Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Olahraga dan Kesehatan

Olahraga Bantu Jaga Kesehatan Mental dan Kurangi Depresi saat Menopause

Oleh Tim Redaksi 14 Oct 2026 20:22 5 menit baca

Klikhijau.com – Menopause merupakan fase alami dalam kehidupan wanita yang tidak bisa dihindari. Pada masa ini, perempuan mengalami berbagai perubahan dalam tubuh, termasuk perubahan suasana hati, kecemasan, hingga kesulitan mengingat sesuatu.

Jika tidak ditangani dengan baik, berbagai gejala tersebut dapat memengaruhi kesehatan mental dan meningkatkan risiko depresi. Karena itu, wanita perlu mengetahui cara yang tepat untuk menghadapi masa menopause agar tetap sehat secara fisik maupun mental.

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah melalui terapi hormon. Metode ini dapat membantu mengurangi sejumlah gejala menopause. Namun, terapi hormon tidak cocok untuk semua perempuan, terutama mereka yang memiliki riwayat kanker tertentu karena penggunaannya dapat menimbulkan risiko kesehatan.

Sebagai alternatif, olahraga bisa menjadi pilihan untuk membantu menjaga kesehatan mental selama menopause. Aktivitas seperti berjalan kaki, berlari, menari, hingga melakukan yoga dapat membantu memperbaiki suasana hati dan mengurangi gejala depresi. Selain olahraga, terapi bicara juga dapat membantu perempuan menghadapi perubahan emosional selama masa ini.

Masalah menopause perlu mendapat perhatian serius karena dampaknya terhadap kesehatan bisa cukup besar jika tidak ditangani dengan tepat.

Dilansir dari Earth, sebuah penelitian menemukan bahwa perempuan yang rutin berolahraga di sekitar masa menstruasi terakhir mereka cenderung mengalami gejala depresi yang lebih ringan. Mereka juga memiliki kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan perempuan yang tidak mengikuti program olahraga serupa.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Menopause ini dipimpin oleh Simone Saidel, seorang psikolog klinis yang bekerja di National Health Service (NHS), Inggris. Penelitian tersebut dilakukan saat ia berada di University College London (UCL), bersama sejumlah peneliti dari UCL dan Loughborough University.

Saidel menjelaskan bahwa pilihan pengobatan untuk mengatasi gejala menopause masih terbatas. Selain itu, tidak semua perempuan dapat atau ingin menjalani terapi hormon. Oleh karena itu, diperlukan pilihan lain yang bisa membantu mereka melewati masa menopause dengan lebih baik.

Teliti ribuan wanita

Untuk mengetahui manfaat olahraga terhadap kesehatan mental selama menopause, para peneliti menelusuri lima basis data penelitian dan menemukan 1.782 catatan. Setelah melalui proses penyaringan, hanya 12 uji coba acak yang memenuhi kriteria penelitian mereka.

Studi-studi yang diterbitkan antara 2011 dan 2024 tersebut melibatkan 1.003 wanita berusia 40 hingga 65 tahun. Para peserta sedang berada dalam masa perimenopause, yaitu masa peralihan menuju menopause, atau lima tahun pertama setelah menstruasi terakhir mereka.

Penelitian ini melibatkan tim dari tujuh negara, mulai dari Brasil hingga Korea Selatan. Dalam setiap uji coba, para peneliti membandingkan program olahraga dengan perawatan biasa atau aktivitas lainnya. Program tersebut berlangsung selama enam minggu hingga enam bulan.

Jenis olahraga yang diteliti cukup beragam. Ada olahraga aerobik, seperti berjalan kaki dan menari, serta aktivitas yang lebih ringan, seperti yoga, tai chi, Pilates, dan peregangan. Aktivitas tersebut tidak hanya melatih tubuh, tetapi juga membantu mengatur pernapasan dan meningkatkan kesadaran terhadap kondisi tubuh.

Olahraga dapat mengurangi gejala depresi

Dari seluruh penelitian yang ditinjau, tim peneliti berhasil menggabungkan data skor depresi dari lima uji coba yang melibatkan 374 perempuan.

