Penasaran, Inilah 6 Sosok Penerima Penghargaan Konservasi di Hari Kehati 2019

Klikhijau.com – Saya harus akui, tempat penyelenggaraan hari perayaan keanekaragaman hayati (Kehati) 2019 mengagetkan saya. Tak pernah ada dalam bayangan saya jika di jalan Makam Pahlawan terdapat seb...

Penasaran, Inilah  6 Sosok Penerima Penghargaan Konservasi di Hari Kehati 2019
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com – Saya harus akui, tempat penyelenggaraan hari perayaan keanekaragaman hayati (Kehati) 2019 mengagetkan saya. Tak pernah ada dalam bayangan saya jika di jalan Makam Pahlawan terdapat sebuah hotel yang  mengesankan.

Jika saja bukan karena perayaan Kehati yang digelar oleh Balai Besar KSDAE Sulawesi Selatan, barangkali saya tak akan menemukan hotel tersebut.

Peringatan hari Kehati yang jatuh pada 22 Mei, bukan hanya tempatnya yang mengagetkan, tetapi juga orang-orang yang datang, mereka mengabdikan dirinya melindungi dan melestarikan Kehati Indonesia.

Namun, ada 6 orang yang membuat saya tercengang. Keenamnya diberi penghargaan oleh Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia karena pengabdiannya yang tak kenal menyerah merawat dan melestarikan Kehati.

Jika kamu penasaran, inilah 6 orang yang merelakan hidupnya memperjuangkan Kehati agar tetap setia berada di bumi pertiwi, tak mengalami kepunahan:



  • Herman Opy Sanda



Lelaki kelahiran Makale, Tana Toraja ini  adalah pemilik Bus Primadona, ia mengkampanyekan Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) yang dilindungi dengan cara menampilkan gambarnya di armada bus Primadona miliknya.

Satwa yang ditampilkan antara lain, burung rangkong yang merupakan burung endemik di Pulau Sulawesi dan  burung maleo, buaya muara,   harimau sumatera, macan tutul jawa, burung cenderawasih, burung maleo, burung elang jawa,burung jalak bali, komodo, anoa, burung rangkong, merak, badak, ikan parimanta

Bagi Opy, begitu biasa ia dipanggil, bus milikinya akan selalu bertema hewan. Itu sebagai bentuk kecintaannya terhadap satwa.



  • Muh. Yusri



Ia merupakan Ketua Sahabat Penyu Pantai Mampie Poliwali, Sulawesi Barat. Ide pelestarian penyu yang dilakukannya berawal dari maraknya perdagangan penyu di daerahnya.  Pada tahun 1999, Tanjung Mampie merupakan salah satu tempat penampungan Penyu untuk dijual ke Pulau Bali menggunakan kapal nelayan.

Aktivitas perdagangan penyu seperti itu terus terjadi hingga tahun 2010 di Mampie. Dari situlah ia mencoba melakukan upaya penyelamatan telur penyu, namun sering gagal karen kurangnya pengetahuan yang dimiliki.

Yusri enggan menyerah pada kegagalan, dengan menggunakan dana pribadi, ia melakukan aktivitas perlindungan penyu melalui komunitas Sahabat Penyu. Ia telah memulai aktivitas ini sejak 2005 silam melalui sistem adopsi lubang.

Adopsi lubang adalah aktivitas membeli lubang-lubang penyu yang ditemukan warga. Berkat perjuangannya, kini pantai konservasi Sahabat Penyu mulai ramai dikunjungi pengunjung, khususnya di hari libur.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2