Perihal Pakkai' dan Lelaki yang Penasaran pada Kopi
Klikhijau.com - Seorang lelaki sedang duduk sendiri di sebuah kafe. Ia memilih meja paling sudut. Pada ruang terbuka yang membuatnya leluasa mengembuskan asap rokoknya. Tanpa perlu membuat orang batuk-batuk atau memerihkan matanya.
Di depannya tersaji segelas kopi susu dari jenis robusta. Masih mengepul. Baru tiga kali ia sesap. Ia lebih memilih kopi robusta daripada arabika. Selalu begitu. Ada cerita tak akan menua kenapa pilihannya demikian.
Jatuh cintanya pada kopi robusta adalah jatuh cinta yang aneh bin ajaib, karena seorang perempuan. Perempuan itu memperkenalkan kopi robusta dari Selatan kotanya. Awalnya, ia hanyalah penikmat teh. Lalu semuanya berubah begitu ia bertemu perempuan itu.
Lambungnya yang awalnya tak cocok dengan kopi tetiba saja bisa berdamai tanpa syarat. Sejak saat itu, ia menyukainya sepenuh-penuhnya.
Sejak saat itu pula, ia mulai tertarik dengan segala hal yang berhubungan dengan kopi. Terkadang ia berpikir apakah dirinya benar-benar tertarik pada kopi atau pada perempuan itu? Jawabannya selalu saja menggantung.
Setiap ia mengingat perempuan itu, pada saat bersamaan ia ingin menyesap kopi, dan setiap menyesap kopi, pikirannya akan mengunci pada perempuan itu.
Keduanya menjadi tak terpisahkan. Dan rasa penasaran kian tumbuh—menyuburkan dirinya sendiri. Ia selalu penasaran, bagaimana kopi robusta itu sampai ke hadapannya. Meresap lembut ke lambungnya dan berdamai.
Namun, rasa penasaran itu akan segera menguap. Perempuan yang membuatnya jatuh cinta pada kopi robusta tak lama lagi akan sampai. Tujuh belas menit yang lalu, perempuan itu sedang menuju kafe di mana ia berada.
Ia tahu, kopi robusta di kampung perempuan itu tak dipangkas, dibiarkan tumbuh meninggi saja. Sementara batangnya cukup besar. Entah bagaimana cara petani di sana memetik buahnya. Apakah dipanjat atau ditebangi atau hanya dirundukkan saja, tapi dengan alat apa?.
Saat perempuan itu dan ia menjelaskan cara memetiknya, maka akan menggenapi data yang dibutuhkan untuk tesisnya. Data yang akan mengantarnya menyegel gelar Magister Pertanian. Ia memilih meneliti kopi robusta. Baginya, kopi bukan sekadar minuman, lebih dari itu, adalah pengepul asap dapur jutaan orang.
Ia ingin mencelupkan diri ke dalam aroma kopi, komoditas menarik dan unik, yang pergerakannya bisa disaksikan dan diikuti oleh petani, dari hulu hingga menjadi ampas di dasar gelas.
Tak ada komoditas yang setransparan kopi, bisa diolah sendiri dengan cara sederhana, juga dinikmati sendiri oleh petani.
Tak kunjung tiba
Tatapannya tak bisa beranjak lama dari pintu. Entah keberapa kalinya ia memakukan pandangannya ke sana. Di luar sedang gerimis. Nuansa yang paling disukainya, baginya gerimis adalah waktu yang paling romantis.
Perempuan itu belum juga tiba. Sebuah pesan singkat masuk ke whatsAppnya. Sebuah dokumen berbentuk word. Ia segera membukanya. Itu dari perempuan yang sedang ditunggunya.
Tak ada penjelasan apa-apa perihal dokumen tersebut. Hanya itu saja. Satu satunya.
Di sana, dalam dokumen itu, terpapar penjelasan singkat tentang cara memetik kopi di kampung perempuan itu, Desa Kindang, Bulukumba. Sebuah daerah yang selalu ingin ia kunjungi.
Dibacanya dokumen itu, ada penjelasan tentang inovasi paling brilian yang ditemukan petani untuk menaklukkan pohon kopi robusta, namanya PAKKAI’.
Pakkai’ merupakan barang wajib ada di rumah setiap petani kopi, meski jarang digunakan, karena paling banter hanya sekali setahun, saat panen kopi. Dulu, dijamin dalam satu rumah petani kopi, akan ada lebih dari satu pakkai’.