Hasilnya menunjukkan bahwa wanita yang mengikuti program olahraga mengalami gejala depresi yang lebih ringan dibandingkan kelompok pembanding. Manfaat ini terlihat pada perempuan yang sedang berada dalam masa perimenopause maupun mereka yang telah memasuki masa menopause.

Olahraga aerobik, seperti berjalan kaki dan menari, menunjukkan hasil yang cukup konsisten dalam membantu mengurangi gejala depresi. Dalam dua penelitian kecil yang melibatkan total 86 perempuan, aktivitas aerobik juga terbukti berkaitan dengan perbaikan suasana hati.

Para peneliti menduga manfaat tersebut salah satunya berasal dari endorfin, yaitu zat kimia yang diproduksi tubuh saat beraktivitas fisik dan berhubungan dengan perasaan yang lebih baik.

Selain itu, sebagian besar program olahraga dilakukan dengan pendampingan. Banyak di antaranya juga menggunakan metode kelompok sehingga peserta dapat berinteraksi, saling mendukung, dan membangun hubungan sosial.
Dukungan seperti ini dinilai penting karena dapat membantu perempuan merasa lebih nyaman dan meningkatkan kualitas hidup selama menopause.

Manfaat olahraga tidak hanya terlihat pada aktivitas yang membuat tubuh bergerak lebih aktif. Olahraga dengan intensitas lebih ringan, seperti yoga, tai chi, dan Pilates, juga menunjukkan hasil yang positif.

Dalam enam uji coba yang melibatkan 617 perempuan, para peneliti menilai kesejahteraan emosional peserta melalui kuesioner. Hasilnya, kelompok yang mengikuti yoga, tai chi, dan program serupa menunjukkan peningkatan kesejahteraan emosional.

Olahraga aerobik juga memberikan peningkatan pada aspek tersebut. Namun, hasilnya berbeda-beda di setiap penelitian sehingga manfaatnya belum dapat dipastikan dengan tingkat keyakinan yang sama.

Penelitian lain yang melibatkan 110 perempuan juga menunjukkan bahwa olahraga dapat membantu meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.

Temuan ini memperlihatkan bahwa setiap jenis olahraga mungkin memberikan manfaat emosional yang berbeda. Karena itu, perempuan sebaiknya memilih aktivitas yang sesuai dengan kondisi fisik, kebutuhan, dan kesukaan masing-masing.

Bagi perempuan yang memiliki jadwal padat, olahraga aerobik juga bisa menjadi pilihan karena beberapa programnya dapat dilakukan dengan jumlah sesi yang lebih sedikit.

Olahraga penyelamat menopause

Menurut Saidel, tenaga kesehatan dapat menyarankan olahraga sejak awal munculnya gejala menopause. Olahraga juga dapat dilakukan bersamaan dengan perawatan medis atau terapi bicara, sesuai dengan kebutuhan masing-masing perempuan.

Ia menilai penelitian ini dapat memperluas pilihan penanganan gejala menopause, terutama bagi perempuan yang tidak dapat atau tidak ingin menjalani terapi hormon.

Meski demikian, hasil penelitian ini tetap perlu dipahami secara hati-hati. Sebanyak 10 dari 12 uji coba yang ditinjau memiliki risiko bias yang tinggi. Hal ini disebabkan, antara lain, peserta mengetahui apakah mereka mengikuti kelompok olahraga dan menilai sendiri gejala yang mereka alami. Beberapa penelitian juga memiliki kekurangan dalam pengumpulan data.

Dengan demikian, olahraga menunjukkan potensi sebagai salah satu cara untuk membantu menjaga kesehatan mental dan mengurangi gejala depresi selama menopause. Namun, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan seberapa besar manfaatnya dan jenis olahraga apa yang paling sesuai bagi setiap perempuan.

Pada akhirnya, wanita yang sedang menghadapi menopause dapat mulai mempertimbangkan aktivitas fisik secara teratur sesuai dengan kemampuan tubuhnya. Dengan pilihan olahraga yang tepat dan dukungan yang memadai, masa menopause dapat dijalani dengan lebih nyaman.

Topik terkait
olahraga menopause kesehatan mental depresi