iya, ngeri bisa mewakili semua dampak buruk yang dihasilkan oleh si gelas bening itu. Bayangkan saja, untuk terurai saat menjadi sampah, butuh empat ratus tahun lebih. Itu berapa generasi dari yang punya pesta, misalnya yang pesta di tahun 2026 ini, sampah gelas air kemasan yang mereka buang baru akan hancur empat ratus tahun lebih mendatang. Umur Indonesia atau dunia saat itu mungkin telah tamat.
Beban lingkungan atau kau bisa menyebutnya biaya lingkungan inilah yang tak diperhitungkan oleh produsen, juga oleh konsumen. Produsen menjualnya dengan harga murah dan konsumen membelinya dengan riang gembira.
Jika saja biaya lingkungan masuk ke dalam setiap kemasan, mungkin harganya akan jauh lebih tinggi. Jadinya, masyarakat akan berpikir untuk membelinya. Maka, dengan suka rela, bagi yang menggelar pesta dengan modal pas-pasan akan kembali menghidupkan dapur dadakan dari batang pisang dan budaya gotong royong mengambil kayu bakar akan kembali lahir.
Pun gelas cokelat akan kembali menghuni meja, juga ember tutup kembali menemukan tempatnya di sisi meja. Suara riuh gelas yang dicuci akan mengimbangi suara musik elekton.
Hanya saja, itu sepertinya hanya mimpi, sebab kita telah terlanjur jatuh cinta pada air gelas kemasan, dan jatuh cinta selalu bandel, sulit diatur dan dihentikan.
Jadinya setiap ada pesta, maka plastik sekali pakai dalam bentuk air gelas juga ikut berpesta.