Perubahan Iklim Telah Meningkatkan Risiko Kepunahan Spesies Kopi?
Klikhijau.com – Apa hubungannya kopi dengan perubahan iklim? Untuk penikmat kopi, informasi mengenai kopi dan perubahan iklim ini amat penting diketahui. Sekadar diketahui, perubahan iklim telah be...
Klikhijau.com – Apa hubungannya kopi dengan perubahan iklim? Untuk penikmat kopi, informasi mengenai kopi dan perubahan iklim ini amat penting diketahui.
Sekadar diketahui, perubahan iklim telah berdampak pada penurunan produksi kopi. Namun, perubahan iklim ternyata dapat dicegah dengan secangkir kopi. Bagaimana caranya?
Data menunjukkan, Indonesia merupakan negara terbesar keempat penghasil kopi di dunia yakni 600 - 700 ribu ton per tahun. Kopi Indonesia sendiri mampu menghasilkan 20 persen Arabika dan 80 persen Robusta.
Namun akibat perubahan iklim, rantai pasok kopi seperti perubahan musim panen, meningkatnya hama dan penyakit menjadi turut berdampak. Ini tentu mencemaskan untuk keberlanjutan kopi dan juga penikmat kopi bukan?
Paramita Mentari Kusuma, Direktur Eksekutif SCOPI mengatakan, “Perubahan iklim telah meningkatkan risiko kepunahan spesies kopi. Berdasarkan studi terbaru Januari 2019, hampir 60 persen spesies kopi yang liar atau 75 kopi dari 124 spesies sudah dalam tahap risiko punah akibat adanya perubahan iklim," ujarnya pada Webinar “Talk Show on Climate Change in a Cup of Coffee”, Senin 26 Oktober 2020 dalam rangkaian Pekan Diplomasi Iklim Uni Eropa.
[irp]
"Dalam 30 tahun, kopi yang dikonsumsi masyarakat global menjadi sesuatu yang langka. Sebagai penikmat kopi dan pelaku usaha kopi kita harus mulai memikirkan dampak perubahan iklim ini," sambungnya.
Armaya Master Trainers SCOPI yang juga petani kopi di Aceh mengatakan dampak perubahan iklim sudah petani rasakan terutama di wilayah Aceh dan Sumatera Utara.
"Tingginya curah hujan mempengaruhi hama dan penyakit yang meningkat sehingga berdampak pada produksi buah," ujarnya.
Adanya deforestasi, penggunaan pupuk kimia, pembakaran limbah, dan juga pembakaran bahan bakar fosil memperparah terjadinya peningkatan suhu.
"Biasanya panen raya itu terjadi dua kali yakni Maret-Mei dan Oktober-Desember. Kita khawatir tahun 2021 mungkin hanya terjadi satu kali panen, karena hingga saat ini bunga belum juga muncul. Kemungkinan Maret-Mei tidak bisa panen dan akan membuat peralihan mata pencaharian petani," katanya.
[irp]