Perihal Polusi Nutrisi, Sumber, Dampak, dan Upaya mengatasinya

Klikhijau.com - Polusi nutrisi menjadi masalah lingkungan yang belum terlalu hangat dibincangkan. Padahal dampaknya cukup mengkhawatirkan jika dibiarkan. Apa sih polusi nutrisi itu? Jenis polusi in...

Perihal Polusi Nutrisi, Sumber, Dampak, dan Upaya mengatasinya
Bacakan Artikel

Semenjak agrikultur booming di tahun 1910-an dan sekitar dekade 40-an demi mengimbangi meningkatnya permintaan pasar, kegiatan produksi pertanian sangat bergantung erat dengan pemakaian pupuk. Pupuk adalah sebuah bahan alami atau sintetis yang sudah dimodifika

Polusi nutrisi tidak hanya disebabkan oleh pertanian, tetapi juga oleh limbah manusia. Penyebab ini lebih dominan menyerang perkotaan.

Limbah diperkirakan menyumbang 12% masukan nitrogen sungai di Amerika Serikat, 25% di Eropa Barat, dan 33% di Tiongkok.

Penyebab lainnnya adalah limpasan air hujan,  selama terjadi hujan, air hujan di kota-kota dialirkan ke sungai-sungai terdekat. Sumber polusi nutrisi industri lainnya adalah pabrik pulp dan kertas, pabrik pengolahan makanan dan daging, serta pembuangan dari kapal laut.

Pembakaran bahan bakar fosil juga jadi sumber polusi nutrisi. Karena pembakaran bahan bakar fosil melepaskan nitrogen oksida ke udara. Itu mengakibatkan kabut asap dan hujan asam. Nitrogen oksida kemudian disimpan kembali ke tanah dan air melalui hujan dan salju.

Sumber nitrogen oksida yang paling umum adalah pembangkit listrik tenaga batu bara dan knalpot mobil, bus, dan truk. Pembakaran bahan bakar fosil berkontribusi terhadap 22 teragram polusi nitrogen secara global setiap tahunnya.

Dampak

Saat terjadi kelebihan nutrisi, biasanya nitrogen atau fosfor, merangsang pertumbuhan alga. Ketika pertumbuhan alga tidak terkendali, maka eutrofikasi pada permukaan air ini mengakibatkan tertutupnya akses cahaya matahari.

Hal itu akan menghalangi cahaya untuk dapat tembus sampai ke dasar perairan, yang menyebabkan turunnya kadar oksigen terlarut di dalam air, sebab fitoplankton tidak dapat berfotosintesis karena fotosintesis memerlukan cahaya matahari.

Kemudian, dengan terjadinya penurunan kadar oksigen di dalam air, maka organisme aerobik seperti ikan bisa mengalami kematian massal.

Pertumbuhan alga juga merugikan ekosistem karena menghalangi sinar matahari mencapai tanaman, sehingga menghambat pertumbuhannya. Selain itu, mekarnya bunga ini menyebabkan zona mati di dalam air, sehingga mengakibatkan penurunan oksigen bagi kehidupan akuatik.

Dampak lain dari polusi nutrisi di atmosfer akan menyebabkan hujan asam yang merusak saluran air, hutan, dan padang rumput.

Hal ini menyebabkan peningkatan keasaman di badan air yang mematikan bagi kehidupan akuatik, dan melarutkan nutrisi penting yang dibutuhkan pohon dan tanaman untuk bertahan hidup, seperti magnesium dan kalsium. Pencemaran unsur hara di udara juga berkontribusi terhadap terbentuknya polutan udara lainnya.

Mitigasi

Mengurangi polusi nutrisi sangatlah penting. Di Amerika Serikat, EPA berupaya memerangi polusi nutrisi dengan mendorong kolaborasi para pemangku kepentingan dan mengawasi program peraturan. Dalam program peraturan, EPA meninjau dan menyetujui standar kualitas air negara bagian.

EPA juga melakukan penjangkauan dengan mengembangkan materi komunitas untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai masalah ini, mengkomunikasikan informasi ilmiah terkini kepada para pemangku kepentingan, dan menyelenggarakan program penjangkauan.

EPA juga mengembangkan kemitraan dan memberikan panduan teknis dan sumber daya kepada negara-negara bagian untuk membantu mereka mengembangkan kriteria kualitas air untuk nitrogen dan fosfor.

Meski pertanian menjadi penyebab polusi nutrisi yang signifikan, namun sebuah studi baru dari Universitas Illinois Urbana-Champaign menemukan bahwa praktik pengelolaan pertanian juga dapat membantu mengurangi dampaknya.

"Hasil kami menunjukkan bahwa tanaman penutup tanah yang ditanam di musim dingin dapat menurunkan jumlah nutrisi di dalam air. Daerah yang ditanami tanaman penutup tanah memiliki lonjakan amonia dan fosfor yang jauh lebih rendah, dan dampaknya akan bertahan hingga akhir musim tanam. Kita sudah mengetahui bahwa tanaman penutup tanah sangat baik untuk pengelolaan tanah dan unsur hara, namun hal ini merupakan bukti empiris tambahan yang menunjukkan bahwa tanaman penutup tanah adalah praktik cerdas iklim yang dapat membantu pertanian menjadi tangguh di masa depan,” kata Mari Skidmore, asisten profesor di Departemen Pertanian dan Ekonomi Konsumen, bagian dari Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian, Konsumen dan Lingkungan (ACES).

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2