Pengalaman Pertama Simpa, Upaya Tradisional Mencegah Hama Babi Hutan
Klikhijau.com - Begitu tiba di ladang Tandabaca (TB) beberapa waktu lalu. Ladang yang kami tanami jagung. Rasanya sesak. Beberapa batang jagung manis yang telah mengeluarkan buah. Terpental. Rebah ke...
Klikhijau.com - Begitu tiba di ladang Tandabaca (TB) beberapa waktu lalu. Ladang yang kami tanami jagung. Rasanya sesak. Beberapa batang jagung manis yang telah mengeluarkan buah. Terpental. Rebah ke tanah.
Setelah diperiksa dengan teliti. Kami temukanlah penyebabnya--bukan angin atau hujan. Juga bukan manusia jahil. Tapi penyebabnya adalah palampa bangngi (yang bepergian saat malam).
Palampa bangngi adalah istilah para tetua di Desa Kindang, Kecamatan Kindang, Bulukumba menamai satwa liar babi hutan. Terkadang nama tersebut juga disematkan pada pencuri. Mungkin karena sifat keduanya sama. Sama-sama suka mengambil yang bukan haknya secara sembunyi-sembunyi. Juga sering beraksi saat malam hari.
[irp]
Karena penyebabnya adalah babi hutan. Maka kami, saya dan Nasir memutuskan memperbaiki akses masuknya untuk menyelamatkan tanaman jagung manis kami.
Menyelamatkan tanaman, khususnya jagung dan padi dari usikan babi hutan. Memang perlu strategi yang jitu. Jika salah, maka bisa saja semua usaha akan lari kosong. Gagal panen.
Cara-cara modern memang telah berkembang, misalnya dengan memasang setrum mengelilingi lahan. Cara ini sangat ampuh menghalau hama babi hutan. Apalagi setrumnya menggunakan tenaga surya. Selain aman bagi manusia, juga lebih ramah lingkungan.
Namun, tak semua petani bisa menerapkannya, bukan hanya karena harganya, meski tak terlalu mahal. Namun, biasanya tanaman, khususnya jagung hanya ditanam seadanya saja. Lahannya tak luas.
Misal lahan yang dikelola Tandabaca, tanaman jagungnya kurang lebih setengah kilo gram saja. Itupun ditanami tak intens. Terkadang berganti dengan tanaman lain.
[irp]
Karenanya, memasang setrum masih dianggap sebagai "pemborosan". Lagi pula selama ini, ladang tersebut tak tersentuh oleh hama babi hutan.
Ladangnya dikelilingi persawahan, pun tak terlalu jauh dari permukiman warga. Ditambah pula banyak masyarakat yang memelihara anjing. Jadi, cenderung dianggap aman.
Namun, hal yang paling dianggap aman, rupanya menyimpan potensi ancaman yang tak terduga. Lahan jagung TB selama ini aman dari jangkauan hama babi, tetiba pada suatu waktu, entah kapan mulai ditengoki palampa bangngi itu.
Suara gonggongan anjing dan musik sepertinya tak cukup ampuh membuatnya takut. Jadinya, kami mencoba mencegahnya dengan cara simpa dan juga memasang kapur barus pada sebanyak mungkin. Bau kapur barus yang menyengat, konon tak disukai oleh babi hutan.
Simpa adalah cara tradisional yang cukup menguras waktu, tenaga, dan lelap. Sebabnya, ladang ladang yang ditanami jagung harus dijenguki, terkadang satu hingga tiga kali semalam. Tapi, kami melakukannya hanya sekali saja, saat jam menunjukkan angka 21 lewat sekian menit.
[irp]