Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Balla Camp Dorong Gaya Hidup Berkelanjutan dan Penanaman Pohon
Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Balla Camp, Desa Kahayya, Bulukumba menggelar diskusi publik
Peserta yang hadir berasal dari beragam latar belakang, mulai dari pelajar SMP, para guru, pemuda, aktivis lingkungan, hingga masyarakat sekitar. Kehadiran berbagai elemen masyarakat tersebut menunjukkan bahwa isu lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan lintas generasi.
Dalam sesi diskusi, Eksekutif Nasional WALHI, Adam Kurniawan mengulas sejarah lahirnya Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan berbagai tantangan lingkungan yang masih dihadapi hingga saat ini. Ia menyinggung pengaruh buku Silent Spring karya Rachel Carson yang menjadi salah satu tonggak kesadaran lingkungan global.
[irp]
Adam juga menyoroti masih rendahnya political will dalam penyelesaian berbagai persoalan lingkungan serta pentingnya menjaga spesies dan satwa endemik sebagai bagian dari upaya mempertahankan keseimbangan ekosistem.
“Peringatan Hari Lingkungan Hidup bukan sekadar agenda tahunan. Ini adalah momentum untuk mengingat kembali bahwa manusia harus hidup selaras dengan alam. Menjaga lingkungan harus menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari, bukan hanya slogan,” ujar Adam Kurniawan.
Menurut Adam, berbagai krisis ekologis yang terjadi saat ini menunjukkan perlunya perubahan cara pandang terhadap alam. Ia menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh mengorbankan keberlanjutan lingkungan dan hak generasi mendatang.
Narasumber berikutnya, Direktur Balang Institute, Junaedi Ham, mengangkat isu pencemaran plastik yang hingga kini menjadi salah satu persoalan lingkungan paling mendesak. Ia menjelaskan bahwa dampak sampah plastik tidak hanya dirasakan saat ini, tetapi juga akan membebani generasi yang akan datang.
“Plastik yang kita gunakan hari ini dapat bertahan puluhan bahkan ratusan tahun. Karena itu, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai harus menjadi komitmen bersama,” kata Junaedi Ham.
[irp]
Ia juga menjelaskan pentingnya perlindungan kawasan mata air, termasuk berbagai upaya yang dilakukan masyarakat dalam menjaga sumber-sumber air sebagai penopang kehidupan. Menurutnya, keberlangsungan mata air sangat bergantung pada kondisi ekosistem di sekitarnya.
Sementara itu, Direktur Dana Mitra Tani, Sri Puswandi, membagikan pengalaman pendampingan dan pengorganisasian petani gula aren di Daerah Aliran Sungai (DAS) Balantieng. Ia menuturkan bahwa penguatan ekonomi masyarakat dapat berjalan beriringan dengan upaya pelestarian lingkungan.
“Ketika masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi dari praktik-praktik yang ramah lingkungan, maka gerakan gaya hidup berkelanjutan akan tumbuh secara alami dari masyarakat itu sendiri,” ujar Sri Puswandi.
Sri menjelaskan bahwa berbagai inisiatif yang dilakukan bersama petani telah melahirkan kesadaran kolektif untuk menjaga hutan, sumber air, dan kawasan produksi sebagai bagian dari sistem kehidupan yang saling terhubung.
[irp]
Melalui kegiatan ini, Balla Camp berharap peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tidak berhenti pada seremonial semata, melainkan menjadi momentum untuk memperkuat pengetahuan, memperluas kolaborasi, dan mendorong aksi nyata dalam mewujudkan gaya hidup berkelanjutan.
Aksi penanaman pohon yang dilakukan pada pagi hari 07/06/2026 menjadi simbol komitmen bersama untuk menjaga lingkungan sekaligus warisan bagi generasi mendatang. Dengan melibatkan pelajar, guru, pemuda, aktivis, dan masyarakat, kegiatan ini menunjukkan bahwa perubahan menuju masa depan yang lebih lestari hanya dapat diwujudkan melalui kerja bersama dan kepedulian kolektif.
[irp]