Alat inilah yang digunakan untuk menarik batang kopi. Bambu yang biasa digunakan adalah bambu betung, namun ukurannya yang tak terlalu besar—seukuran lengan anak-anak dan memiliki pengait atau tunas tangkai.
Di Desa Kindang ada enam jenis bambu yang tumbuh, bulo karisa, parring, timallang atau tallang, pattong atau patttung, oro, dan bambu kecil yang biasa dijadikan tanaman hiasa. Diantara keenam jenis itu, parring, pattung, dan oro yang sering menjadi pilihan dijadikan pakkai. Bagian yang diambil adalah anakan yang kecil atau ujung bambu.
Pada setiap ujung bambu, ukurannya kecil dan ada tunas tangkai menghuninya. Tunas tangkai itulah yang dijadikan pakkai’. Pakkai’ berarti pengait. Pada awal-awal kopi robusta di Desa Kindang. Masyarakat hanya menggunakan dua jenis bambu, yakni parring dan oro. Namun, kedua jenis ini tunas tangkainya tak tangguh. Pun sifatnya mudah lapuk, maka setiap tahun jelang panen atau pada saat panen, petani baru akan mencarinya untuk digunakan.
Lalu waktu mengajarkan banyak hal termasuk dalam mencari alat yang lebih tangguh dan awet, maka pilihan kemudian jatuh pada bambu pattong (betung). Jenis ini jauh lebih kuat dan bisa disimpan hingga bertahun-tahun. Dengan catatan tak tersentuh air, khususnya air hujan.
Meski begitu, kedua jenis bambu yang telah jadi penyelamat itu tak ditinggal begitu saja, masih tetap digunakan, meski posisinya bergeser dari andalan menjadi cadangan. Sebuah pelajaran penting, tak semua yang pernah berjaya akan bertahan.
Umumnya ujung bambu betung melengkung, dan untuk meluruskannya petani akan menggunakan api dengan cara nirarang (didekatkan ke api hingga panas) lalu diluruskan. Cara ini membutuhkan pengerahan tenaga. Setelah dipanaskan, kadang ditindih dengan batu besar agar bisa lurus.
Sebuah pelajaran penting bahwa sesuatu yang bengkok (sifat kurang baik), jika ingin meluruskannya terkadang harus ditekan sedemikian rupa.
Pakkai' adalah alat yang digunakan untuk menarik, merundukkan, atau mengait cabang/batang kopi yang tinggi agar mudah dipetik buahnya. Bentuknya seperti V terbalik.
Tak hanya pada kopi robusta
Lelaki itu kembali menyesap kopinya. Perempuan yang ditunggunya belum juga muncul. Sementara, tak lama lagi malam akan mencelupkan sore ke dalam dirinya.
Ia melanjutkan membaca tulisan yang dikirim perempuan itu.
“Tak hanya kopi robusta yang dipetik menggunakan pakkai’, tetapi juga kopi arabika, khususnya yang tak dipangkas pucuk. Saat ini penggunaan pakkai’ tak semarak dulu, sebabnya banyak kebun kopi telah beralih jadi kebun cengkeh. Pun telah banyak yang memilih memangkas pohon kopinya, khususnya kopi arabika.
Tak hanya itu, untuk mendapatkan pakkai’ pun mulai sulit, banyak rumpun bambu betung diberantas masyarakat karena dianggap mengusik pertumbuhan tanamannya.
Oya, agar pakkai mudah digunakan—tak harus dipegang saat merundukkan pohon kopi, maka pada bagian bawahnya dipasangi tali. Talinya dibuat bulat berbentuk O—terkadang pula kayu kecil yang berbentuk L. Tujuannya, sebagai alat untuk pijakan kaki, jadi saat memetik. Kaki akan menginjak tali itu agar pohon kopi tak lepas. Satu kaki saja.
Satu hal lagi, hidup terkadang seperti ranting bambu, tak seiring. Mereka saling membelakangi agar bambu bisa tumbuh menjulang dengan seimbang.
Selepas membaca tulisan itu, ia masih kembali menatap pintu, perempuan yang ditunggunya belum juga datang.
Di luar, langit malam kota D telah pekat, gerimis berubah hujan. Ia menyesap kopinya. Menandaskannya dengan rasa pahit yang tak terkira. Lebih pahit dari tai tokke’.
September 2026