Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Berita Lingkungan

Ngeri, Perdagangan Tumbuhan dan Satwa Liar Jauh Lebih Liar dari Perkiraan

Oleh Tim Redaksi 02 Nov 2026 16:40 5 menit baca

 

Klikhijau.com – Episode terakhir perdagangan tumbuhan dan satwa liar rasanya masih tak tersentuh. Terus berlanjut dengan jumlah yang tak terkira. Jumlahnya secara global pun tak tertebak.

Sebagai gambaran, sebagaimana dikutip dari laman interpol bahwa pada Operasi Thunder 2025  dari tanggal 15 September hingga 15 Oktober, lembaga penegak hukum yang terdiri dari polisi, bea cukai, keamanan perbatasan, dan otoritas kehutanan dan satwa liar dari 134 negara melakukan total 4.640 penyitaan.

Menurut laman Interpol itu, jumlah penyitaan tersebut memecahkan rekor, puluhan ribu hewan dan tumbuhan yang dilindungi terungkap. Juga ada puluhan ribu meter kubik kayu hasil penebangan ilegal, serta lebih dari 30 ton spesies yang diklasifikasikan sebagai spesies yang terancam punah berdasarkan Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Hewan dan Tumbuhan Liar yang Terancam Punah (CITES).

Itu hanya bangian kecil dari yang tercatat. Menurut  The Guardian yang mempublikasikan studi terbaru bahwa jumlah tumbuhan dan hewan yang dijual dalam perdagangan satwa liar dua kali lipat dari yang diperkirakan sebelumnya.

Studi tersebut mengungkapkan, lebih dari 100.000 spesies diperdagangkan secara global, baik melalui penyelundupan ilegal, dijual sebagai ornamen, atau di industri perikanan, kayu, dan mode.

Sebuah studi di jurnal Science Advances menyadarkan kita akan adanya celah besar dalam permainan perdagangan satwa liar secara global. Klaim lama dinilai tidak lagi relevan dengan perkembangan saat ini, terutama maraknya pasar daring untuk hewan eksotis.  Kemudahan akses internet memungkinkan penjual menawarkan pengiriman telur laba-laba secara global atau menyelundupkan reptil ke pesawat hanya dalam satu klik saja.

“Dimensi perdagangan telah berubah. Tanpa memantaunya secara representatif, kita tidak dapat mengelolanya,” kata Alice Hughes, seorang profesor di Universitas Melbourne dan penulis utama studi tersebut.

Hughes menambahkan bahwa saat ini, kita benar-benar meremehkan seperti apa perdagangan modern itu. Untuk perdagangan hewan peliharaan dan perdagangan tanaman hias, kita tidak menangkapnya. Dan itu menimbulkan risiko besar bagi spesies.

Temuan studi ini mengemuka saat Center for Biological Diversity (AS) mengajukan petisi perlindungan hukum bagi kelelawar berwajah celah Jawa yang terancam punah akibat tingginya perburuan untuk dekorasi gothic Halloween dan Natal di AS.

Studi perdagangan satwa liar ini memperkirakan sebanyak 107.356 spesies diperdagangkan secara global, dua kali lipat lebih tinggi dari proyeksi awal IPBES sebesar 50.000 spesies.

Ada keterbatasan pemahaman global

Studi ini memanfaatkan basis data yang lebih komprehensif serta mengintegrasikan publikasi ilmiah terbaru mengenai perdagangan spesies secara daring untuk kebutuhan dekorasi.

Hasilnya mengindikasikan adanya keterbatasan pemahaman global terkait tingkat kerentanan spesies. Misalnya  volume spesies kupu-kupu yang diperjualbelikan melampaui total estimasi IPBES untuk seluruh invertebrata darat.

Pejabat program pemanfaatan dan perdagangan satwa liar di IUCN sekaligus  salah satu penulis studi ini, Molly Brown menyatakan bahwa temuan tersebut menjadi evaluasi penting yang mencerminkan realita lapangan.

 “Jumlah spesies yang kita bicarakan masih merupakan perkiraan yang kurang tepat, dan itu sangat jelas dalam makalah tersebut, karena kita tidak dapat mengakses dan kita tidak memiliki jenis data pemantauan yang benar-benar kita butuhkan,” katanya.

Persoalan perdagangan satwa liar tidak hanya berhenti pada aktivitas kriminal, semisal penyelundupan gading atau sisik trenggiling secara ilegal. Lebih dari itu, perdagangan satwa liar mencakup berbagai sektor seperti perikanan dan perdagangan kayu, serta mode dan penjualan spesies sebagai ornamen. Ini termasuk aktivitas yang mungkin berkelanjutan, serta perdagangan yang mendorong spesies menuju kepunahan.

“Bahkan menilai nilai perdagangan legal dibandingkan dengan perdagangan ilegal pun merupakan tantangan. Kurangnya regulasi dalam perdagangan satwa liar telah menciptakan celah yang memungkinkan spesies, termasuk hewan peliharaan eksotis yang banyak dicari, untuk "dicuci agar menjadi legal", kata para peneliti.

Empat tahun lalu, hampir 200 negara sepakat untuk memastikan bahwa perdagangan spesies liar bersifat “berkelanjutan, aman, dan legal”, sebagai bagian dari serangkaian target penting yang bertujuan untuk mengakhiri perusakan alam. Upaya untuk mencapai target ini terhambat oleh kurangnya data tentang apa yang dijual dan dari mana asalnya.

Hughes menegaskan bahwa data utama untuk mengukur kemajuan dalam mencapai target perdagangan satwa liar yang disepakati secara global hanya merujuk pada stok ikan, yang paling banyak hanya mencakup 3% dari seluruh spesies yang diperdagangkan.

Para ahli menyarankan perlu adanya pengumpulan dan berbagi data yang lebih sistematis. Secara global, perikanan dipantau oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa, sementara Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Hewan dan Tumbuhan Langka (CITES) memantau dan mengatur perdagangan internasional sekitar 40.000 spesies untuk melindungi mereka dari eksploitasi berlebihan.

Namun, para peneliti mengatakan bahwa hal ini mengecualikan sejumlah besar spesies yang berpotensi rentan, dan memperingatkan bahwa sistem CITES terlalu lambat untuk mengikuti tren baru dalam ancaman terhadap satwa liar. Sebagian besar negara tidak memiliki data sistematis di luar CITES, kata studi tersebut.

 “Terkadang, dibutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum suatu spesies terdaftar, dan itu berarti spesies tersebut hampir punah di alam liar pada saat itu,” kata Hughes.

Spesies yang baru dideskripsikan seringkali langka dan memiliki wilayah sebaran yang kecil, artinya spesies tersebut sangat berharga untuk diperdagangkan, dan dapat dengan cepat punah.

Chris Shepherd, seorang advokat konservasi di Centre for Biological Diversity, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, menambahkan bahwa ia telah mengamati perdagangan satwa liar selama beberapa dekade dan bahwa spesies baru terus bermunculan.

“Permintaan akan satwa liar, terutama satwa liar hidup yang diperdagangkan sebagai hewan peliharaan, meningkat pesat, begitu pula jumlah spesies yang terlibat,” katanya.

“Perdagangan ini mendorong semakin banyak spesies menuju kepunahan, dan oleh karena itu, penerapan mekanisme untuk memantau perdagangan ini dengan lebih baik sangat penting,” tutupnya.

Jika tidak ada tindakan nyata dan kesadaran global akan pentingnya peran tumbuhan dan satwa liar terhadap kehidupan ini, maka episode perdagangan tumbuhan dan satwa hanya akan tamat ketika semuanya telah punah.

Dari The Guardian